Suasana Malang Creative Center (MCC) Kota Malang tampak berbeda dan penuh warna. Puluhan pelaku seni berkumpul dan menumpahkan kreativitas mereka di atas dinding dalam ajang Lomba Mural yang diinisiasi oleh Polresta Malang Kota.
Mengusung tema besar Suara Kita, kompetisi ini menjadi wadah bagi para seniman untuk menyampaikan aspirasi, kritik membangun, hingga apresiasi terhadap isu-isu sosial dan lingkungan.
Dari total hampir 47 peserta yang berpartisipasi, setiap tim membawa perspektif unik masing-masing. Ragam visual dipamerkan mulai dari pesan menggelitik seperti gambaran kemacetan Malang tanpa kehadiran polisi, aksi nyata penanaman pohon demi mengurangi polusi udara, hingga kelompok seni Teratai yang mengangkat isu kelestarian lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah kolaborasi apik 2 seniman asal daerah berbeda, Sobkhi yang datang dari Pemalang dan Robi Wijaya, seniman lokal asal Sukun, Kota Malang. Di atas media muralnya, mereka melukiskan sosok Ratu Keadilan yang dikelilingi simbol-simbol penuh makna mendalam tentang penegakan hukum di Indonesia.
Sobkhi menjelaskan bahwa konsep utama dari lukisan mereka adalah gambaran hukum yang ideal, di mana keadilan harus ditegakkan secara objektif tanpa melihat status sosial seseorang. Secara visual, konsep tersebut mereka simbolkan melalui timbangan dan dua jenis bulu yang sangat kontras.
"Jangan pandang bulu dalam menimbang. Ini ada bulu merak sama bulu bebek, jadi kita tidak boleh pandang bulu dalam menimbang. Itu hukum itu jangan mau melihat siapa yang melakukan kesalahan.
Tidak melihat sosoknya, tapi melihat kesalahannya. Harus adil," ucap Sobkhi ditemui di lokasi perlombaan, Senin (25/5/2026).
Tak hanya itu, di bagian bawah lukisan, mereka menggambarkan deretan pion catur yang dianalogikan sebagai simbol rakyat dari berbagai latar belakang. Mulai dari penyandang difabel, petani, aktivis lingkungan, hingga pelaku kejahatan seperti perampok dan koruptor.
Lomba mural Suara Kita di Malang Creative Center (MCC) Kota Malang. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim) |
Setiap karakter diberi tanda untuk membedakan sifat baik dan buruk. Sebagai penegas pesan, Sobkhi menambahkan kalimat lugas di bawahnya, yaitu 'Belenggu yang salah, merdekakan yang benar'.
Rekan duetnya dalam penggarapan mural, Robi Wijaya menambahkan bahwa konsep matang ini tidak lahir secara instan. Mereka telah melakukan persiapan dan diskusi intensif sepekan sebelum perlombaan dimulai agar pesan yang disampaikan lewat visual dapat berpadu sempurna dengan tema yang ditentukan oleh pihak kepolisian.
"Sebelumnya kita menyiapkan konsepnya, desainnya apa, untuk sesuai dengan tema yang dilombakan," imbuh Robi.
Tantangan terbesar dalam lomba ini bukanlah sekadar menyatukan ide, melainkan keterbatasan waktu pengerjaan. Normalnya, lukisan mural dengan detail serumit itu membutuhkan waktu 5 hingga 6 jam. Namun, karena regulasi kompetisi ketat, seluruh peserta dituntut 'kebut' pengerjaan dan menyelesaikan karya mereka hanya dalam waktu 4 jam.
"Ini harus ngebut, karena waktunya hanya 4 jam," pungkas Robi.
Sementara Kapolresta Malang Kota Kombes Putu Kholis Aryana menyatakan lomba mural ini bertujuan untuk memberikan ruang kepada masyarakat dan komunitas di Kota Malang dalam berekspresi.
"Tujuannya ingin memberi ruang kepada masyarakat, kepada komunitas di Kota Malang termasuk di tempat lain untuk berekspresi dalam seni mural," tegas Putu Kholis usai pembukaan.
Menurut Putu Kholis, hasil karya para seniman akan menjadi landasan personel Polresta Malang Kota untuk berbenah diri ke depannya.
"Nanti hasil-hasilnya akan juga jadi inspirasi bagi Polresta Malang Kota untuk bekerja lebih baik lagi ke depan," sambungnya.
(irb/dpe)

