4 Generasi Menjaga Gamelan Jatirejo Nganjuk Bertahan 67 Tahun

4 Generasi Menjaga Gamelan Jatirejo Nganjuk Bertahan 67 Tahun

Eka Fitria Lusiana, Bakrie - detikJatim
Minggu, 18 Okt 2026 18:40 WIB
Usaha kerajinan gamelan di Nganjuk, Jawa Timur.
Usaha kerajinan gamelan di Nganjuk, Jawa Timur/Foto: Bakrie/detikJatim
Nganjuk -

Kerajinan Gamelan Mustika Laras di Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk sudah bertahan 67 tahun. Kini, usaha ini dilestarikan generasi keempat.

"Jadi Mustika Laras ini berdiri sejak Tahun 1959. Perintisnya adalah kakek buyut saya, Prawiro Gudel. Kemudian generasi kedua adalah Pak Nurhadi, Mbah saya. Itu tahun 80-an. Lalu 2008 diteruskan oleh ayah saya, Didik Adiyono. Nah, pada 2023, saya yang meneruskan bersama adik saya," ungkap Nilunda Arsyi Parahita ditemui detikJatim, Rabu (14/10/2026).

Gadis 23 tahun ini mengaku bangga bisa melestarikan kerajinan gamelan, yang sebelumnya ditekuni almarhum ayahnya. Dia di bagian pemasaran, adiknya Naufal, yang masih SMA, membantu proses produksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ayah dan ibu sudah kapundut (meninggal dunia). Jadi yang meneruskan saya dan adik saya. Berdua, sebagai generasi keempat," ucap Nilunda.

Usaha kerajinan gamelan di Nganjuk bertahan 67 tahunUsaha kerajinan gamelan di Nganjuk bertahan 67 tahun Foto: Bakrie

Meski tidak seramai dulu, pesanan gamelan di Kerajinan Gamelan Mustika Laras tetap bertahan. Bahkan, cakupan pasar Kerajinan Gamelan Mustika Laras tersebut diminati sampai luar negeri.

ADVERTISEMENT

"Paling banyak (pemesanan) dari Jawa Timur. Lalu luar Jawa, ada Kalimantan, Sumatera, Lampung. Kemudian luar negeri sudah menjangkau Singapura, Malaysia, Timor Leste, bahkan Australia pernah kirim ke sana,' ungkap Nilunda Arsyi Parahita ditemui detikJatim, Rabu (14/10/2026).

Nilunda yang merupakan generasi keempat Kerajinan Gamelan Mustika Laras ini menyebut bahwa pemesanan dari luar negeri lebih rumit ketimbang dalam negeri.

"Kalau dalam negeri kan jelas, nadanya sesuai pakem gamelan. Pentatonis. Nah, kalau yang luar negeri itu kan diatonis, jadi kayak nada keyboard gitu. Sehingga tuningnya berbeda dan harus teliti betul," papar Nilunda.

Menurut Nilunda, pemesanan model pentatonis dan diatonis, tidak menjadi masalah bagi Kerajinan Gamelan Mustika Laras. Karena usaha ini sudah berjalan 67 tahun.

"Jadi Mustika Laras ini berdiri sejak Tahun 1959. Perintisnya adalah kakek buyut saya, Prawiro Gudel. Kemudian generasi kedua adalah Pak Nurhadi, Mbah saya. Itu tahun 80-an. Lalu 2008 diteruskan oleh ayah saya, Didik Adiyono. Nah, pada 2023, saya yang meneruskan bersama adik saya," ungkapnya.

Menurutnya, paket yang biasa dipesan adalah paket gamelan untuk karawitan, wayangan hingga jaranan. Bahkan ada pemesan yang hanya setengah paket.

"Ada pesanan dari beberapa daerah di Jawa Timur, ada yang dari luar Jawa Timur, luar Pulau Jawa hingga mancanegara," ungkap dia.

Nilunda menyampaikan, dulunya, dalam satu bulan, Kerajinan Gamelan Mustika Laras bisa mendapat pesanan 5 sampai 8 set. Namun saat ini sebulan, rata-rata hanya satu set.

"Satu set gamelan mulai harga Rp 90 juta. Itu kalau bahannya standar besi puncu kuningan. Tapi banyak yang hanya pesan separoh set. Nah, kalau yang bahanya kuningan full, satu paket sampai Rp 300 juta," bebernya.

Nilunda yang merupakan Gen Z mengaku tidak akan pantang menyerah, meskipun kondisi pasar tidak menentu.

"Kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai Gen Z. Karena selain turut andil melestarikan budaya Jawa, Mustika Laras ini adalah usaha keluarga, jadi harus tetap ada," tambahnya.

Dia berharap pemerintah daerah maupun pusat bisa mengulurkan tangannya untuk terus melestarikan musik gamelan sebagai budaya Jawa.

"Kemudian, harapannya tentu, kami dibantu dalam hal pemasaran. Baik melalui festival-festival maupun pertukaran budaya," pungkasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads