Tiga Dukun Pandita Tengger Dikukuhkan di Puncak Yadnya Kasada 2026

Tiga Dukun Pandita Tengger Dikukuhkan di Puncak Yadnya Kasada 2026

M. Rofiq - detikJatim
Senin, 01 Jun 2026 09:30 WIB
Bambang Suprapto Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo
Bambang Suprapto Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo (Foto: M. Rofiq/ detikjatim)
Probolinggo -

Rangkaian perayaan Yadnya Kasada 1948 Saka atau tahun 2026 akan digelar di kawasan Gunung Bromo. Salah satu agenda penting dalam upacara sakral masyarakat Tengger tersebut adalah pengukuhan tiga Dukun Pandita yang dilaksanakan di Pura Luhur Poten, lautan pasir Gunung Bromo.

Prosesi pengukuhan ini menjadi bagian dari tahapan ritual Yadnya Kasada yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat Tengger. Ketiga Dukun Pandita yang dikukuhkan sebelumnya telah mengikuti serangkaian ujian dan tahapan adat sebagai syarat untuk menjadi pemimpin spiritual umat Hindu Tengger.

Tiga Dukun Pandita yang akan dikukuhkan berasal dari Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, dan Desa Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, serta Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto menjelaskan, pengukuhan Dukun Pandita merupakan salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan Yadnya Kasada yang berlangsung pada Senin dini hari.

"Rangkaian Yadnya Kasada diawali dengan berbagai tahapan ritual, termasuk ujian calon Dukun Pandita kawasan Tengger. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, mereka kemudian dikukuhkan untuk menjalankan tugas pelayanan keagamaan kepada umat," ujarnya, Minggu (31/5/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Bambang, keberadaan Dukun Pandita memiliki peran strategis dalam menjaga kelangsungan tradisi, adat istiadat, serta nilai-nilai spiritual masyarakat Tengger. Mereka bertugas memimpin berbagai ritual keagamaan dan menjadi pengayom umat dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah prosesi pengukuhan, rangkaian Yadnya Kasada dilanjutkan dengan pelayanan kepada umat yang akan melaksanakan ritual labuh sesaji. Puncak perayaan ditandai dengan prosesi menuju kawah Gunung Bromo untuk melarung hasil bumi, ternak, dan berbagai persembahan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi atas berkah yang telah diberikan.

Tradisi sakral tersebut menjadi simbol pengorbanan, rasa syukur, serta penghormatan masyarakat Tengger terhadap leluhur dan alam semesta. Seluruh rangkaian kegiatan Yadnya Kasada kemudian ditutup pada keesokan harinya dengan doa bersama.

Bambang Suprapto menegaskan, makna utama Yadnya Kasada tidak hanya terletak pada pelaksanaan ritual semata, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan kehidupan.

"Harapannya, melalui Yadnya Kasada dan pengukuhan Dukun Pandita ini, keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam dapat terus terjaga. Dengan demikian, kehidupan yang damai, sejahtera, dan selaras akan senantiasa terwujud di tengah masyarakat," pungkasnya.



(ihc/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads