Jejak Kota Lama Sidoarjo di Dusun Kauman Jabon

Jejak Kota Lama Sidoarjo di Dusun Kauman Jabon

Suparno - detikJatim
Sabtu, 09 Mei 2026 17:45 WIB
Bekas gardu listrik peninggalan masa kolonial di Dusun Kauman Sidoarjo, jadi bukti majunya peradaban
Bekas gardu listrik peninggalan masa kolonial di Dusun Kauman Sidoarjo, jadi bukti majunya peradaban (Foto: Suparno Nodhor/ detikjatim)
Sidoarjo -

Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, menyimpan jejak sejarah panjang. Kawasan ini diyakini warga sebagai pusat kota lama Sidoarjo pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1800-an. Hal itu salah satunya terbukti dari sudah adanya aliran listrik masuk ke Dusun Kauman pada tahun 1930.

Hingga kini, puluhan rumah kuno bergaya kolonial masih berdiri kokoh di kawasan tersebut. Rumah-rumah itu memiliki ciri khas arsitektur tropis, seperti jendela besar untuk sirkulasi udara, ruangan luas, serta dinding bata tebal yang membuat suasana di dalam rumah tetap sejuk.

Tak hanya rumah tua, di Dusun Kauman juga masih terdapat bangunan bekas gardu listrik peninggalan masa kolonial. Bangunan itu disebut menjadi bukti bahwa kawasan tersebut sudah menikmati aliran listrik sejak sekitar tahun 1930, jauh sebelum Indonesia merdeka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gardu listriknya masih ada sampai sekarang, bangunannya masih berdiri kokoh. Tapi travonya sudah tidak ada," kata Fahmi kepada detikJatim, Jumat (8/5/2026).

ADVERTISEMENT

Fahmi, menjelaskan sementara itu rumah yang ditempatinya dibangun pada tahun 1903. Saat ini, rumah tersebut sudah dihuni generasi keempat keluarganya.

"Rumah ini dibangun tahun 1903, sekarang saya generasi keempat yang menempati," jelas Fahmi

Menurut Fahmi, kondisi rumah masih sangat kokoh dan belum pernah mengalami renovasi besar. Bahkan warna cat bangunan tetap dipertahankan seperti aslinya meski pernah dicat ulang.

"Warnanya tetap sama seperti dulu, tidak pernah diubah," ujarnya.

Fahmi menuturkan, rumah-rumah zaman dulu terasa jauh lebih adem dibanding bangunan modern saat ini. Meski tanpa pendingin ruangan, udara di dalam rumah tetap segar dan nyaman.

"Kalau masuk rumah rasanya sejuk. Tidak panas seperti rumah sekarang," ungkapnya.

Ia menyebut, berdasarkan cerita orang tua terdahulu, kesejukan itu berasal dari material bangunan yang berbeda. Dinding rumah dibuat dari campuran semen dan batu bata merah yang diproses khusus sehingga mampu menyerap panas.

Menurutnya, jumlah rumah peninggalan kolonial di Dusun Kauman diperkirakan mencapai 60 hingga 70 unit. Namun, tiap rumah dibangun pada waktu berbeda sesuai kemampuan ekonomi masing-masing pemilik pada masa itu.

Dahulu, mayoritas warga Dusun Kauman berprofesi sebagai pengusaha dan perajin batik. Hal itu membuat kawasan tersebut dikenal sebagai sentra batik sekaligus pusat perekonomian.

"Banyak pedagang dari luar datang ke sini, ada etnis Tionghoa, Arab, bahkan katanya ada yang dari Arab Saudi untuk beli batik," tutur Fahmi.

Ia menambahkan, para pengusaha batik saat itu juga tergabung dalam perkumpulan dagang atau koperasi untuk mengatur produksi dan pemasaran bersama.

Menurut cerita turun-temurun warga, sebelum pusat kota Sidoarjo berkembang seperti sekarang, kawasan Gedung Cangkring atau Dusun Kauman inilah yang menjadi pusat keramaian.

"Buktinya, saat daerah lain masih sawah atau hutan, di sini sudah padat rumah permanen karena masyarakatnya punya usaha batik," pungkas Fahmi.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads