Macam-macam Kebaya Jawa Timur untuk Perayaan Hari Kartini

Macam-macam Kebaya Jawa Timur untuk Perayaan Hari Kartini

Anastasia Trifena - detikJatim
Minggu, 19 Apr 2026 21:30 WIB
Ilustrasi kebaya.
Ilustrasi kebaya. Foto: Getty Images/electravk
Surabaya -

Setiap 21 April, peringatan hari Kartini selalu dihiasi dengan warna-warni kebaya yang dikenakan para perempuan Indonesia. Bukan tanpa maksud, penggunaan kebaya setiap perayaan hari Kartini menyimbolkan penghormatan terhadap Raden Ajeng (RA) Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan pada masanya.

Kebaya yang dikenakan pun hadir dalam beragam jenis dan model. Mengingat, Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dari Sabang hingga Merauke. Tak ada salahnya jika saat perayaan hari Kartini, detikers dapat sekaligus mengenali baju adat atau kebaya daerah masing-masing, termasuk Jawa Timur sebagai salah satu daerah perkembangan kebaya sejak abad ke-15.

Memakai kebaya saat hari Kartini bisa menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal. Selain menambah semarak suasana di sekolah, kantor, hingga lingkungan masyarakat, mengenakan kebaya khas Jawa Timur juga dapat menjadi bentuk pelestarian identitas daerah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Kebaya Sebagai Baju Adat Perempuan

Istilah "kebaya" berasal dari kata "abaya" yang merujuk pada pakaian panjang atau jubah. Kebaya masuk pertama kali ke Nusantara lewat jalur perdagangan serta interaksi budaya dengan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Busana ini mulai dikenal di Pulau Jawa sekitar abad ke-15 hingga ke -16. Pada masa awal, kebaya hanya dikenakan oleh kalangan kerajaan, bangsawan, dan priyayi sehingga identik sebagai simbol status sosial.

Perkembangan kebaya juga dipengaruhi oleh penyebaran agama, kolonialisme hingga dinamika sosial budaya. Pada masa penjajahan, kebaya bahkan dikenakan oleh perempuan Eropa di Jawa.

Namun seiring berjalannya waktu, kebaya mulai diadopsi oleh masyarakat luas khususnya perempuan dari berbagai lapisan hingga akhirnya menjadi pakaian sehari-hari sekaligus busana resmi dalam berbagai acara.

Jenis-jenis Kebaya Jawa Timur

Kebaya Jawa Timur dikenal memiliki ciri khas yang anggun dan detail yang kuat pada setiap bagiannya. Umumnya, kebaya ini hadir dengan desain elegan, penggunaan warna-warna kontras, serta motif flora dan fauna yang dibuat dengan detail.

Selain itu, terdapat ciri lain seperti kedutan yang rapi di bagian dada, penggunaan kerah tumpal yang khas, hingga tambahan selendang dan hiasan renda di bagian bawah.

Dari sinilah kemudian muncul beragam jenis kebaya khas Jawa Timur yang berkembang di berbagai daerah. Masing-masing memiliki keunikan bentuk, fungsi, dan penggunaannya dalam tradisi setempat. Berikut rinciannya berdasar rangkuman detikJatim.

1. Kebaya Rancongan

Kebaya Rancongan yang berasal dari Madura identik dengan warna-warnanya yang berani dan mencolok. Nama Rancongan berasal dari kata "roncong" yang merupakan salah satu jenis keris Jawa Timur yang melambangkan martabat dan kebangsawanan.

Karena itu, busana ini sejak awal dikenal sebagai pakaian kalangan bangsawan dan mencerminkan status serta nilai kehormatan dalam masyarakat. Ciri khas Kebaya Rancongan terlihat dari penggunaan bahan halus seperti sutra atau batik.

Semakin anggun apabila dipadukan dengan jarik (kain panjang), selendang serta berbagai aksesori, seperti cucuk dinar, giwang emas, kalung brondong, penggel, dan gelang emas. Jika dikenakan berpasangan, Kebaya Rancongan menjadi pasangan yang pas untuk busana pria Pesa'an.

Seiring perkembangan zaman, Kebaya Rancongan tak lagi terbatas penggunaannya pada upacara adat. Kini, busana ini juga kerap dikenakan dalam pernikahan, acara resmi hingga festival budaya seperti hari Kartini.

2. Kebaya Mantenan

Kebaya khas Jawa Timur berikutnya adalah kebaya mantenan yang identik dengan busana pengantin. Sesuai namanya, "manten" dalam bahasa Jawa berarti pengantin, sehingga kebaya ini sejak dulu digunakan pasangan mempelai, bahkan konon menjadi busana yang lekat dengan kalangan kerajaan Jawa pada masa lampau.

Ciri khas kebaya mantenan terletak pada bahan beludru hitam yang memberi kesan elegan dan mewah, dipadukan dengan kain jarik bermotif batik sebagai bawahan.

Pada perempuan, kebaya ini dikenakan setelah kemben sebagai dalaman, lalu dilengkapi berbagai aksesori seperti rangkaian bunga melati yang menjuntai, mahkota, hingga perhiasan yang memperkuat nuansa sakral dan anggun.

Saat peringatan hari Kartini, model kebaya ini juga kerap dikenakan terutama oleh anak-anak dalam kegiatan sekolah atau lomba busana daerah. Tak heran, kostum kebaya mantenan sering menjadi salah satu yang paling diminati dan banyak dicari karena tampilannya yang elegan dan penuh nilai tradisi.

3. Kebaya Ning Surabaya

Di kota pahlawan, setiap tahunnya selalu rutin digelar pemilihan duta wisata Cak dan Ning Surabaya. Dalam ajang ini, para finalis tampil mengenakan pakaian adat khas yang kemudian dikenal dengan pakaian Cak Ning. Dari sinilah kebaya Ning kemudian dikenal sebagai salah satu representasi kebaya khas Jawa Timur.

Secara tampilan, kebaya Ning biasanya hadir dengan warna beragam dan dipadukan dengan kain jarik bermotif batik sebagai bawahan. Gaya rambut awalnya identik dengan sanggul (bun), serta penutup kepala menyerupai kerudung tradisional.

Namun, seiring perkembangan zaman, tampilannya semakin fleksibel dengan tambahan hijab atau selendang yang disampirkan di bahu, tanpa menghilangkan kesan elegan.

Kebaya Ning mencerminkan karakter perempuan Surabaya yang sederhana, percaya diri, dan membumi. Karena tampilannya yang rapi dan modern, kebaya ini juga kerap digunakan dalam berbagai acara formal hingga peringatan hari Kartini, terutama pelajar dan generasi muda yang ingin tampil anggun tanpa perlu effort banyak.

Jadi apakah detikers sudah memutuskan ingin mengenakan kebaya model apa untuk Hari Kartini nanti?




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads