Punden Keramat di Nganjuk Diduga Sisa Candi Era Dharmawangsa Teguh

Punden Keramat di Nganjuk Diduga Sisa Candi Era Dharmawangsa Teguh

Bakrie - detikJatim
Senin, 22 Jun 2026 12:00 WIB
Punden Keramat di Bandaralim Nganjuk yang Diduga Sisa Candi Era Dharmawangsa Teguh
Punden Keramat di Bandaralim Nganjuk yang Diduga Sisa Candi Era Dharmawangsa Teguh/Foto: Bakrie/detikJatim
Nganjuk -

Tumpukan batu yang selama ini diyakini warga sebagai punden keramat di Dusun Bandaralim, Desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, diduga kuat merupakan sisa bangunan candi.

Punden tersebut berada sekitar 50 meter dari permukiman. Meskipun dekat dengan rumah warga, keberadaannya cukup tersembunyi karena dikelilingi pepohonan besar nan rimbun. Di sekitar kawasan itu juga mengalir sungai besar yang terhubung dengan Sungai Brantas.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk Sukadi mengatakan, ada beberapa temuan arkeologis di lokasi, yang menguatkan dugaan bahwa tumpukan batu itu bukan sekadar makam kuno atau punden.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satunya adalah ditemukannya kemuncak atau pucuk candi berbentuk kerucut. Lalu, juga ditemukan makara, yaitu ornamen khas candi yang umumnya berada di sisi tangga bangunan suci, bentuknya bulat," ujar Sukadi, Minggu (21/6/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Sukadi, kemuncak dan makara lazim dijumpai pada bangunan keagamaan masa Hindu-Buddha.

"Temuan kemuncak dan makara menjadi petunjuk penting bahwa di lokasi ini kemungkinan pernah berdiri sebuah bangunan candi," imbuhnya.

Lebih lanjut Sukadi mengatakan, lokasi punden tersebut juga menjadi tempat ditemukannya Prasasti Wwhan. Yakni prasasti batu penetapan sima atau tanah perdikan pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh, sekitar Tahun 975 Masehi.

Dharmawangsa Teguh sendiri merupakan raja terakhir Kerajaan Medang. Ia dikenal sebagai paman sekaligus mertua Raja Airlangga yang kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan.

Prasasti Wwhan yang ditemukan di kawasan Bandaralim kini disimpan di Museum Trowulan, Mojokerto. Menurut Sukadi, pada masa itu prasasti umumnya dibangun untuk menyokong keberadaan bangunan suci, tempat peribadatan, maupun kompleks candi.

"Prasasti sering dibangun di lokasi yang sama dengan dibangunnya candi," ungkapnya.

Adapun terkait pandangan masyarakat setempat yang meyakini kawasan tersebut sebagai punden keramat, Sukadi menilai hal itu justru membantu pelestarian situs.

"Dalam dunia arkeologi, situs ini dipermakamkan oleh masyarakat. Ada sisi baiknya karena dianggap sakral dan wingit, sehingga warga ikut menjaga keberadaannya agar tidak dijarah maupun dirusak," pungkas Sukadi.



(abq/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads