Mengurai Situs Watu Gong di Tengah Permukiman Padat Kota Malang

Mengurai Situs Watu Gong di Tengah Permukiman Padat Kota Malang

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Sabtu, 15 Agu 2026 12:30 WIB
Situs Watu Gong di Malang
Situs Watu Gong di Malang. (Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Malang -

Di balik permukiman padat di Jalan Kanjurugan IV Nomor, Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ada sebuah peninggalan bersejarah yang dikenal sebagai Situs Watu Gong. Keberadaan sebaran benda cagar budaya ini menyimpan jejak panjang sejarah peradaban era klasik di Malang Raya.

Juru Kunci Situs Watu Gong, Huda menceritakan awal mula pengumpulan artefak-artefak itu. Penemuan benda bersejarah itu bermula saat warga sekitar melakukan pemerataan tanah di lokasi setempat yang dulu berupa sebuah gundukan berukuran sedang.

"Awalnya itu di sini kondisi tanah tidak rata, ada gundukan yang lumayan. Begitu sama warga digali untuk diratakan, ditemukan ada watu gong (umpak), kemudian digali terus dan ditemukan beberapa lagi watu gong yang kemudian dikumpulkan," kata Huda kepada detikJatim, Jumat (14/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini di situs Watu Gong sendiri terkumpul belasan batu umpak atau dikenal warga sekitar dengan sebutan watu gong karena bentuk batu menyerupai gong. Selain umpak, ada juga beberapa arca tokoh dewa hingga bejana batu.

Huda menambahkan, temuan-temuan benda bersejarah itu awalnya tidak ditempatkan di punden khusus seperti saat ini. Dulu, setelah ditemukan, artefak oleh warga hanya dikumpulkan begitu saja di sebuah pekarangan.

ADVERTISEMENT

Namun, karena lama-kelamaan batu itu mulai tenggelam tertimbun tanah kembali, pemerintah akhirnya menyediakan lahan khusus dan membangun punden penampungan.

Sementara itu, sejarawan dan arkeolog asal Malang, Rakai Hino menjelaskan bahwa bebatuan atau umpak yang berada di lokasi itu memiliki keterkaitan erat dengan struktur bangunan pada masa lampau. Menurutnya, analisis peninggalan itu dapat ditinjau dari dua era, yakni era prasejarah dan era klasik.

"Umpak bangunan itu bisa ada di 2 zaman. Dimulai dari zaman prasejarah, yakni masa Neolitikum atau kebudayaan Megalitikum yang dikenal dengan batu besar. Namun, bisa juga diidentifikasikan sebagai peninggalan pada masa klasik," ujar Hino.

Ia menambahkan, tidak adanya inskripsi atau aksara yang tertoreh di batu-batu umpak itu membuat penentuan penanggalan secara absolut sulit dilakukan. Meski begitu, ditinjau dari keseluruhan temuan di sekitarnya (arca Ganesha, arca Nandi swara, hingga bejana batu besar) wilayah itu menunjukkan adanya kontinuitas permukiman.

"Kalau dilihat dari ikonografinya atau ilmu arca, model dan hiasannya merujuk pada pengerjaan masa Medang atau Mataram Hindu, yang diawali era Mpu Sindok. Dari data ikonometri, kecenderungannya mengarah ke sana," jelasnya.

Hino menuturkan bahwa temuan di Situs Watu Gong tidak berdiri sendiri. Keberadaan benda-benda pendukung seperti arca dewa-dewi, jaladwara, hingga struktur batu pendukung mengindikasikan bahwa kawasan itu dulu adalah satu kesatuan kompleks keagamaan.

"Berdasarkan informasi dalam Prasasti Merjosari 2 dan temuan di sekitarnya, kawasan dari Merjosari hingga ke atas ini kemungkinan besar digunakan sebagai kawasan kabikuan atau tempat mandala bagi para biksu," ungkapnya.

Terkait bentuk umpak atau Watu Gong yang berukuran cukup besar, Rakai Hino menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan langsung dengan skala bangunan yang ditopang.

"Umpak berfungsi sebagai alas tiang atau soko guru kayu. Semakin besar ukuran umpaknya, maka semakin besar pula tiang kayu dan dimensi bangunan keagamaan yang berdiri di atasnya pada masa itu," tuturnya.

Situs Watu Gong yang ada saat ini merupakan hasil pengumpulan artefak dari beberapa titik di sekitarnya. Pendataan peninggalan di kawasan tersebut sejatinya telah tercatat dalam laporan peneliti era kolonial Belanda.

"Catatan mengenai benda purbakala di wilayah ini sudah pernah dilaporkan oleh peneliti Belanda seperti Krom, Norencker, dan Verbeek dalam laporan OV (Oudheidkundig Verslag) sekitar tahun 1923 dan 1927," terangnya.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya permukiman warga, artefak-artefak yang berserakan di sekitar wilayah Tlogomas dikumpulkan oleh petugas dan warga di titik yang kini menjadi Situs Watu Gong.

"Data artefaktual dan berita tertulis dari prasasti-prasasti di sekitarnya saling mendukung, memperkuat bahwa kawasan ini merupakan lanskap permukiman dan tempat peribadatan penting di masa Hindu-Buddha," tandas Hino.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads