- Mitos-mitos Gunung Lawu 1. Pasar Setan 2. Larangan Mengenakan Pakaian Hijau 3. Mitos Burung Jalak Lawu Sebagai Penunjuk Jalan 4. Larangan Pendaki Berjumlah Ganjil 5. Gunung Lawu Diyakini Memiliki Nyawa 6. Larangan Warga Cepu Mendaki Gunung Lawu 7. Petilasan Prabu Brawijaya V 8. Sumur Wudu dan Watu Tumpang yang Dianggap Sakral 9. Penampakan Kuntilanak di Pos Pendakian
Gunung Lawu merupakan salah satu gunung di Pulau Jawa yang dikenal dengan keindahan alam sekaligus berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Cerita-cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi serta kepercayaan lokal yang menyelimuti gunung ini.
Gunung ini juga menjadi tujuan pendakian karena memiliki daya tarik alam dan sejumlah tempat yang populer di kalangan pendaki, termasuk Warung Mbok Yem. Secara administratif, kawasan Gunung Lawu berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, serta Kabupaten Ngawi dan Magetan, Jawa Timur.
Mitos-mitos Gunung Lawu
Di baik popularitasnya, terdapat sejumlah mitos yang kerap dikaitkan dengan pengalaman pendakian dan kisah Prabu Brawijaya V. Berikut enam mitos Gunung Lawu yang berkembang di masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Pasar Setan
Pasar Setan atau dikenal juga sebagai Pasar Dieng merupakan salah satu mitos yang populer di Gunung Lawu. Tempat ini dipercaya sebagai pasar gaib yang dihuni makhluk tak kasatmata.
Menurut cerita yang berkembang, pendaki terkadang mendengar suara seperti keramaian pasar, termasuk suara orang yang sedang berjualan. Meskipun tidak melihat aktivitas perdagangan secara langsung. Suara tersebut konon lebih sering terdengar pada malam tertentu, termasuk malam Jumat Kliwon.
Dalam kepercayaan masyarakat, pendaki yang mendengar suara seolah-olah sedang ditawari barang dianjurkan untuk meresponsnya dengan melemparkan uang dan memetik daun sebagai transaksi. Cerita ini merupakan bagian dari kepercayaan setempat dan tidak dapat dipastikan sebagai kejadian gaib.
2. Larangan Mengenakan Pakaian Hijau
Mitos lain yang dikenal pendaki adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau saat mendaki Gunung Lawu. Warna tersebut dipercaya memiliki kaitan dengan dunia gaib sehingga dianggap keramat di kawasan gunung ini. Pendaki yang mengabaikan larangan tersebut dikhawatirkan mengalami gangguan selama perjalanan.
Larangan ini merupakan bagian dari mitos lokal, bukan aturan keselamatan pendakian yang terbukti secara ilmiah. Pendaki tetap perlu memperhatikan perlengkapan yang sesuai dengan kondisi cuaca, medan, dan kebutuhan keselamatan selama perjalanan.
3. Mitos Burung Jalak Lawu Sebagai Penunjuk Jalan
Burung jalak Lawu dipercaya dapat membantu pendaki yang tersesat atau mengalami kesulitan menemukan arah. Dalam cerita masyarakat, burung ini terkadang digambarkan hinggap di dekat pendaki atau terbang ke arah tertentu seolah-olah menunjukkan jalan.
Kepercayaan tersebut berkaitan dengan kisah Kyai Jalak, sosok yang dalam legenda Gunung Lawu disebut sebagai salah satu abdi Prabu Brawijaya V bernama Wangsa Menggala. Ia dipercaya menjelma menjadi burung jalak, yang kerap dikaitkan dengan burung jalak gading.
4. Larangan Pendaki Berjumlah Ganjil
Sebagian masyarakat meyakini bahwa pendaki Gunung Lawu sebaiknya tidak berangkat dengan jumlah anggota ganjil. Kepercayaan ini juga ditemukan dalam cerita mengenai sejumlah gunung lain di Indonesia.
Rombongan berjumlah ganjil dikhawatirkan akan digenapkan oleh makhluk tak kasatmata. Cerita tersebut berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap angka ganjil dan keberadaan dunia gaib.
5. Gunung Lawu Diyakini Memiliki Nyawa
Mitos berikutnya menyebutkan bahwa Gunung Lawu seolah-olah memiliki nyawa dan dapat mengetahui perilaku manusia yang berada di dalamnya. Dalam kepercayaan masyarakat, gunung ini dianggap akan memberikan balasan kepada orang yang melakukan tindakan tidak pantas.
Cerita tersebut mengandung pesan agar setiap orang menjaga perilaku ketika berada di kawasan gunung. Pendaki diharapkan menghormati lingkungan, tidak berkata atau bertindak sembarangan menurut norma setempat, serta tidak merusak alam.
6. Larangan Warga Cepu Mendaki Gunung Lawu
Ada pula mitos yang menghubungkan Gunung Lawu dengan warga Cepu, wilayah yang berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, orang yang berasal dari Cepu dipercaya memiliki larangan untuk mendaki gunung ini.
Mitos tersebut berkaitan dengan legenda Prabu Brawijaya V yang konon mengasingkan diri ke Gunung Lawu. Dalam cerita yang beredar, Adipati Cepu bersama pasukannya disebut mengejar sang raja. Peristiwa itu kemudian dikaitkan dengan sumpah Prabu Brawijaya V terhadap keturunan Adipati Cepu.
7. Petilasan Prabu Brawijaya V
Prabu Brawijaya V yang dikenal dalam tradisi lisan sebagai raja terakhir Majapahit, memiliki kaitan erat dengan mitos Gunung Lawu. Ia meninggalkan kerajaan dan menuju Gunung Lawu ketika Majapahit mengalami kemunduran.
Dalam cerita tersebut, Prabu Brawijaya V diyakini mengalami moksa, yakni menghilang dari dunia tanpa meninggalkan jasad. Karena kepercayaan ini, tempat yang dikaitkan dengan keberadaannya dipandang sakral oleh sebagian masyarakat.
Di kawasan Gunung Lawu terdapat petilasan yang dipercaya berkaitan dengan kisah tersebut. Petilasan itu bukan makam dalam pengertian umum, sebab menurut kepercayaan setempat, sang raja tidak meninggal di tempat tersebut, melainkan mengalami moksa.
8. Sumur Wudu dan Watu Tumpang yang Dianggap Sakral
Sejumlah tempat di Gunung Lawu dipercaya memiliki nilai spiritual bagi masyarakat dan pendaki. Dua di antaranya adalah sumur yang dikaitkan dengan kegiatan wudu serta Watu Tumpang, batu besar yang dipercaya sebagai tempat sakral.
Menurut kepercayaan yang berkembang, air dari sumur tersebut memiliki tuah, sedangkan Watu Tumpang dianggap berkaitan dengan keberadaan leluhur. Tempat-tempat ini terkadang dikunjungi oleh orang yang ingin berdoa, melakukan ritual, atau bermeditasi.
9. Penampakan Kuntilanak di Pos Pendakian
Mitos lain yang beredar berkaitan dengan penampakan kuntilanak di sekitar salah satu pos pendakian Gunung Lawu. Dalam cerita yang berkembang, sejumlah pendaki mengaku pernah melihat sosok misterius atau mendengar suara tangisan di kawasan tersebut.
Beragam mitos Gunung Lawu memperlihatkan hubungan antara cerita rakyat, tradisi, dan cara masyarakat memaknai lingkungan alam. Kisah Pasar Setan, Jalak Lawu, hingga Prabu Brawijaya V terus diceritakan dan menjadi bagian dari daya tarik budaya gunung ini.
