Di balik ombak besar pesisir selatan Malang, terbentang sebuah lanskap alam yang kerap disandingkan dengan keindahan Phi Phi Island di Thailand. Laguna berair tenang dengan gradasi toska, pasir putih yang berpadu dengan rimbunnya hutan tropis, serta dinding karang yang melindungi kawasan dari gempuran Samudera Hindia, menjadi ciri khas Pulau Sempu.
Namun, keindahan tersebut menyimpan kenyataan yang kerap luput dari perhatian. Pulau Sempu bukanlah destinasi wisata terbuka bagi publik. Kawasan ini berstatus Cagar Alam (CA) yang dikelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, sehingga aksesnya dibatasi ketat demi menjaga kelestarian ekosistem hutan hujan dataran rendah yang tersisa di Jawa.
Pulau Sempu, Wisata Alam yang Dilindungi
Pulau Sempu di Kabupaten Malang Foto: Muhammad Aminudin |
Pulau Sempu sering dijuluki sebagai surga tersembunyi karena keindahan alamnya yang memukau, namun sejatinya kawasan ini adalah "surga yang tertutup" bagi aktivitas pariwisata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berstatus mutlak sebagai Cagar Alam di bawah naungan BBKSDA Jawa Timur, pulau ini memegang mandat konservasi tertinggi, di mana ekosistemnya harus dibiarkan berkembang secara alami tanpa intervensi manusia.
Segala bentuk kunjungan wisata dilarang demi menjaga keaslian habitat dan melindungi flora serta fauna langka yang menjadikan pulau ini sebagai salah satu benteng terakhir hutan hujan dataran rendah di Jawa.
Dilansir dari laman resmi BBKSDA Jatim, berdasarkan pembahasan draf perjanjian kerja sama perlindungan sumber daya alam di kawasan ini, poin-poin utamanya adalah sebagai berikut.
- Mandat Perlindungan Mutlak: Kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Alam untuk menjaga keaslian ekosistem, flora, dan faunanya agar berkembang secara alami tanpa campur tangan manusia yang merusak.
- Larangan Aktivitas Wisata: Meskipun memiliki pemandangan indah yang memikat banyak orang, Pulau Sempu secara tegas bukan tempat wisata. Aktivitas pariwisata dilarang karena dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kelestarian satwa liar yang berlindung di sana.
Penguatan Penjagaan: Draf perjanjian kerjasama ini disusun sebagai upaya memperkuat perlindungan kawasan dari berbagai ancaman, termasuk kunjungan ilegal. Tujuannya adalah memastikan bahwa "surga" ini tetap menjadi rumah yang aman bagi satwa langka dan vegetasi hutan hujan dataran rendah Jawa yang tersisa, bukan menjadi objek eksploitasi manusia. - Flora dan fauna yang ditemukan di Cagar Alam Pulau Sempu meliputi berbagai jenis. Untuk flora, terdapat Mangga Hutan, Kedondong Hutan, Kenanga, kepel, ketapang, bedengan, sempur, bendo, nyamplung, dan paku-pakuan. Ekosistem kawasan ini terdiri dari Hutan Pantai, Hutan Mangrove, Hutan Tropis dataran Rendah, dan Ekosistem Danau. Sementara itu, faunanya mencakup kucing hutan, macan tutul, kera abu-abu, kera hitam, trenggiling, musang, kalong, landak, kijang, babo hutan, Jelarang pecuk ular, cucak hijau, alap-alap, ayam hutan, jalak putih, burung hantu, sanca bodo, dan biawak.
Rangkong, jenis burung langka yang terekam hidup di Pulau Sempu Foto: Dokumentasi ProFauna Indonesia |
Pulau Sempu adalah surga yang harus dinikmati keberadaannya dari jauh dengan cara membiarkannya tetap liar dan tidak terjamah, sesuai dengan fungsinya sebagai benteng terakhir konservasi.
Lokasi dan Daya Tarik
DikutipDisperpusip Jatim, Pulau Sempu merupakan oase alam yang terletak di kawasan Malang Selatan, tepatnya tersembunyi di pedalaman Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Posisinya berada persis di seberang Pantai Sendang Biru, dipisahkan selat sempit yang menjadi gerbang menuju kawasan ini.
Secara administratif, pulau seluas sekitar 877 hektare ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sisi selatan, timur, dan barat, menjadikannya benteng alam yang memukau di pesisir selatan Jawa Timur.
Daya tarik utama yang menjadi "jantung" keindahan pulau ini adalah Segara Anakan, atau yang sering disebut sebagai "Danau Kayangan". Laguna tersembunyi ini menawarkan panorama yang kerap disandingkan dengan keindahan Pulau Phi Phi di Thailand, lokasi syuting film The Beach.
Dengan air laut dangkal berwarna kehijauan, pasir putih yang bersih, serta dinding tebing karang yang menjulang, tempat ini menciptakan suasana "seperti mimpi" yang membius siapa saja yang berhasil mencapainya.
Keunikan lainnya dari Pulau Sempu adalah fenomena deburan ombak Samudera Hindia yang menghantam tebing karang berlubang, menciptakan semburan air yang dramatis layaknya napas naga.
Pemadangan di Pulau Sempu Foto: Rina Rahma/d'traveler |
Perjalanan menuju keindahan tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi jiwa petualang. Karena statusnya sebagai Cagar Alam yang dilindungi, pengunjung tidak akan menemukan jalan beraspal atau fasilitas mewah, melainkan jalur trekking menantang yang membelah hutan tropis dataran rendah.
Sepanjang perjalanan, indera akan dimanjakan oleh suara kicauan burung dan aroma khas hutan pantai. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi kekayaan hayati, mulai dari vegetasi hutan mangrove, hutan pantai, hingga berbagai satwa langka seperti macan tutul dan elang, meskipun pohon Sempu yang menjadi asal-usul nama pulau ini justru sudah sangat langka ditemukan.
Namun, perlu diingat bahwa keindahan "surga" ini bukanlah objek wisata umum yang bebas dikunjungi. Sebagai kawasan Cagar Alam di bawah naungan BKSDA Jawa Timur, Pulau Sempu memiliki aturan ketat, di mana setiap kunjungan memerlukan izin khusus (SIMAKSI) untuk tujuan penelitian atau pendidikan.
Ketiadaan mata air tawar dan fasilitas penginapan menegaskan bahwa pulau ini dibiarkan tetap liar dan alami, sehingga siapapun yang masuk harus siap dengan peralatan mandiri dan mematuhi etika konservasi demi menjaga kelestarian ekosistemnya yang rapuh.
Keindahan Pulau Sempu mengajarkan kita sebuah definisi berbeda tentang mencintai alam, bahwa tidak semua keindahan harus dinikmati dengan cara didatangi, dijamah, atau diabadikan dalam bingkai swafoto.
Keberadaan Pulau Sempu sebagai Cagar Alam adalah pengingat keras bahwa alam liar membutuhkan ruang privat untuk memulihkan diri, bebas dari jejak kaki manusia dan riuh rendah pariwisata.
Membiarkan pulau ini tetap sunyi, liar, dan tak terganggu adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa diberikan. Biarlah "surga" ini tersembunyi dan terlindungi, agar kelak anak cucu kita masih bisa mengetahui bahwa Jawa pernah memiliki hutan purba yang lestari, meskipun mereka hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/irb)














































