Pertunjukan reog digelar Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya di Taman Bungkul, Surabaya, Sabtu (17/10/2026) malam. Masyarakat dari berbagai kalangan terlihat memadati area taman untuk menyaksikan grup reog Bathoro Kathong dari Rungkut, Surabaya.
Dalam penampilannya, Bathoro Kathong didukung lima grup reog lain di Surabaya, yakni Singo Sekar Budoyo, Singo Aska Wijoyo, Singo Kanoman Kuswantoro, Suro Bakti Budoyo, dan Sardulo Manggolo Putro.
Pementasan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama menampilkan reog versi garap, yakni reog dengan alur cerita atau sesuai pakem. Sesi kedua menampilkan reog versi obyok, yakni reog yang menghibur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu penonton, Dion (36), perantau asal Kediri yang datang bersama anak dan istrinya ke Taman Bungkul untuk menonton pertunjukan reog. Ia mengaku mendapat informasi pertunjukan tersebut dari TikTok.
"Awalnya tahu dari Tiktok, terus inisiatif sendiri buat malam mingguan ke sini," ujarnya.
Menurutnya, agenda pementasan kebudayaan bisa rutin digelar di Surabaya agar generasi muda dapat melestarikan warisan budaya Indonesia.
"Jadi anak-anak kan bisa lihat, nguri-nguri budoyo atau melestarikan budaya, biar tahu sejarah, cerita, dan lain sebagainya," kata Dion.
Antusiasme juga datang dari Indra (24) dan istrinya, yang awalnya hanya berniat jalan-jalan santai di Taman Bungkul. Pasangan muda ini tak menyangka ada pementasan reog dan memilih betahan untuk menikmati keseruan menonton reog.
"Ya bikin ramai sih, biasanya cuma jalan-jalan aja, enggak seramai ini. Ada pertunjukan ini malah makin seru," kata Indra.
Keduanya berharap pementasan budaya di ruang publik dapat digelar lebih sering untuk menghidupkan suasana kota.
"Bikin enak sih, kan biasanya jarang ada kayak gini. Apalagi kan malam Minggu juga, jadi ramai-ramainya orang," tambahnya.
Penonton lain yang hadir, Rina (29), mengaku sengaja datang ke Taman Bungkul khusus untuk menonton reog. Perempuan yang memiliki garis keturunan Ponorogo itu, mengapresiasi adanya pertunjukan seni yang disuguhkan oleh Disbudporapar Kota Surabaya.
"Ini sih enak, bisa mewujudkan seni di Surabaya jadi enggak mati," ujar Rina.
Ia juga menyampaikan, adanya kesenian di ruang publik saat malam minggu, dapat meningkatkan minat kalangan remaja terhadap budaya nusantara.
"Terus biar anak-anak muda itu enggak melulu tentang yang modern-modern seperti nongkrong aja. Padahal lihat budaya gini juga seru," katanya.
Rina berharap pertunjukan seni Reog Ponorogo ini bisa digelar berkala. "Bisa dirutinkan satu bulan sekali, atau semisal sudah jalan satu minggu sekali, itu sangat bagus," harapnya.
