Kebo-keboan Alasmalang, Tradisi Syukur Panen dan Tolak Bala

Kebo-keboan Alasmalang, Tradisi Syukur Panen dan Tolak Bala

Eka Rimawati - detikJatim
Minggu, 28 Jun 2026 17:20 WIB
Tradisi Kebo-keboan di Banyuwangi
Tradisi Kebo-keboan di Banyuwangi. Foto: Eka Rimawati
Banyuwangi -

Kerbau-kerbau berjalan dan menari mengikuti iring-iringan ritual, sementara para petani membawa cambuk sebagai bagian dari prosesi yang menggambarkan aktivitas mengolah sawah. Atraksi itu menjadi salah satu rangkaian tradisi Kebo-keboan Alasmalang.

Kerbau adalah simbol dari kesejahteraan dan kemuliaan petani Desa Alasmalang. Setiap bulan Muharram, mereka menggelar ritual Kebo-keboan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, sekaligus doa tolak bala agar hasil panen tidak diserang hama penyakit.

Budayawan Banyuwangi Aekanu Hariyono mengatakan tradisi Kebo-keboan Alasmalang menyimpan makna yang lebih dalam. Tradisi ini menjadi wujud semangat kebersamaan masyarakat dalam memanjatkan doa kepada Tuhan, meski berasal dari latar belakang agama yang berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sini juga ada muatan permohonan yang dipanjatkan dari lintas agama, saya meyakini ada berbagai agama di sini bukan hanya Islam. Dan, bervariasi permohonan intinya tentang kesejahteraan, jadi tradisi ini menyimpan ribuan permohonan yang dipanjatkan dalam waktu bersamaan untuk kesejahteraan desa dan Banyuwangi," terang Aekanu, Minggu (28/6/2026).

ADVERTISEMENT

Selain itu, nuansa agraris dalam tradisi ini juga menjadi simbol gemah ripah loh jinawi. Yang membawa semangat bagi seluruh masyarakat Desa Alasmalang untuk mencintai alam dan lingkungannya.

"Yang paling tampak dari tradisi ini adalah komponen agraris ya, di mana ada penjor dan segala macam hasil bumi. Kalau kamu mau sejahtera, ya pelihara alamnya, ini adalah pesan yang terkandung dalam tradisi Kebo-keboan Alasmalang," tambahnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turut menghadiri ritual tersebut. Ia mengaku bangga melihat masyarakat Desa Alasmalang yang tetap memegang teguh tradisi dan terus berkreasi dalam melestarikan budaya daerah.

"Saya sangat senang dan bahagia melihat seluruh masyarakat begitu bahagia dan kreatif," terangnya.

Ipuk mengatakan tradisi Kebo-keboan menjadi bagian dari kultur warga agraris yang kuat. Tradisi yang masih lestari ini menunjukkan komitmen warga dalam menjaga kearifan lokal.

"Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya dengan melaksanakannya secara turun-temurun. Saya sampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang, dan semua yang menjaga nyala tradisi tetap hidup," jelas Ipuk lebih lanjut.

Menurutnya, tradisi Kebo-keboan bukan hanya sekadar tradisi, tapi budaya yang membangun karakter. Dalam tradisi ini terkandung nilai kerja keras gotong royong dan disiplin dari masyarakat agraris.

"Nilai ini sesuai dengan semangat Banyuwangi "tandang bareng" kerja bersama, tumbuh bersama. Di mana semua capaian prestasi dan hasil kinerja Banyuwangi hasil gotong royong seluruh masyarakat," ujarnya.

Tradisi Kebo-keboan berlangsung dengan cara "kerbau" diarak keliling penjuru desa. Mereka berjalan seperti kerbau yang sedang membajak sawah, berkubang, bergumul di lumpur, dan bergulung-gulung di sepanjang jalan yang dilewati. Saat berjalan, mereka ditali di perut seperti kerbau.

Kerbau yang dimaksud adalah warga Desa Alasmalang yang merupakan keturunan leluhur pendiri desa tersebut yang berdandan seperti kerbau. Mereka menjadi lantaran ritual menjaga tradisi dan kearifan lokal Banyuwangi.




(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads