Semarak Tradisi Pawai Hewan Kurban Warga Kidul Pasar Kota Malang

Semarak Tradisi Pawai Hewan Kurban Warga Kidul Pasar Kota Malang

Muhammad Aminudin - detikJatim
Rabu, 27 Mei 2026 12:30 WIB
Tradisi arak-arakan hewan kurban di Kota Malang sebelum disembelih saat Idul Adha
Tradisi arak-arakan hewan kurban di Kota Malang sebelum disembelih saat Idul Adha (Foto: Muhammad Aminudin.detikJatim)
Malang -

Suasana kawasan Kidul Pasar, Kota Malang saat Idul Adha semarak dengan pawai hewan kurban. Puluhan kambing diarak sebelum disembelih setelah salat Id.

Tradisi ini sudah terjadi turun temurun di setiap perayaan Hari Raya Idul Adha. Tahun ini, sebanyak 87 ekor kambing dan 6 ekor sapi dijajarkan rapi di halaman Masjid An Noor sebelum mengular memadati jalanan kampung.

Mengenakan kaus seragam khas, komunitas pemuda setempat yang menamakan diri 'Black Embek' menjadi motor penggerak kemeriahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi mereka, momen kali ini terasa jauh lebih spesial karena bertepatan dengan perayaan satu dekade berdirinya komunitas tersebut.

ADVERTISEMENT

Hewan-hewan kurban diarak menempuh rute sekitar 1,5 kilometer, mulai dari Jalan Moh Yamin Gang 3 menuju Jalan Martadinata, sebelum akhirnya kembali ke titik awal.

Menariknya, pawai ini bukan sekadar tontonan hiburan keliling kampung. Ada esensi syiar dan alasan unik di balik ritual berjalan kaki ini.

"Tradisi arak-arakan ini sebenarnya adalah syiar agama, mengajak kepada seluruh masyarakat bahwasanya di sini ada wadah untuk penyembelihan kurban," Ketua Panitia Black Embek Kidul Pasar Aswin Muzaki kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).

Aswin menambahkan bahwa tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak era 1980-an.

Meski pengelolaan teknis hewan kurban tetap mempertahankan standar yang sama dari tahun ke tahun, euforia satu dekade komunitas Black Embek kali ini sengaja ditingkatkan untuk memberi kesan mendalam bagi warga.

Ciri khas lain yang membuat Kidul Pasar selalu dinanti saat Idul Adha adalah keberadaan kambing jumboan, sebuah istilah warga lokal untuk kambing-kambing berukuran raksasa. Perburuan hewan-hewan premium ini bahkan sudah dimulai jauh-jauh hari.

"Setelah Lebaran Idul Fitri teman-teman sudah mulai cari kambing jumboan. Di Kampung Kidul Pasar ini memang identik dengan kambing jumboan," ungkap Koordinator Black Embek Eki.

Di bawah kendali generasi muda, tradisi lama ini mengalami sentuhan modernisasi tanpa kehilangan kesakralannya. Eki menjelaskan bahwa proses regenerasi menjadi kunci utama agar budaya ini tidak punah.

Kini, konsep arak-arakan dikemas lebih terorganisir dengan pembenahan pada rute pawai, koreografi, hingga konsep acara yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Keunikan budaya lokal ini turut memikat perhatian Wali Kota Malang Wahyu Hidayat yang hadir langsung di tengah kerumunan warga.

Wahyu mengagumi kekompakan masyarakat dan menilai potensi besar yang dimiliki oleh tradisi Kidul Pasar ini.

"Hewan kurban ini diarak dengan sukaria, warganya kompak dengan seragam yang sama. Ini menjadi satu kearifan lokal. Ini bisa menjadi destinasi karena rangkaian penyembelihan hewan kurban di sini berbeda dengan daerah lain," puji Wahyu ditemui terpisah.

Selain mengapresiasi aspek budaya dan pariwisatanya, Wahyu juga mengacungkan jempol pada tata kelola penyembelihan di Masjid An Noor yang dinilai sangat baik.

Mulai dari prosedur pemeriksaan kesehatan hewan yang ketat hingga proses pemotongan yang higienis.

"Ini bisa menjadi destinasi, karena rangkaian penyembelihan hewan kurban berbeda dengan yang lain," pungkasnya.



(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads