Masyarakat Suku Tengger di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo menutup rangkaian Hari Raya Yadnya Karo 1948 Caka dengan prosesi sakral Nyadran. Dalam ritual itu, warga bersama-sama berziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus memanjatkan doa keselamatan.
Nyadran menjadi puncak rangkaian Yadnya Karo yang setiap tahun digelar masyarakat Tengger pada bulan Karo dalam penanggalan adat. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dilestarikan dan diikuti seluruh masyarakat Desa Sapikerep.
Prosesi diawali dengan ritual adat yang dipimpin Romo Dukun. Setelah itu, warga berjalan kaki menuju tiga lokasi yang disakralkan, yakni punden, petilasan leluhur (ndanyang), dan pemakaman umum Desa Sapikerep untuk berdoa bersama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjabat (Pj) Kepala Desa Sapikerep, Agus Cahyo Raharjo mengatakan bahwa Nyadran menjadi momentum bagi masyarakat untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga desa.
"Melalui prosesi ini kami memohon rahmat keselamatan, keberkahan, dan perlindungan bagi seluruh masyarakat Desa Sapikerep. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan kehidupan dan budaya kepada generasi sekarang," ujar Agus. Kamis (6/(/2026).
Tradisi Nyadran masyarakat Tengger tutup perayaan Hari Raya Karo di Desa Sapikerep, Probolinggo. Foto: M Rofiq/detikJatim) |
Menurutnya, antusiasme masyarakat mengikuti Nyadran sangat tinggi. Tanpa harus diarahkan, warga berbondong-bondong mengikuti seluruh rangkaian ritual sebagai bentuk kesadaran untuk menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Sementara, Romo Dukun Desa Sapikerep, Misnoyo menjelaskan Nyadran merupakan penutup seluruh rangkaian Yadnya Karo sekaligus salah satu kewajiban adat yang harus dilaksanakan masyarakat Tengger.
"Nyadran adalah puncak Yadnya Karo. Seluruh warga mengikuti prosesi ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan syukur kepada Tuhan. Tradisi ini wajib dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman," kata Misnoyo.
Ia berharap generasi muda tetap menjaga dan meneruskan adat istiadat masyarakat Tengger. Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab tokoh adat, tetapi juga seluruh masyarakat agar nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur tetap hidup dari generasi ke generasi.
Setelah prosesi Nyadran selesai, rangkaian Hari Raya Yadnya Karo dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Ujung-Ujungan di Kantor Desa Sapikerep, sebelum ditutup dengan ritual Mulihe Ping Pitu sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan adat tahun ini.

