Suasana berbeda mewarnai Jalan Pahlawan Kota Madiun pada libur Sabtu malam Minggu. Sekitar lima ribu warga dari berbagai elemen masyarakat kompak menyuguhkan seni tarian di titik pusatnya kota Madiun.
Dari kalangan komunitas penari, pelajar dan ibu rumah tangga menggerakkan tangan dan kaki dalam Tari Beksan Parisuko dalam event Madiun Menari 2026. Kekompakan ribuan warga bukan dari wilayah Kota Madiun saja tetapi juga masyarakat dari kota sekitar.
"Saya dari Madiun Kabupaten ikut menari bersama anak saya ini. Anak saya masih sekolah dasar kebetulan juga ikut ekstra tari," ujar Puryanti (50) kepada detikJatim Minggu dii hari (30/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini acaranya para komunitas seni budaya," tandas Puryanti.
Hal senada juga disampaikan oleh Yanti (55) warga Kelurahan Madiun Lor. "Alhamdulillah ikut senang bisa buat hiburan dan menjadi ruang bersama untuk mengenalkan, mencintai dan menjaga budaya Kota Madiun," tutur Yanti.
Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun yang turut hadir menyampaikan bahwa asyarakat menjadi kekuatan utama dalam kegiatan tarian beksan parisuko. Pemerintah memberikan ruang dan memfasilitasi, sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam menggerakan dan menjaga keberlanjutan budaya untuk kotanya.
"Madiun Menari bukan acara pemkot untuk rakyat. Ini gerakan rakyat untuk kotanya,
Kota Madiun tidak sedang membuat acara. Kota Madiun sedang membangun Gerakan Budaya," jelas Bagus.
Menurut Bagus, tari Beksan Parisuko menjadi bagian penting dalam Madiun Menari 2026. Tarian ciptaan seniman Kota Madiun ini menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada masyarakat, khususnya kepada generasi muda.
"Beksan Parisuko mencerminkan keindahan, kesuburan, rasa syukur kepada sang pencipta, kehalusan budi pekerti, kesopanan, serta keselarasan hidup antara manusia dengan alam dan lingkungan.
Melalui Madiun Menari, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjaga dan bergerak tarian budaya secara langsung. Harapannya semangat tersebut dapat diteruskan melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, keluarga dan berbagai ruang kreatif lainnya," papar Bagus.
"Budaya akan terus hidup ketika masyarakat merasa memiliki, mau mempelajari, mencintai dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Madiun Menari adalah milik masyarakat Kota Madiun," imbuh Bagus.
Madiun menari, kata Bagus, sekaligus bisa diadakan setiap sebulan sekali dan menjadi penanda dimulainya Spectra Night, ruang terbuka. "Bisa digelar rutin setiap bulan sebagai wadah masyarakat dan komunitas untuk berkegiatan secara positif, kreatif dan edukatif," tandas Bagus.
Madiun Menari menunjukan bahwa ruang kota dapat menjadi ruang ekspresi masyarakat. Ribuan warga dari berbagai latar belakang hadir dan bergerak dalam satu irama, menjadikan Kota Madiun sebagai panggung budaya bersama.
"Madiun Menari: 5.000 Warga Bergerak, Satu Kota Menjadi Panggung. Harapannya Madiun Menari menjadi awal tumbuhnya gerakan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Spectra Night diharapkan menjadi ruang bersama yang hidup, aman, tertib, dan sekaligus memperkuat interaksi sosial masyarakat termasuk menggerakan UMKM," tandas Bagus.
Pantauan detikJatim masyarakat yang mayoritas perempuan tampak dengan semangat menari. Dengan mengenakan pakaian adat dan juga pakaian santai kompak menari di sepanjang Jalan Pahlawan mulai selatan simpang empat traffic light gereja hingga tugu titik nol KK kota Madiun sekitar 500 meter.
