Pemberian pisang kepada bayi yang terus menangis, masih menjadi kebiasaan dan menjadi mitos sebagian masyarakat. Padahal, pemberian makanan selain air susu ibu (ASI) kepada bayi berusia di bawah enam bulan, berisiko menimbulkan gangguan kesehatan karena sistem pencernaannya belum siap menerima makanan pendamping ASI (MPASI).
Dokter spesialis anak subspesialis konsultan neonatologi, Dr. dr. Risa Etika, Sp.A(K), yang menjabat Ketua BP2 ASI IDAI Jatim periode 2024-2027, mengingatkan masyarakat untuk meninggalkan mitos tersebut. Menurutnya, bayi baru lahir hingga berusia enam bulan idealnya hanya mendapatkan ASI eksklusif, kecuali terdapat indikasi medis yang memerlukan penanganan khusus.
"Segera tinggalkan mitos, pisang itu karbohidrat murni, bahaya jika diberikan ke bayi di bawah usia 6 bulan, karena ususnya belum matur dan belum bisa mencerna karbohidrat murni," kata Dokter Risa saat dihubungi detikJatim, Kamis (15/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, pemberian pisang kepada bayi yang belum berusia enam bulan dapat memicu gangguan pencernaan. Dalam kondisi serius, bayi bisa mengalami perut kembung, kesulitan buang angin, sesak napas, hingga penurunan kesadaran yang membutuhkan penanganan medis segera.
"Perut bayi bisa mendadak sangat kembung, tidak bisa flatus (buang angin), sesak napas, kondisi drop atau kesadaran turun, jika tidak segera dioperasi bayi bisa meninggal," ujarnya.
Dokter Risa menegaskan, ASI eksklusif merupakan sumber nutrisi ideal bagi bayi sejak lahir hingga berusia enam bulan. Pemberian asupan lain sebelum waktunya perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
"Nutrisi ideal yang wajib untuk Bayi Baru Lahir sampai bayi berusia 6 bulan hanya ASI eksklusif," terangnya.
Ada sejumlah alasan bayi dianjurkan mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. Pertama, periode tersebut merupakan masa penting bagi perkembangan otak bayi. Kedua, ASI mengandung antibodi, termasuk imunoglobulin A, yang berperan dalam melindungi saluran pernapasan dan pencernaan bayi dari infeksi.
Ketiga, sistem pencernaan bayi masih berkembang sehingga belum siap menerima makanan pendamping ASI sebelum usia enam bulan. Pemberian makanan atau minuman selain ASI tanpa indikasi medis berisiko memicu gangguan pencernaan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Dokter Risa juga mengingatkan bahwa pemberian berbagai asupan selain ASI kepada bayi baru lahir, seperti air gula, air tajin, air kelapa, pisang, lontong yang dilembutkan, kopi, hingga telur, dapat berisiko menimbulkan gangguan serius pada saluran pencernaan.
"Misal bayi baru lahir diberi selain ASI, seperti air gula, air tajin, air kelapa, pisang dan lontong yang dilembutkan, kopi, telur dan lainnya akan bahaya dan terjadi Akut Abdomen (Ileus Paralytic, Ileus Obtructive, Invaginasi, Phytobezoar), yang biasanya memerlukan tindakan bedah (operasi cito) dan sering berakhir dengan kematian," tekannya.
Gangguan tersebut dapat berkembang menjadi kondisi kegawatdaruratan abdomen atau gangguan serius pada rongga perut yang membutuhkan penanganan segera, termasuk kemungkinan tindakan operasi sesuai kondisi medis bayi.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak memberikan makanan atau minuman selain ASI kepada bayi di bawah usia enam bulan hanya karena bayi menangis atau dianggap masih lapar. Jika bayi terus menangis, orang tua sebaiknya mencari tahu penyebabnya dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, alih-alih memberikan makanan yang belum sesuai dengan usianya.
