Di tengah geliat Surabaya sebagai kota dagang, ruang untuk seni rupa dinilai masih jauh dari cukup. Hal itu diungkapkan salah satu galeri, HaDiArtPlatform.
HaDiArtPlatform menjadi satu-satunya galeri asal Surabaya yang berpartisipasi dalam Art Jakarta Papers 2026 di City Hall Pondok Indah Mall 3, Jakarta, pada 5-8 Februari 2026. Gelaran ini diikuti 28 galeri yang seluruhnya menampilkan karya berbasis kertas, mulai lukisan, patung, hingga instalasi.
COO HaDiArtPlatform, Paulus Sugito mengungkapkan, keikutsertaan mereka bukanlah langkah instan. Sebelumnya, HaDiArtPlatform pernah menggelar pameran berbasis kertas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita memang sudah pernah pameran soal paper, saat itu di Tegalsari," ungkap Paulus kepada detikJatim, Jumat (13/2/2026).
Dalam Art Jakarta Papers, HaDiArtPlatform membawa karya seniman lintas daerah. Salah satunya Jopram dari Surabaya. Seniman lain berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Medan, bahkan Jerman.
Ia pun menekankan konsep yang diusung bukan sekadar galeri.
"Namanya saja art platform. Kalau pameran ya pameran, kalau performance ya performance. Dilihat temanya apa," ujarnya.
Menurutnya, medium kertas yang diangkat dalam Art Jakarta Papers justru menunjukkan fleksibilitas yang luas.
"Patung bisa dari kertas. Instalasi juga bisa. Kertas itu fleksibel, pemakaiannya lebih luas daripada kanvas. Tapi publik Indonesia masih menghargai kertas tidak seperti kanvas, jujur saja," katanya.
Ia pun mengapresiasi gelaran ini. Dirinya turut mengungkapkan kondisi Surabaya, menurutnya perlu lebih serius membangun ekosistem seni.
"Kita harus sadar Surabaya ini kota dagang. Tapi satu-satunya kota dagang yang art-nya bisa dibilang terlalu sedikit, bahkan kurang," katanya.
Ia membandingkan dengan New York maupun Jakarta yang sama-sama kota dagang, tetapi memiliki banyak galeri dan museum. Menurutnya, Surabaya seharusnya punya peluang serupa jika ada kemauan.
"Harapannya ruang untuk seni itu banyak. Bukan sekadar ruang pameran, tapi ruang interaksi dan lain sebagainya," harapnya.
Ia juga menyinggung dukungan pemerintah untuk memfasilitasi ruang bagi para pegiat seni.
"Di Jakarta tempat pameran yang punya negara ada berapa? Kalau di Surabaya ngoyo. Terakhir misal Art Subs di Balai Pemuda, sebetulnya kurang proper," tuturnya.
Yang dimaksud proper, lanjut Paulus, termasuk pula terkait manajemen galeri atau museum yang profesional. Ia menegaskan seluruh pihak seharusnya serius terhadap hal ini, sebab seni juga bagian dari pariwisata.
"Orang nggak sadar, ini termasuk pariwisata. Pariwisata itu nggak melulu objek wisata alam. Seni itu objek wisata. Biasanya kalau orang ke luar negeri, yang dituju museum dan perpustakaan," katanya.
Ia menyoroti animo masyarakat di Art Jakarta Papers 2026. Tercatat ada 9.289 pengunjung selama empat hari penyelenggaraan. Angka ini menunjukkan minat publik terhadap seni yang kuat.
"Harusnya kans untuk Surabaya ada, tinggal mau atau tidak," pungkasnya.
(auh/hil)
