Ratusan peserta dari berbagai kota saling unjuk kebolehan dalam lomba drag layang-layang di Tulungagung. Mereka saling adu cepat menaikkan dan menurunkan layangan.
Drag layang-layang tersebut digelar area persawahan Desa Sumberingin Kulon, Kecamatan Ngunut, Tulungagung. Lomba ini tergolong unik karena bukan estetika maupun keindahan yang ditampilkan.
"Yang dilombakan dalam drag layang-layang ini adalah adu kecepatan menaikan dan menurunkan layangan," kata ketua panitia Yusuf Abdullah, Sabtu (18/7/2026) sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teknisnya masing-masing peserta harus menyiapkan layang-layang jenis gapangan dengan ukuran bentang sayap minimal 120 sentimeter. pada setiap babak pelembagaan para peserta harus menaikkan layangan tersebut secara cepat dari jarak 100 meter.
"Ukuran minimal 120 cm, lebih besar boleh. Jadi teknisnya itu pakai distem drag, adu cepat menaikkan dan menurunkan hingga dipegang segitiga layangannya. Tidak boleh jatuh ke tanah, kalau jatuh didiskualifikasi," jelasnya.
Perlombaan ini mendapatkan antuasias dari peserta maupun penonton. Hingga Sabtu sore jumlah pendaftar yang masuk telah mencapai 150 peserta. Mereka berasal dari lokal Tulungagung maupun luar kota.
"Ada yang dari Blitar, Kediri, lokal Tulungagung, termasuk dari pegunungan selatan seperti Tanggunggunung," ujarnya.
Keseruan lomba langsung terasa saat para peserta mulai menampilkan kekuatan dan ketangkasannya. Saat aba-aba dimulai, peserta harus secepatnya menarik dan mengendalikan layang-layangnya agar bisa terbang.
Saat itu juga peserta harus dengan cepat menurunkan layang-layang. Proses ini menarik perhatian para penonton, sebab beberapa di antaranya justru kesulitan mengendalikan hingga layangannya jatuh. Kombinasi ketangkasan, kekuatan peserta dan kestabilan layangan menjadi kunci utama untuk memenangkan lomba ini.
Tidak hanya itu momen menegangkan saat posisi layang-layang berada lima meter dari peserta, mereka harus mampu mengendalikan hingga tali segitiga berhasil diraih.
"Jika jatuh didiskualifikasi," jelasnya.
Even ketiga ini sengaja digelar pada bulan Juli karena telah masuk musim kemarau dan merupakan puncak dari musim permainan layang-layang di kalangan masyarakat. "Tua muda main layang-layang," imbuhnya.
Udin , salah satu peserta asal Blitar mengaku telah lima kali mengikuti perlombaan serupa di beberapa daerah. Menurutnya, salah satu kesulitannya adalah menyesuaikan angin.
"Kondisi angin di wilayah saya itu beda karakternya dengan di sini. Kemudian faktor bahan layangan juga menentukan, kalau di sini sepertinya sayapnya harus agak kaku," kata Udin.
Dari lima yang ia daftarkan satu di antaranya lolos pada babak penyisihan. Selanjutnya ia akan bersaing dengan peserta lain yang juga lolos di penyisihan. "Ini baru satu yang menang," ujarnya.
