Batik Lorog Pacitan, Warisan Petani dari Pesisir Selatan

Batik Lorog Pacitan, Warisan Petani dari Pesisir Selatan

Fathir Rofi - detikJatim
Jumat, 02 Okt 2026 11:00 WIB
batik pacitan
Batik Lorog Pacitan. Foto: Purwo Sumodiharjo/detikJatim
Surabaya -

Setiap 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Pada hari tersebut, batik tak hanya hadir sebagai pakaian yang dikenakan di sekolah, kantor, atau berbagai kegiatan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kain bermotif ini memiliki sejarah panjang dan berkembang di banyak daerah.

Salah satu warisan batik yang menarik untuk dikenali berasal dari pesisir selatan Jawa Timur. Di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, berkembang Batik Lorog atau Lorok yang memiliki karakter berbeda dari sentra batik besar seperti Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan.

Motifnya banyak mengambil inspirasi dari flora, fauna, serta bentang alam Pacitan. Di balik keunikannya, Batik Lorog juga memiliki perjalanan panjang, mulai dari jejak pembatikan sejak era kolonial hingga melewati masa sulit dan kembali berkembang lewat inovasi perajin lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak Awal Batik Lorog Pacitan

Perkembangan Batik Lorog tidak dapat dilepaskan dari wilayah Ngadirojo. Sentra batik Pacitan yang berada di kawasan Pegunungan Kidul diketahui terpusat di dua kecamatan, yakni Arjowinangun dan Ngadirojo.

Ngadirojo berjarak sekitar 34 kilometer di sebelah timur pusat Kota Pacitan. Di wilayah inilah aktivitas Batik Lorog berkembang, terutama di Desa Wiyoro, Bogoharjo, dan Cokrokembang.

ADVERTISEMENT

Menariknya, akar pembatikan di Lorog ternyata telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Menurut kajian Dinastuty Mulia dalam Jurnal AVATARA Universitas Negeri Surabaya (UNESA), embrio pembatikan di Lorog sudah muncul pada masa tersebut.

Dua perempuan bersaudara, E dan M Coenraad asal Surakarta, disebut sebagai tokoh yang berperan dalam perkembangan awal pembatikan di Lorog. Sekitar 1920-an, keduanya datang dari Surakarta ke Pacitan, dan mendirikan perusahaan batik yang mempekerjakan tenaga kerja lokal yang telah memiliki pengalaman membatik.

Meskipun bukti fisik peninggalan usaha Coenraad belum ditemukan, pengaruhnya masih dapat dilihat dari karakter batik yang berkembang setelahnya. Warna biru nilo dan cokelat soga yang identik dengan warna keraton turut mempengaruhi batik Lorog.

Selain warna, muncul pula perpaduan ornamen bunga bergaya Eropa dan Jawa. Pertemuan unsur tersebut menjadi salah satu bagian dari sejarah panjang yang membentuk karakter Batik Lorog.

Setelah era kolonial berakhir, tradisi membatik diteruskan oleh masyarakat lokal. Motif klasik keraton seperti Kawung, Sidoluhur, dan Parang Kusumo tetap digunakan, tetapi kemudian dipadukan dengan unsur alam yang ada di Pacitan. Perpaduan tersebut menjadi salah satu pembeda Batik Lorog.

Jika batik keraton umumnya memiliki aturan dan pola geometris yang lebih ketat, motif Lorog justru banyak berkembang dari lingkungan kehidupan masyarakat. Para perajin yang sebagian berasal dari kalangan petani menjadikan flora dan fauna di sekitar mereka sebagai sumber inspirasi.

Karena itu, motif Batik Lorog tidak hanya berbicara tentang estetika. Ragam hiasnya juga menjadi cara masyarakat menggambarkan lingkungan yang mereka lihat dan alami sehari-hari.

Salah satu unsur yang banyak muncul adalah buah pace atau mengkudu. Pada motif Peksi Gisik Lorok, misalnya, buah pace dipadukan dengan burung sikatan, bunga teratai, serta latar batuan koral. Komposisi tersebut menggambarkan karakter alam Pacitan yang memiliki bentang wilayah berbatu.

Dari sini terlihat bahwa karakter Batik Lorog terbentuk melalui pertemuan beberapa unsur sekaligus, yaitu pengaruh tradisi batik Jawa, sejarah pembatikan, serta lingkungan alam pesisir selatan Pacitan.

Warna Batik Lorog Dibuat dari Bahan Alam

Selain motif, karakter Batik Lorog juga terlihat dari proses pewarnaannya. Perajin Lorog menggunakan berbagai bahan tumbuhan untuk menghasilkan warna. Di antaranya batang nangka, daun mangga kering, kulit pohon tingi, hingga kulit mahoni.

Proses pewarnaan alami tersebut tidak selalu berlangsung sekali. Pencelupan dapat dilakukan hingga sekitar 25 kali untuk menghasilkan gradasi warna soga khas pesisir selatan yang cenderung gelap, tetapi tetap memberikan kesan lembut.

Dalam proses tradisionalnya, kain terlebih dahulu melalui pewarnaan wedel atau nilo. Setelah itu, kain dilorod, dibatik kembali, kemudian disoga.

Seiring perkembangan zaman, teknik tradisional tersebut juga mulai dipadukan dengan sentuhan modern. Perajin menggunakan teknik colet dengan warna merah atau rapid dan kuning atau sol.

Kain yang digunakan pun tidak terbatas pada satu jenis. Proses membatik dapat diterapkan pada kain berkualitas seperti mori primissima, mori prima, hingga sutra.

Masa Kemunduran Batik Lorog

Keunikan Batik Lorog tidak serta-merta membuat industrinya selalu berjalan mulus. Perjalanan perajin justru sempat menghadapi masa sulit selama sekitar tiga dekade, terutama sejak 1980 hingga 2000.

Pada dekade 1980-an, perajin menghadapi persaingan dari tekstil bermotif batik dengan harga murah. Kondisi tersebut diperparah oleh perubahan kebiasaan masyarakat yang membuat kain panjang semakin jarang digunakan dan lebih banyak dikenakan ketika ada hajatan.

Perajin kemudian harus menyesuaikan diri dengan kondisi pasar. Target produksi bergeser menjadi bahan untuk membuat busana pria dan wanita.

Teknik kerikan yang membutuhkan proses rumit juga mulai ditinggalkan dan digantikan dengan teknik lorodan agar produksi dapat berlangsung lebih cepat.

Keputusan tersebut berkaitan dengan daya beli konsumen. Pada saat itu, tidak banyak konsumen yang mampu membeli batik tulis dengan harga tinggi. Di sisi lain, regenerasi perajin juga menghadapi hambatan.

Memasuki 1990-an, tekanan terhadap Batik Lorog semakin besar akibat maraknya produksi batik cap. Namun, periode tersebut juga menjadi bagian dari proses transformasi. Warna-warna cerah khas batik pesisiran, seperti merah, hijau, dan kuning, mulai digunakan oleh perajin Lorog.

Salah satu perubahan tersebut didorong pembatik lokal bernama Ibu Puri yang memperoleh pengetahuan baru setelah mendapat pelatihan dari para perajin Madura.

Kebangkitan Batik Lorog

Titik balik mulai terlihat pada era 2000-an. Sejumlah perajin muda yang memiliki pendidikan tinggi kembali ke kampung halaman dan ikut mengembangkan batik di daerahnya.

Kehadiran generasi baru tersebut membawa pendekatan berbeda. Pakem tradisional tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi dipadukan dengan inovasi.

Salah satu pencapaian penting terjadi pada 2003 ketika dibuat kain batik kolosal sepanjang ratusan meter, yang kemudian mencetak rekor MURI.

Empat tahun kemudian, pada 2007, berdiri Paguyuban Batik Tulis Lorog. Kehadiran paguyuban ini menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan perajin dan batik tulis di Lorog.

Pengakuan terhadap kualitas karya perajin Pacitan kembali terlihat pada 2010. Karya Budi Raharjo dan Ibu Retno Toni melalui motif Sawung Gerong dan Peksi Gisik Lorog berhasil meraih juara dalam Lomba Desain Batik Tulis Khas Jawa Timur.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa motif yang berangkat dari lingkungan lokal dapat dikembangkan menjadi karya yang mampu bersaing di tingkat provinsi.

Dari Motif Lokal hingga Menembus Pasar Antarkota

Memasuki dekade 2010-an, perkembangan Batik Lorog mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah. Batik Tulis Lorog kemudian dikukuhkan sebagai produk unggulan nasional melalui program One Village One Product (OVOP).

Perkembangan tersebut mendorong munculnya unit-unit usaha baru dengan pendekatan masing-masing. Batik Tulis Tengah Sawah, misalnya, mulai mematenkan motif melalui Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) sekaligus mengembangkan penggunaan pewarna alami.

Sementara itu, Batik Saji mengeksplorasi unsur wayang beber dengan memadukan pigmen sintetis dan bahan pewarna alam.

Eksplorasi motif juga terus dilakukan. Motif Sawung Cahya Buwana dan Sawung Ronabaya kembali berhasil meraih juara dalam berbagai kompetisi tingkat provinsi.

Perubahan tersebut ikut menggeser posisi batik dari sekadar kain tradisional menjadi komoditas yang memiliki nilai estetika dan ekonomi. Karya perajin Lorog kemudian mampu menembus pasar di sejumlah kota, termasuk Solo, Surabaya, dan Jakarta.

Perjalanan Batik Lorog menunjukkan bahwa mempertahankan batik daerah tidak cukup hanya dengan menjaga motif lama.

Di tengah perkembangan pasar, industri lokal masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Beberapa di antaranya adalah persoalan pembiayaan dan tata kelola usaha, lokasi sentra yang relatif terpencil, serta ketergantungan terhadap bahan baku.

Artinya, keberlanjutan Batik Lorog tidak hanya bergantung pada kemampuan perajin menghasilkan kain yang indah. Regenerasi, inovasi, akses pasar, dukungan pembiayaan, serta ketersediaan bahan baku juga menjadi bagian penting agar tradisi tersebut dapat terus bertahan.



(ihc/irb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads