Kisah Sulianto Bertahan 4 Dekade Produksi Wayang Timplong Khas Nganjuk

Kisah Sulianto Bertahan 4 Dekade Produksi Wayang Timplong Khas Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Minggu, 17 Mei 2026 15:00 WIB
Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.
Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Rumah sederhana di depan punden Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk itu sekilas tampak seperti tempat tinggal pada umumnya. Namun di salah satu ruangannya, pada dinding batu-bata yang tak ditutup semen dan cat, berjejer rapi aneka karakter wayang.

Rumah merangkap studio sederhana itu milik Sulianto (60). Ia dikenal sebagai perajin wayang timplong, khas Nganjuk. Sekilas, bentuk wayang timplong mengingatkan pada wayang kulit. Namun saat disentuh, terasa lebih tebal, kokoh, dan berat.

"Bahan bakunya memang bukan kulit. Tapi dari lembaran papan kayu mentaos," ujar Sulianto ditemui detikJatim, Selasa (5/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kayu mentaos ini adalah bahan baku yang sama, untuk membuat sandal tradisional bakiak. Ketebalan kayu untuk bahan baku itu biasanya 2 hingga 3 sentimeter. Dari papan-papan itulah, Sulianto memulai proses panjang. Dari menggambar pola dengan mal kertas, memahat, hingga memberi warna dengan cat khas wayang.

Di studionya berjajar rapi wayang setengah jadi maupun yang sudah rampung terbungkus plastik. Di sudut lainnya ada beberapa potongan kayu mentah yang menunggu disentuh tangan terampilnya.

ADVERTISEMENT

"Ini tinggal 100 karakter yang masih terpajang. Yang lainnya sudah terjual," imbuh Sulianto.

Wayang timplong memiliki nama lain wayang krucil. Adapun sebutan "timplong" berasal dari suara gamelan pengiring pertunjukan wayang yang mengeluarkan bunyi senada

"Karakternya mirip wayang kulit. Tapi ada yang khas," ujar Sulianto.

Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.Wayang khas ini dibuat dari kayu mentaos dengan proses pengerjaan yang detail dan memakan waktu hingga dua bulan. (Foto: Bakrie/detikJatim)

Ia mencontohkan, sosok Semar dalam versi timplong yang berwarna hitam, dengan rambut kuncir panjang terurai ke belakang.

"Namanya Kedrah, atau Sabdo Palon Noyo Genggong. Di beberapa desa seperti Ngliman, karakter ini disakralkan untuk ritual adat," urainya.

Sulianto adalah anak kedua dari tiga bersaudara, putra Jamiran "Gopre", dalang sekaligus perajin wayang timplong ternama asal Desa Nglawak, Kecamatan Prambon.

Saat remaja, ia sudah membantu sang ayah memproduksi wayang timplong.

Sulianto muda biasanya kebagian mengamplas kayu. Namun kala itu ia mengaku ogah-ogahan.

"Saya sering mlayu (kabur) kalau diminta mengamplas kayu. Maklum anak muda," kenangnya sambil tersenyum.

Pendiriannya berubah setelah menikah dan memiliki anak. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuatnya kembali pada warisan sang ayah.

Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.Deretan wayang timplong setengah jadi dan yang telah rampung tersusun rapi di studio milik Sulianto Foto: Bakrie/detikJatim)

Sejak 1986, Sulianto mulai serius menekuni kerajinan wayang timplong. Ia memilih menjadi perajin, bukan dalang.

Sesekali, ia ikut menjadi panjak atau pemain musik gamelan wayang. Sulianto biasanya menabuh saron atau demung mengiringi pementasan.

Di pertengahan 1980-an, satu karakter wayang dijualnya Rp 15 ribu. Di era itu disebutnya sudah cukup mahal. Adapun modal bahan baku kayu hanya Rp 1.500 per papan.

Seiring waktu, nilai karyanya ikut terangkat. "Sekarang yang paling murah Rp 1 juta, yang paling mahal bisa Rp 3 juta," tuturnya.

Harga itu sebanding dengan kerumitan. Karakter yang paling sederhana bisa rampung dalam 15 hari. Namun tokoh raksasa seperti Kumbakarna atau Rahwana membutuhkan waktu hingga dua bulan.

"Karena ukurannya besar, detailnya rumit, membutuhkan waktu dan ketelatenan ekstra," ungkap Sulianto.

Pembeli hasil karya Sulianto beragam. Mulai dari kolektor, pencinta seni, dalang, hingga pejabat.

"Kalau dalang bisa pesan 40 sampai 60 karakter sekaligus," ujarnya.

Perajin wayang timplong asal Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Nganjuk, Sulianto (60), menunjukkan hasil karya wayang kayu buatannya yang telah ditekuni selama empat dekade.Sulianto memperlihatkan karakter wayang timplong khas Nganjuk yang memiliki bentuk menyerupai wayang kulit, namun dibuat dari papan kayu mentaos sehingga lebih tebal dan kokoh. (Foto: Bakrie/detikJatim)

Pada 2020, Bupati Nganjuk saat itu, Novi Rahman Hidayat, membeli 10 karakter. Disusul Pj Bupati Sri Handoko Taruna pada 2023 yang memborong 25 wayang untuk dijadikan cinderamata tamu pemerintah daerah.

Tokoh-tokoh yang dipesan pun beragam. Dari punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hingga Pandawa Lima seperti Bima, Arjuna, dan Yudhistira.

Setia memproduksi wayang timplong selama empat dekade, Sulianto mengakui dirinya hanya satu dari sedikit perajin yang masih bertahan.

Menurut Sulianto, asal mula pertunjukan wayang timplong di Nganjuk diyakini dari Desa Jetis, Kecamatan Pace. Sementara perajin legendaris pernah lahir dari Dusun Seloguno, Desa Perning, Kecamatan Jatikalen. Namun kini sudah wafat dan tidak ada penerusnya.

"Saya berharap wayang timplong warisan asli Nganjuk ini tetap bisa lestari dan bertahan. Semoga anak-anak muda Nganjuk tidak melupakan dan mau ikut menjaga," harap Sulianto.



(ihc/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads