10 Mitos Populer yang Masih Dipercaya di Jawa Timur

10 Mitos Populer yang Masih Dipercaya di Jawa Timur

Myesha Fatina Rachman - detikJatim
Rabu, 21 Okt 2026 12:15 WIB
Arti Mitos Burung Gagak Berputar di Atas Rumah, Benarkah Pertanda Kabar Duka?
Burung gagak hitam berputar di atas rumah. Foto: Greg Rosenke/Unsplash
Surabaya -

Jawa Timur memiliki beragam tradisi dan kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Di tengah kekayaan budaya tersebut, ada pula berbagai mitos yang berkembang melalui cerita lisan dan masih dikenal oleh sebagian masyarakat hingga sekarang.

Mitos merupakan cerita atau kepercayaan yang berkaitan dengan hal-hal gaib, asal-usul suatu fenomena, hingga pantangan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Jawa, mitos kerap disampaikan orang tua kepada anak-anak sebagai nasihat atau pengingat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mitos Masyarakat Jawa

Meski demikian, tidak semua mitos yang dipercaya masyarakat Jawa tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah. Lantas, apa saja mitos populer yang masih dikenal di Jawa Timur? Berikut daftar lengkapnya.

1. Burung Gagak Hitam Dianggap Pertanda Kematian

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, burung gagak hitam kerap dikaitkan dengan kematian. Konon, suara burung gagak hitam yang terdengar menjelang waktu magrib dianggap sebagai pertanda akan datangnya kabar duka.

ADVERTISEMENT

Ada pula kepercayaan bahwa burung gagak mendekati orang yang akan meninggal karena mencium bau khas tubuhnya. Kepercayaan ini dikaitkan dengan kebiasaan gagak yang dikenal sebagai burung pemakan bangkai. Namun, anggapan tersebut merupakan mitos, bukan fakta ilmiah.

Suara burung gagak juga tidak dapat dijadikan pertanda bahwa seseorang akan meninggal. Anggapan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional yang berkembang dan diwariskan secara turun-temurun di masyarakat.

2. Menyapu Malam Hari Bisa Menghambat Rezeki

Mitos larangan menyapu pada malam hari cukup dikenal dalam masyarakat Jawa. Kegiatan tersebut dipercaya dapat menghambat datangnya rezeki dan mengganggu ketenteraman rumah tangga.

Pada masa lalu, larangan ini mungkin berkaitan dengan penerangan yang terbatas. Sehingga ada kemungkinan barang berharga ikut terbuang saat menyapu. Terlepas dari kepercayaan itu, pantangan ini menjadi salah satu mitos rumah tangga yang masih diwariskan turun temurun.

3. Duduk di Depan Pintu Bisa Menghalangi Jodoh

Sebagian masyarakat Jawa mengenal mitos perempuan yang duduk di depan pintu dipercaya akan kesulitan mendapat jodoh. Nasihat ini kerap disampaikan kepada anak perempuan ketika mereka duduk di ambang pintu rumah.

Di luar kepercayaan tersebut, larangan duduk di depan pintu dapat dipahami sebagai nasihat agar seseorang tidak menghalangi jalan keluar dan masuk penghuni rumah maupun tamu.

Mitos ini dapat dipahami sebagai nasihat untuk menjaga etika dan kenyamanan bersama. Namun, tidak ada bukti bahwa kebiasaan duduk di depan pintu mempengaruhi peluang seseorang mendapatkan pasangan. Anggapan tersebut merupakan kepercayaan turun-temurun

4. Keluar Rumah Menjelang Magrib Bisa Diculik Makhluk Halus

Anak-anak yang masih bermain di luar rumah menjelang magrib mungkin pernah diminta segera pulang. Salah satu alasan yang dikenal dalam cerita masyarakat Jawa adalah kepercayaan bahwa makhluk halus, termasuk wewe gombel, dapat menculik anak-anak yang masih berkeliaran pada waktu tersebut.

Dalam kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, waktu magrib juga dianggap sebagai waktu yang perlu dihormati karena menandai peralihan waktu siang menuju malam.

Terlepas dari mitos tersebut, terdapat pesan agar anak-anak tidak terlalu lama bermain di luar rumah, terutama ketika hari mulai gelap. Orang tua dapat lebih mudah mengawasi anak dan mengurangi risiko kecelakaan atau tersesat ketika kondisi mulai gelap.

5. Kerokan Dipercaya Bisa Menyembuhkan Masuk Angin

Kerokan merupakan salah satu pengobatan tradisional yang masih dikenal luas di masyarakat Jawa. Ketika mengalami pegal-pegal, perut kembung, mual, atau badan tidak nyaman, sebagian orang menganggap kondisi tersebut sebagai masuk angin dan memilih melakukan kerokan.

Praktik ini biasanya dilakukan dengan menggosok permukaan kulit menggunakan benda tertentu setelah diberi minyak. Bekas kemerahan yang muncul sering dianggap sebagai tanda bahwa angin telah keluar dari tubuh.

Namun, istilah masuk angin bukan diagnosis medis yang spesifik, dan kerokan tidak terbukti mengeluarkan angin dari tubuh. Gejala yang dialami seseorang dapat memiliki berbagai penyebab sehingga perlu diperhatikan jika berlangsung lama atau semakin berat.

6. Suami Dilarang Memancing Ketika Istri Hamil

Mitos lain yang dikenal dalam masyarakat Jawa adalah larangan bagi suami untuk memancing ketika istrinya sedang mengandung. Konon, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan bayi lahir dengan kondisi tertentu, termasuk bibir sumbing.

Kepercayaan ini menghubungkan aktivitas memancing dengan kondisi bayi yang belum lahir. Namun, tidak ada bukti ilmiah bahwa suami yang memancing dapat menyebabkan bibir sumbing pada anak.

Bibir sumbing merupakan kondisi yang terbentuk selama perkembangan janin dan dapat dipengaruhi berbagai faktor genetik maupun lingkungan. Mitos ini menunjukkan bagaimana sebagian masyarakat dahulu menggunakan pantangan untuk mengatur perilaku selama kehamilan.

7. Kembang Kantil Dipercaya Memiliki Kekuatan Gaib

Kembang kantil merupakan bunga yang dikenal dalam berbagai upacara dan tradisi masyarakat Jawa. Selain digunakan untuk keperluan adat, bunga ini juga dikaitkan dengan sejumlah kepercayaan.

Sebagian masyarakat mempercayai kembang kantil dapat digunakan sebagai media penolak santet, sarana ritual untuk memanggil makhluk halus, atau penangkal sawan pada bayi dan anak-anak.

Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat secara turun-temurun, dan tidak dapat dianggap sebagai fakta mengenai khasiat gaib bunga kantil.

8. Memakai Baju Hijau di Pantai Selatan Bisa Mendatangkan Malapetaka

Pantai selatan Pulau Jawa, termasuk sejumlah kawasan pesisir di Jawa Timur, dikenal dengan cerita tentang Nyi Roro Kidul. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, sosok tersebut dianggap sebagai penguasa laut selatan.

Salah satu mitos yang berkembang adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau ketika berkunjung ke pantai selatan. Warna tersebut dipercaya berkaitan dengan Nyi Roro Kidul sehingga orang yang melanggar pantangan dikhawatirkan mengalami musibah.

Terlepas dari mitos tersebut, pengunjung tetap perlu mengutamakan keselamatan saat berada di pantai. Arus laut yang kuat, ombak tinggi, dan kondisi perairan yang berubah-ubah dapat membahayakan pengunjung.

9. Bersiul Malam Hari Bisa Memanggil Makhluk Halus

Dalam sejumlah cerita masyarakat Jawa, bersiul pada malam hari dipercaya dapat memanggil makhluk halus. Pantangan ini kerap disampaikan kepada anak-anak agar tidak bersiul ketika suasana sudah sepi. Kepercayaan tersebut berkaitan dengan pandangan tradisional yang menghubungkan suasana malam dengan dunia gaib.

Namun, bersiul tidak terbukti dapat memanggil makhluk halus. Dari sisi kehidupan sehari-hari, larangan ini dapat dipahami sebagai nasihat untuk menjaga ketenangan lingkungan, terutama ketika orang lain sedang beristirahat.

10. Duduk di Atas Bantal Bisa Menyebabkan Bisulan

Mitos duduk di atas bantal juga cukup dikenal dalam masyarakat Jawa. Anak-anak biasanya dilarang melakukan kebiasaan tersebut karena dipercaya dapat menyebabkan bisul.

Larangan ini mungkin menjadi cara orang tua mengajarkan anak untuk menjaga kebersihan dan menggunakan barang sesuai fungsinya. Bantal yang digunakan untuk tidur sebaiknya tetap bersih agar nyaman dan higienis.

Secara medis, bisul merupakan infeksi pada folikel rambut yang umumnya disebabkan bakteri. Kondisi ini bukan akibat langsung dari kebiasaan duduk di atas bantal. Karena itu, menjaga kebersihan kulit dan barang yang digunakan sehari-hari penting untuk membantu mengurangi risiko infeksi kulit.

Beragam mitos yang dikenal di Jawa Timur menjadi bagian dari cerita dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Di balik sejumlah pantangan tersebut, terselip pesan tentang kesopanan, kebersihan, dan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads