Busana Kacong dan Cebbing Sumenep memiliki pakem yang sarat makna. Setiap bagian, mulai dari pakaian hingga aksesori, memiliki filosofi yang menggambarkan karakter dan nilai masyarakat Madura.
Melansir unggahan Instagram Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur, filosofi tersebut terlihat dari berbagai bagian busana Kacong dan Cebbing, mulai dari kain yang digunakan hingga aksesori yang dikenakan.
Busana Kacong Sumenep
Busana Kacong Sumenep terdiri dari beskap dan samper sogan, yang mencerminkan ketegasan dan kewibawaan seorang pria. Kain samper sogan dibuat dengan model wiru tujuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Samper sogan wiru tujuh dimaknai sebagai pitulungan, yakni harapan mendapatkan pertolongan Tuhan dalam menjalani kehidupan. Sementara itu, wiru yang berada di tengah pusar memiliki makna keseimbangan hidup dan kepatuhan terhadap aturan.
Baca juga: Macam-macam Kebaya Jawa Timur |
Makna Aksesori Busana Kacong
Selain beskap dan samper sogan, busana Kacong juga dilengkapi sejumlah aksesori yang memiliki makna tersendiri. Salah satunya blangkon Sumenep, yang dimaknai sebagai perlindungan terhadap martabat sekaligus ketajaman dalam berpikir.
Ada pula gandolan saku emas yang dikaitkan dengan kemuliaan dan tanggung jawab seorang pemimpin untuk menyejahterakan rakyat. Sementara selop hitam menggambarkan kerendahan hati dalam melangkah.
Busana CebbingSumenep
Busana Cebbing terdiri dari kebaya yang dipadukan dengan samper sogan wiru sembilan. Perpaduan tersebut menunjukkan kelembutan dan keanggunan perempuan Sumenep.
Kebaya dengan motif beras tumpah melambangkan keberkahan hidup yang meluap-luap. Sementara samper wiru dipasang agak ke kanan, selebar dua jari, dengan jumlah sembilan lipatan.
Makna Aksesori Cebbing Sumenep
Sama seperti busana Kacong, Cebbing juga memiliki sejumlah aksesori dengan makna tersendiri. Salah satunya adalah sanggul angka delapan dan alis bulan sabit.
Aksesori kepala dan wajah tersebut melambangkan keseimbangan budi pekerti luhur serta ketaatan terhadap norma-norma kehidupan.
Kemudian ada bros tebhu sare susun tiga. Aksesori ini menyiratkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Sementara cincin waik dan giwang rombe menggambarkan tekad yang kuat serta kecantikan yang tetap santun.
Pada bagian kaki, busana ini dilengkapi selop heels hitam setinggi 5 sentimeter. Alas kaki tersebut juga memiliki makna sebagai pijakan untuk menjaga martabat dan keanggunan saat berjalan.
Beragam makna yang melekat pada pakaian dan aksesori Kacong dan Cebbing menjadi bagian dari kekayaan budaya Sumenep. Pakem tersebut juga memperlihatkan bagaimana busana tradisional tetap digunakan untuk mengenalkan nilai budaya daerah.
