Pelaksanaan ritual sakral Yadnya Kasada 1948 Saka atau tahun 2026 di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, berlangsung khidmat di tengah kabut tebal dan suhu udara yang sangat dingin pada Senin (1/6/2026) dini hari.
Ribuan warga Suku Tengger memadati kawasan Pura Luhur Poten untuk mengikuti rangkaian upacara tahunan tersebut. Pada puncak perayaan Yadnya Kasada tahun ini, tiga Dukun Pandita baru resmi dikukuhkan. Mereka berasal dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, dan Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Romo Dukun Pandita Sutomo di Pura Luhur Poten yang berada di lautan pasir Gunung Bromo. Acara tersebut turut disaksikan Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo bersama ribuan umat Hindu Tengger yang hadir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai pengukuhan, rangkaian upacara dilanjutkan dengan pelayanan kepada umat yang akan melaksanakan ritual labuh atau larung sesaji.
Selanjutnya, para Dukun Pandita bersama masyarakat menuju kawah Gunung Bromo untuk melaksanakan ritual puncak berupa pelarungan hasil bumi sebagai bentuk persembahan dan ungkapan rasa syukur.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan, ritual larung sesaji merupakan tradisi turun-temurun yang menjadi kewajiban masyarakat Tengger kepada para leluhur.
"Larung atau labuh sesaji ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Tengger atas berkah hasil bumi yang diberikan. Karena itu, setiap Bulan Kasada, hasil pertanian dan berbagai persembahan harus dilabuhkan ke kawah Gunung Bromo," ujarnya.
Ribuan Warga Tengger Ikuti Larung Sesaji pada Yadnya Kasada di Bromo. (Foto: M. Rofiq/ detikjatim) |
Menurut Bambang, Yadnya Kasada bukan hanya menjadi sarana pelestarian budaya dan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
"Harapannya, kerukunan antarumat beragama dan khususnya sesama masyarakat Tengger tetap terjaga. Keharmonisan dengan Tuhan dan alam juga harus terus dipelihara agar kedamaian selalu hadir dalam kehidupan masyarakat," katanya.
Rangkaian Yadnya Kasada 1948 Saka berlangsung sebagaimana tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tengger.
Acara diawali dengan arak-arakan ancak atau sesaji yang dibawa warga, dilanjutkan dengan pembacaan sejarah Kasada, pengukuhan Dukun Pandita, hingga puncaknya berupa larung sesaji yang terdiri atas hasil bumi dan ternak ke kawah Gunung Bromo.
Sementara itu, Romo Dukun Pandita asal Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Agung Hudoyo, berharap pelaksanaan Yadnya Kasada tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh umat Hindu Tengger.
"Semoga setelah pelaksanaan Yadnya Kasada 1948 Saka ini, umat Hindu Tengger senantiasa diberikan keberkahan, keharmonisan, kedamaian, serta peningkatan rezeki. Semoga hasil pertanian dan peternakan masyarakat juga semakin melimpah," ungkapnya.
Meski cuaca dingin dan kabut tebal menyelimuti kawasan Bromo sejak dini hari, kondisi tersebut tidak mengurangi kekhusyukan umat dalam menjalankan ritual sakral yang menjadi salah satu warisan budaya dan spiritual masyarakat Tengger.
(ihc/hil)

