Kalender Jawa 2026: Weton, Pasaran dan Wuku

Kalender Jawa 2026: Weton, Pasaran dan Wuku

Irma Budiarti - detikJatim
Jumat, 03 Jul 2026 12:30 WIB
Ilustrasi kalender Jawa.
Ilustrasi kalender Jawa. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Kalender Jawa masih menjadi acuan bagi banyak masyarakat, terutama di Pulau Jawa, untuk mengetahui weton, pasaran, hingga penanggalan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Meski kalender Masehi digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kalender Jawa tetap memiliki tempat tersendiri dalam berbagai kegiatan adat, budaya, maupun sebagai referensi memahami siklus waktu menurut tradisi Jawa.

Banyak masyarakat mencari kalender Jawa sebagai referensi untuk mengetahui padanan tanggal Masehi dengan tanggal Jawa, pasaran, weton, neptu, wuku, hingga tanggal Hijriah. Simak kalender Jawa 2026 beserta informasi penting lainnya di sini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalender Jawa 2026 ini memuat penanggalan Januari hingga Desember yang dilengkapi dengan tanggal Masehi, tanggal Jawa, pasaran, dan tanggal Hijriah. Melalui kalender ini, detikers dapat melihat padanan setiap tanggal dalam berbagai sistem penanggalan yang masih digunakan masyarakat hingga saat ini.

ADVERTISEMENT

Arti Tanggal Jawa, Pasaran, Weton, Neptu, dan Wuku

Kalender Jawa tidak hanya menampilkan tanggal seperti kalender Masehi. Di dalamnya terdapat sejumlah unsur penting yang saling berkaitan, mulai tanggal Jawa, pasaran, weton, neptu, hingga wuku. Masing-masing memiliki fungsi dan makna tersendiri dalam sistem penanggalan tradisional Jawa.

1. Tanggal Jawa

Merupakan sistem penanggalan tradisional yang digunakan masyarakat Jawa. Tanggal Jawa berjalan berdampingan dengan tanggal Masehi, sehingga setiap hari memiliki padanan dalam kedua sistem penanggalan tersebut.

2. Pasaran

Selain tujuh hari dalam sepekan, kalender Jawa mengenal siklus lima hari yang disebut pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Siklus ini terus berulang dan menjadi salah satu unsur utama dalam kalender Jawa.

3. Weton

Weton adalah gabungan antara hari dalam kalender Masehi dengan pasaran Jawa, misalnya Senin Legi, Jumat Kliwon, atau Rabu Pon. Kombinasi inilah yang dikenal luas dalam tradisi masyarakat Jawa.

4. Neptu

Setiap hari dan pasaran memiliki nilai angka yang disebut neptu. Nilai tersebut merupakan bagian dari sistem perhitungan tradisional Jawa yang telah dikenal secara turun-temurun.

5. Wuku

Kalender Jawa juga mengenal siklus wuku yang terdiri atas 30 pekan. Setiap wuku memiliki nama tersendiri, dan digunakan sebagai penanda siklus waktu dalam tradisi Jawa.

Mengenal Bulan dalam Kalender Jawa

Kalender Jawa memiliki nama bulan yang berbeda dengan kalender Masehi. Bulan dalam kalender Jawa lebih mirip dengan kalender Hijriah. Adapun urutan bulan dalam kalender Jawa sebagai berikut.

  1. Suro
  2. Sapar
  3. Mulud
  4. Bakda Mulud
  5. Jumadil Awal
  6. Jumadil Akhir
  7. Rejeb
  8. Ruwah
  9. Poso
  10. Sawal
  11. Dulkangidah
  12. Besar

Setiap bulan dalam kalender Jawa memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang berbeda. Beberapa di antaranya juga berkaitan dengan tradisi masyarakat Jawa maupun penanggalan Islam.

Sejarah Kalender Jawa

Kalender Jawa modern berawal dari pembaruan sistem penanggalan yang dilakukan Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram pada 1633 Masehi. Saat itu, kalender Jawa disesuaikan sistem peredaran Bulan seperti kalender Hijriah, tetapi tetap mempertahankan unsur Jawa, seperti pasaran, weton, dan wuku.

Perpaduan tersebut membuat kalender Jawa memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan sistem penanggalan lainnya. Kalender Jawa juga menjadi bagian dari warisan budaya yang hingga kini masih digunakan masyarakat untuk mengetahui weton, pasaran, maupun penanggalan tradisional dalam berbagai kegiatan adat dan budaya.

Kalender Jawa memiliki perbedaan dengan kalender Masehi maupun Hijriah. Kalender Masehi menggunakan sistem solar atau peredaran Bumi mengelilingi Matahari, sedangkan kalender Hijriah menggunakan sistem lunar atau peredaran Bulan.

Sama seperti kalender Hijriah, kalender Jawa juga menggunakan sistem lunar, tetapi tetap mempertahankan unsur-unsur khas budaya Jawa seperti pasaran, weton, neptu, dan wuku sehingga memiliki karakteristik yang unik.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads