Permainan tradisional bola kasti masih eksis di Kabupaten Pamekasan, khususnya di Kecamatan Kadur. Di tengah maraknya olahraga modern, para pemuda tetap antusias memainkan olahraga rakyat yang sarat nilai kebersamaan ini.
Bola kasti kerap dimainkan di lapangan terbuka dan bahkan dijadikan ajang perlombaan antarwarga. Setiap pertandingan pun berlangsung meriah dengan dukungan penonton dari berbagai kalangan.
Sebagai olahraga beregu, bola kasti tidak hanya mengandalkan kekuatan pukulan. Pemain juga dituntut memiliki kecepatan, kelincahan, serta kemampuan membaca arah bola, baik saat memukul maupun menghindari lemparan lawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam permainannya, bola yang dilempar akan dipukul sejauh mungkin, kemudian pemain berlari melewati sejumlah tiang benteng. Tantangan muncul saat pemain harus menghindari lemparan bola dari lawan. Jika terkena lemparan setelah memukul, pemain dinyatakan gugur.
Di Kecamatan Kadur, permainan ini biasanya ramai dimainkan saat masa jeda pertanian, terutama setelah panen padi.
"Ya kalo musim panen padi selesai, sering dimainkan oleh warga, sembari mengisi kekosongan dalam peralihan musim panen padi ke ke musim tanam tembakau," tutur Fauzi, warga Bung Baru, Kadur, Sabtu (2/5/2026).
Ia menambahkan, saat memasuki musim tanam tembakau, intensitas permainan mulai berkurang.
"Sewaktu-waktu tetap ada tapi tidak seramai saat pergantian musim," tambahnya.
Selain menjadi sarana olahraga, bola kasti juga mempererat hubungan antarwarga sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
Secara konsep, permainan ini memiliki kemiripan dengan baseball atau softball yang populer di luar negeri. Namun, bola kasti memiliki aturan yang lebih sederhana, baik dari sisi peralatan maupun sistem permainan.
Lapangan yang digunakan tidak memiliki ukuran baku, dan alat pemukulnya pun lebih sederhana. Perbedaan lain terletak pada cara mematikan lawan, di mana pemain bisa dinyatakan gugur jika terkena lemparan bola setelah memukul.
Dengan keunikan tersebut, bola kasti di Pamekasan tidak hanya menjadi olahraga, tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal yang terus dijaga di tengah arus modernisasi.
(auh/hil)
