Ribuan Nelayan Banyuwangi Iringi Tradisi Petik Laut Muncar

Ribuan Nelayan Banyuwangi Iringi Tradisi Petik Laut Muncar

Eka Rimawati - detikJatim
Rabu, 01 Jul 2026 21:45 WIB
Perahu slerek yang membawa sesaji dalam petik laut muncar dikawal satu perahu pendamping siap melarung sesaji.
Perahu slerek yang membawa sesaji dalam petik laut muncar dikawal satu perahu pendamping siap melarung sesaji. (Foto: Eka Rima/detikJatim)
Banyuwangi -

Ribuan nelayan memadati perairan Muncar, Banyuwangi, untuk mengikuti tradisi Petik Laut yang digelar pada Rabu (1/7/2026). Puluhan perahu mengiringi satu perahu pembawa sesaji yang akan dilarung ke tengah laut sebagai puncak ritual adat tahunan tersebut.

Iring-iringan perahu dilepas dari Pelabuhan Muncar dan mengarungi lautan selama hampir satu jam. Suasana meriah mewarnai perjalanan para nelayan yang bersorak menyambut tradisi yang rutin digelar setiap 15 Suro sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut sekaligus doa memohon keselamatan dan keberkahan saat melaut.

Ketua Panitia Petik Laut Muncar Hasan Basri mengatakan tradisi tersebut menjadi warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat pesisir Muncar. Menurutnya, nelayan meyakini ritual petik laut membawa berkah bagi hasil tangkapan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap tahun ini digelar, dan pasca petik laut tahun 2025 lalu musim ikan bagus dan nelayan diuntungkan. Harapannya setelah petik laut tahun ini musim ikan juga baik," jelas Hasan, Rabu (1/7/2026).

ADVERTISEMENT

Prosesi sakral ditandai dengan penyematan kail emas seberat lima gram pada kepala kambing kendit yang menjadi sesaji utama. Kail emas dipasang di bagian mulut atau lidah kepala kambing sebagai simbol harapan agar para nelayan memperoleh hasil tangkapan melimpah, dimudahkan mencari rezeki, serta selalu diberi keselamatan saat melaut.

Sesaji yang diletakkan di atas gitik atau perahu kecil juga dihiasi aneka hasil bumi, ayam, dan bebek. Seluruh sesaji kemudian dilarung di perairan perbatasan Banyuwangi dan Bali.

"Harapannya tahun ini lebih memberikan kesejahteraan, keselamatan dan keberkahan bagi seluruh nelayan," jelas Hasan.

Usai prosesi larung sesaji, rombongan perahu melanjutkan perjalanan menuju Makam Kia Ageng Kalong Sembulung. Tokoh tersebut diyakini masyarakat sebagai sesepuh yang pertama kali membuka kawasan hutan Muncar.

Tradisi Petik Laut tak hanya diikuti para nelayan. Ribuan warga juga memadati kawasan pesisir untuk menyaksikan prosesi yang hanya digelar setahun sekali.

Salah seorang warga Muncar, Indah Wulansari, mengaku selalu menyempatkan diri hadir dalam perayaan tersebut.

"Sangat senang pasti datang karena ini jarang bisa kita saksikan langsung, cuma 1 tahun sekali. Tadi pengen naik perahunya tapi sudah penuh," kata Indah.

Selain menjadi ritual adat, Petik Laut Muncar juga berkembang sebagai atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan. Perpaduan antara nilai spiritual, tradisi bahari, seni budaya, serta semangat gotong royong masyarakat menjadikan agenda tahunan ini sebagai salah satu ikon budaya pesisir Banyuwangi yang terus dijaga kelestariannya dari generasi ke generasi.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads