Kirab Pusaka Grebeg Suro di Ponorogo Diserbu Ratusan Ribu Warga

Kirab Pusaka Grebeg Suro di Ponorogo Diserbu Ratusan Ribu Warga

Charolin Pebrianti - detikJatim
Senin, 15 Jun 2026 21:45 WIB
Prosesi kirab pusaka di Ponorogo
Prosesi kirab pusaka di Ponorogo (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)
Ponorogo -

Ratusan ribu warga memadati sepanjang jalan protokol Ponorogo untuk menyaksikan Kirab Pusaka Grebeg Suro 2026, Senin (15/6/2026) sore. Antusiasme masyarakat yang membludak membuat arus kirab dari Kota Lama hingga Rumah Dinas Bupati Pringgitan dipenuhi lautan manusia.

Kirab pusaka yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 1 Muharram itu mengarak sejumlah pusaka peninggalan Prabu Bathara Katong dari kawasan Kota Lama di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, menuju Kota Tengah. Setibanya di Paseban Alun-alun Ponorogo, pusaka-pusaka tersebut menjalani prosesi jamasan menggunakan air dari tujuh sumber mata air.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengaku terharu melihat tingginya partisipasi masyarakat. Menurutnya, jumlah warga yang hadir tahun ini bahkan lebih banyak dibanding pelaksanaan sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masyaallah, saya mewakili Pemkab Ponorogo mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Ponorogo dan semua yang hadir hari ini. Sepertinya jumlahnya lebih banyak dari tahun kemarin. Benar-benar lautan manusia," kata Lisdyarita kepada wartawan.

Perempuan yang akrab disapa Bunda Rita itu juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan selama pelaksanaan kirab berlangsung.

ADVERTISEMENT

"Kami mengucapkan terima kasih sekaligus mohon maaf apabila masih ada kekurangan. Kami terus berupaya memberikan yang terbaik dalam penyelenggaraan Grebeg Suro," ujarnya.

Menurut Bunda Rita, kirab dan jamasan pusaka bukan sekadar agenda budaya tahunan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan leluhur sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap sejarah lahirnya Ponorogo.

Ia menjelaskan, pusaka yang dikirab sebelumnya dibawa dari Kota Tengah menuju Kota Lama dan kini dikembalikan lagi ke pusat pemerintahan untuk menjalani prosesi jamasan.

"Ini salah satu bentuk nguri-uri budaya. Masyarakat jadi memahami sejarah Kota Lama dan Kota Tengah, mengetahui pusaka-pusaka yang dimiliki Ponorogo, sekaligus mengenang perjalanan sejarah daerah ini," jelasnya.

Selain sarat nilai budaya dan sejarah, rangkaian Grebeg Suro juga diisi doa bersama menyambut Tahun Baru Islam. Pemkab Ponorogo berharap momentum tersebut membawa keberkahan bagi masyarakat.

"Kita berdoa bersama semoga Ponorogo selalu dalam lindungan Allah SWT. Masyarakatnya diberikan kesehatan, keselamatan, hidup nyaman, tenteram, adem, dan damai," tutur Bunda Rita.

Tingginya jumlah pengunjung juga berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Pedagang kaki lima hingga pelaku UMKM merasakan peningkatan omzet selama berlangsungnya kirab pusaka.

"Tadi sepanjang kegiatan kita melihat banyak pedagang berjualan, mulai minuman, makanan hingga berbagai kebutuhan lainnya. Alhamdulillah ekonomi masyarakat ikut bergerak karena adanya kegiatan ini," imbuhnya.

Kirab pusaka tahun ini mengarak lima benda pusaka yang diyakini sebagai peninggalan bersejarah Ponorogo, yakni Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Nogo, Sabuk Angkin Cinde Puspita, Tombak Kyai Pamong Among Geni, dan Tombak Kyai Brama Geni.

Usai dijamas, pusaka-pusaka tersebut kembali disimpan di Rumah Dinas Pringgitan. Sementara air bekas jamasan menjadi rebutan warga yang meyakini air tersebut membawa berkah dan menjadi simbol tolak bala.

Rangkaian Grebeg Suro 2026 masih akan berlanjut dengan doa bersama pada malam penutupan serta tradisi Larungan Telaga Ngebel yang digelar keesokan harinya. Menurut Pemkab Ponorogo, seluruh rangkaian tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Ponorogo.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads