- Asal-usul Mitos Bulan Sapar Dianggap Bulan Sial dalam Tradisi Jawa
- Mitos Bulan Sapar yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa
- Pengaruh Mitos Bulan Sapar dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
- Tradisi Bulan Sapar di Berbagai Daerah di Jawa 1. Saparan 2. Saparan Apem Yaa Qowiyyu 3. Saparan Wonolelo 4. Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan 5. Kenduri atau Sedekah Bersama
- Pandangan Islam tentang Mitos Bulan Sapar
- Mengapa Mitos Bulan Sapar Masih Dipercaya?
Bulan Sapar atau Safar kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dalam tradisi masyarakat Jawa. Salah satu yang paling dikenal adalah anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan sehingga dianggap kurang baik untuk menggelar pernikahan, memulai usaha, pindah rumah, atau mengadakan hajatan.
Meski kepercayaan tersebut masih diyakini oleh sebagian masyarakat hingga sekarang, anggapan tentang Bulan Sapar sebagai bulan sial sebenarnya tidak berasal dari ajaran Islam. Lantas, dari mana asal-usul mitos tersebut, mengapa masih bertahan, dan bagaimana pandangan Islam mengenai Bulan Sapar?
Asal-usul Mitos Bulan Sapar Dianggap Bulan Sial dalam Tradisi Jawa
Kepercayaan bahwa Bulan Sapar identik dengan kesialan telah berkembang sejak lama dalam tradisi masyarakat Jawa. Mitos tersebut masih dikenal hingga kini dan diwariskan secara turun-temurun di sejumlah daerah sebagai bagian dari warisan budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum Islam berkembang di Nusantara, masyarakat Jawa telah mengenal berbagai kepercayaan yang mengaitkan waktu tertentu dengan pertanda baik maupun buruk. Dalam pandangan tersebut, setiap bulan dipercaya memiliki karakter dan pengaruh tersendiri terhadap kehidupan manusia.
Bulan Sapar kemudian dianggap sebagai waktu yang kurang membawa keberuntungan sehingga banyak orang menghindari pelaksanaan berbagai kegiatan penting, seperti menikah, memulai usaha, atau menggelar hajatan pada bulan tersebut.
Ketika Islam masuk ke Pulau Jawa, sebagian tradisi lokal tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan berakulturasi dengan budaya masyarakat. Akibatnya, kepercayaan mengenai bulan Sapar tetap bertahan dan terus diwariskan dari generasi ke generasi, meski tingkat kepercayaannya kini berbeda-beda di setiap daerah.
Mitos Bulan Sapar yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa
Hingga kini, masih ada masyarakat yang mengaitkan bulan Sapar dengan berbagai pantangan. Kepercayaan tersebut umumnya diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi, bukan berdasarkan ajaran agama.
Salah satu mitos yang paling banyak dikenal ialah anggapan menikah pada bulan Sapar dapat mendatangkan kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis atau dipenuhi cobaan.
Selain itu, sebagian masyarakat Jawa juga memilih menunda pindah rumah, membuka usaha, atau menggelar hajatan karena menganggap bulan ini kurang membawa keberuntungan.
Meski demikian, kepercayaan tersebut tidak berlaku di semua daerah. Seiring berkembangnya pemahaman masyarakat, semakin banyak pula yang memandang mitos tersebut sebagai bagian dari tradisi budaya tanpa harus diyakini sebagai sebuah kebenaran.
Pengaruh Mitos Bulan Sapar dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Kepercayaan terhadap bulan Sapar sebagai bulan yang kurang baik masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Salah satu dampaknya terlihat dari keputusan sebagian orang yang memilih menunda pernikahan dan menunggu bulan lain yang dianggap lebih baik.
Melansir laman Kemenag Kuningan, kepercayaan terhadap mitos bulan Sapar masih mempengaruhi keputusan sebagian masyarakat dalam menentukan waktu pernikahan. Kondisi tersebut bahkan berdampak pada kecenderungan menurunnya pencatatan pernikahan di KUA selama bulan Sapar.
Tidak hanya urusan pernikahan, sebagian masyarakat juga masih mempertimbangkan bulan Sapar ketika menentukan waktu pindah rumah, membuka usaha, hingga menggelar hajatan. Meski tidak berlaku di semua daerah, kebiasaan tersebut menunjukkan pengaruh tradisi masih cukup kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa mitos bulan Sapar tidak hanya bertahan sebagai cerita turun-temurun, tetapi juga masih mempengaruhi berbagai keputusan penting dalam kehidupan sebagian masyarakat hingga sekarang.
Tradisi Bulan Sapar di Berbagai Daerah di Jawa
Di balik mitos yang berkembang, bulan Sapar juga diwarnai berbagai tradisi budaya yang masih dilestarikan di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Tradisi-tradisi ini umumnya menjadi wujud rasa syukur, doa bersama, sekaligus upaya mempererat kebersamaan masyarakat. Berikut beberapa tradisi yang masih dikenal hingga kini.
1. Saparan
Saparan merupakan tradisi yang digelar masyarakat Jawa untuk menyambut atau memperingati bulan Sapar. Bentuk kegiatannya berbeda-beda di setiap daerah, mulai dari kenduri, doa bersama, kirab budaya, hingga pembagian makanan kepada masyarakat.
Mengutip Jadesta Kemenpar, salah satu pelaksanaan Saparan dapat dijumpai di Desa Wisata Sermo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tradisi ini diisi dengan kirab gunungan hasil bumi, doa bersama, hingga larungan sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan harapan memperoleh keselamatan.
2. Saparan Apem Yaa Qowiyyu
Tradisi ini berasal dari Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan telah menjadi agenda budaya yang rutin digelar setiap bulan Sapar. Berdasarkan penjelasan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Saparan Apem Yaa Qowiyyu berawal dari dakwah Kyai Ageng Gribig.
Saat itu, ia membagikan kue apem kepada masyarakat setelah pulang dari tanah suci. Hingga kini, tradisi tersebut masih dilestarikan melalui kirab budaya dan pembagian apem sebagai simbol kebersamaan serta rasa syukur.
3. Saparan Wonolelo
Masyarakat Wonolelo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, juga memiliki tradisi Saparan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Tradisi ini meliputi kirab pusaka, doa bersama, ziarah, hingga pembagian kue apem kepada masyarakat. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, Saparan Wonolelo juga menjadi ajang mempererat hubungan sosial antarwarga.
4. Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilaksanakan pada Rabu terakhir bulan Sapar dan masih dijumpai di sejumlah daerah di Jawa. Menurut data Warisan Budaya Takbenda Kemendikbudristek, tradisi Rebo Pungkasan telah berkembang sejak abad ke-18.
Rangkaian acaranya umumnya berupa doa bersama, kirab budaya, sedekah, hingga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat.
Sementara itu, Kementerian Agama menegaskan bahwa tradisi Rebo Wekasan dapat dimaknai sebagai bagian dari budaya masyarakat. Namun, umat Islam tidak dianjurkan meyakini bahwa hari atau bulan tertentu membawa kesialan karena keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam syariat.
5. Kenduri atau Sedekah Bersama
Di sejumlah daerah di Jawa, bulan Sapar juga diperingati melalui kenduri atau sedekah bersama. Masyarakat membawa makanan untuk didoakan, kemudian disantap bersama sebagai simbol rasa syukur dan mempererat tali silaturahmi.
Pelaksanaannya berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang menggelarnya di balai desa, masjid, makam tokoh setempat, maupun lokasi yang dianggap memiliki nilai sejarah bagi masyarakat. Tradisi ini lebih menonjolkan nilai gotong royong dan kebersamaan dibandingkan kepercayaan terhadap mitos bulan Sapar.
Pandangan Islam tentang Mitos Bulan Sapar
Berbeda dengan kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Islam tidak mengenal adanya bulan yang membawa kesialan. Dalam penanggalan Jawa, bulan Sapar merupakan penyebutan untuk bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Dalam kalender Hijriah, Safar merupakan bulan kedua setelah Muharam. Sementara dalam penanggalan Jawa, Sapar adalah bulan kedua setelah Sura.
Seluruh bulan memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Allah SWT dan tidak ada satu pun yang ditetapkan sebagai bulan pembawa musibah. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada 'adwa (penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (anggapan sial karena pertanda tertentu), tidak ada hammah, dan tidak ada (kesialan pada) bulan Safar". (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menjadi dasar bahwa Islam menolak keyakinan terhadap pertanda buruk maupun anggapan bahwa suatu bulan memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan.
Dalam kajian hadisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan anggapan bulan Safar sebagai bulan sial merupakan warisan kepercayaan masyarakat Arab pada masa jahiliah, bukan ajaran Islam.
MUI juga menerangkan bahwa menganggap suatu waktu sebagai pembawa kesialan termasuk bentuk tiyarah atau tathayyur, yakni keyakinan terhadap pertanda buruk yang dilarang dalam Islam.
Senada dengan itu, NU Online mengutip penjelasan ulama Ibnu Rajab Al-Hanbali yang menyebut bulan Safar tidak memiliki perbedaan dengan bulan-bulan lainnya. Pada bulan tersebut bisa saja terjadi musibah maupun kebaikan, sehingga tidak dibenarkan meyakini Safar secara khusus identik dengan kesialan atau bencana.
Karena itu, tidak terdapat dalil Al-Qur'an maupun hadis sahih yang menyatakan bulan Safar sebagai bulan yang buruk. Umat Islam dianjurkan mengisi bulan Safar dengan amal saleh sebagaimana bulan-bulan lainnya, tanpa mempercayai mitos bahwa bulan tersebut membawa kesialan.
Mengapa Mitos Bulan Sapar Masih Dipercaya?
Meski Islam menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa kesialan, mitos bulan Sapar masih bertahan sebagai bagian dari warisan budaya di sejumlah daerah.
Kepercayaan ini terus diwariskan dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat sehingga masih mempengaruhi cara pandang sebagian orang terhadap waktu yang dianggap baik atau kurang baik.
Di sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang kini memandang tradisi tersebut sebagai bagian dari kearifan lokal yang memiliki nilai budaya, tanpa mengaitkannya dengan keyakinan bahwa bulan Sapar benar-benar membawa kesialan.
Mitos bulan Sapar merupakan salah satu warisan budaya yang masih dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa. Meski hingga kini sebagian orang masih mengaitkannya dengan kesialan atau waktu yang kurang baik untuk menggelar berbagai kegiatan penting, ajaran Islam menegaskan tidak ada bulan yang secara khusus membawa keberuntungan maupun kesialan.
Memahami asal-usul mitos bulan Sapar beserta pandangan Islam dapat membantu masyarakat membedakan antara tradisi budaya dan keyakinan agama. Dengan begitu, nilai-nilai budaya tetap dapat dihormati tanpa mengesampingkan ajaran yang memiliki dasar dalam syariat.
