Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat komitmen dalam memfasilitasi para pelaku seni di Kota Pahlawan. Terbaru, gedung bersejarah Balai Pemuda menjadi saksi kreativitas para seniman merayakan Hari Kartini.
Melalui kegiatan On The Spot (OTS) bertajuk "Beauty of Balai Pemuda Surabaya", para seniman berkumpul melukis bersama. Kegiatan yang digelar Sabtu (18/4) itu menjadi rangkaian peringatan Hari Kartini yang jatuh hari ini, 21 April.
Ketua Sanggar Merah Putih, M. Anis, menegaskan bahwa Balai Pemuda bukan sekadar gedung biasa. Tempat ini adalah "rahim" bagi lahirnya seniman besar Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berharap pemkot tetap mempertahankan Balai Pemuda sebagai kuasa kesenian. Ini sudah berlangsung sejak 1972. Dari sinilah lahir misalnya Gombloh, Leo Kristi, Franky Sahilatua, seniman-seniman yang kondang-kondang dulu berasal dari Balai Pemuda," ujar M Anis di sela kegiatan.
Menurut Anis, dukungan pemerintah sangat krusial karena kesenian tidak bisa diukur hanya dengan materi atau Pendapatan Asli Daerah (PAD). Seni adalah soal keseimbangan pembangunan sebuah kota.
"Memang kalau dilihat tidak menghasilkan, untuk PAD, kesenian tidak menghasilkan. Kesenian itu harus dibiayai oleh pemerintah. Karena ini untuk keseimbangan," tuturnya.
Ia pun secara khusus mengapresiasi langkah Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang tetap membuka ruang lebar bagi para seniman di Balai Pemuda. Anis bercerita bagaimana Galeri Merah Putih yang dikelolanya tetap eksis meski ukurannya mungil.
"Saya apresiasi Pak Wali (Eri Cahyadi) yang memperhatikan dan mempertahankan Balai Pemuda sebagai kuasa kesenian, dimana beliau menyatakan tetap semua kesenian bisa tampil di sini," sebutnya.
"Nah, kami di sini konsen pada seni lukis. Di sini setiap tahun ada 39 sampai 40 agenda pameran lukisan. Jadi padat sekali mungkin. Ini adalah galeri terkecil di Indonesia, tapi terpadat di Indonesia," ungkap Anis.
Meski sempat ada kekhawatiran terkait isu penggusuran beberapa waktu lalu, Anis merasa lega dengan kebijakan Pemkot saat ini. Ia pun berharap dukungan moral terus mengalir dari pemerintah.
"Sangat mendukung, dan saya berterima kasih pada keputusan Pak Wali yang kemarin. Kesenian tetap bisa di Balai Pemuda, saya dukung dan kita apresiasi. Saya berharap pemkot mendukung bukan berupa dana, tapi dukungan moral," harapnya.
Senada dengan Anis, pelaku seni tari senior Surabaya, Sri Mulyani, juga merasakan dukungan nyata dari Pemkot. Baginya, transformasi kelembagaan kesenian di Surabaya saat ini memberikan ruang gerak yang lebih luas.
"Kalau menurut saya kesenian itu mungkin lebih kecil ya, kalau budaya itu lebih meluas. Intinya itu bidang-bidangnya itu lebih luas," kata Sri Mulyani yang sudah menari sejak tahun 1982 tersebut.
Ia mengaku bangga karena fasilitas yang diberikan Pemkot, mulai dari gedung pertunjukan, sistem suara, hingga pencahayaan, kini sudah sangat memadai bahkan untuk skala internasional.
"Saya sangat bangga terhadap Pemerintah Kota Surabaya yang selama ini selalu memperhatikan pelaku budaya, saya mengalami sendiri ini. Sehingga kebutuhan saya untuk ingin memiliki fasilitas gedung yang memadai untuk mempresentasikan karya-karya teman-teman seluruh dunia, itu bisa terwujud dengan baik," tuturnya.
Tak hanya di dalam kota, dukungan Pemkot Surabaya bahkan menyentuh kegiatan seniman saat tampil di luar daerah.
"Di Balai Kota Surakarta itu kami difasilitasi misalnya dibantu konsumsinya, transportasi, seperti itu. Jadi supportnya banyak banget," katanya.
Menutup perbincangan, Sri Mulyani melihat atmosfer seni di Surabaya kini semakin bergairah dan dinamis, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
"Luar biasa sekarang ini apalagi agenda-agenda Kota Surabaya itu sangat menarik untuk mendatangkan wisatawan, bahkan untuk masyarakat bisa berekspresi," pungkasnya.
(auh/dpe)
