Kediri dikenal tidak hanya sebagai kota dengan jejak sejarah panjang, tetapi juga kaya akan ragam budaya yang masih lestari hingga kini. Berbagai tradisi, kesenian, hingga upacara adat menjadi bagian dari identitas masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Keberagaman budaya tersebut menjadikan Kediri mempunyai daya tarik tersendiri, baik bagi wisatawan maupun peneliti budaya. Lantas, apa saja deretan budaya khas yang dapat ditemukan di Kediri Jawa Timur? Yuk simak selengkapnya di bawah ini.
Deretan Budaya Kediri
Kekayaan budaya di Kediri tercermin dari beragam tradisi yang masih dijaga dan dijalankan hingga saat ini. Setiap ritual dan upacara adat tidak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga mengandung nilai sejarah, kepercayaan, serta kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Upacara 1 Suro
Salah satu budaya di Kediri adalah upacara adat di Petilasan Sri Aji Joyoboyo. Upacara tersebut digelar setiap tanggal 1 Suro atau Muharram sejak tahun 1976 yang berlokasi di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.
Peringatan ini bertujuan salah satunya untuk mengenang kebesaran Sri Aji Joyoboyo yang menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Kediri. Sejak tahun 2000, ritual tersebut telah terdaftar sebagai objek wisata budaya dan dikelola pemerintah daerah.
Masyarakat setempat juga membentuk komunitas Paguyuban Sri Aji Joyoboyo untuk menjaga kelestarian tradisi ini. Setiap tahunnya, kawasan tersebut selalu dipadati warga yang ingin mengikuti serta menyaksikan rangkaian upacara adat yang sarat akan nilai sejarah tersebut.
2. Kebur Ubalan
Selanjutnya, ada tradisi kebur ubalan yang merupakan tradisi sebagai bentuk syukur atas sumber mata air yang mengaliri sawah ladang meskipun di musim kemarau. Tradisi ini digelar setiap tahun pada bulan Suro penanggalan Jawa, dan diikuti puluhan warga Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten.
Kegiatan tradisi tersebut, yakni saling siram air dan mencipratkan air ke warga lain serta pengunjung di sumber ubalan. Selain itu, mereka juga berebut gunungan yang berisi dengan hasil bumi. Mereka meyakini bahwa hasil bumi yang didapatkan dari gunungan tersebut akan mendatangkan berkah.
Menurut kepercayaan setempat, asal-usul sumber mata air Ubalan berkaitan dengan kisah romansa Gendam Smaradana, dan permaisuri Adipati Panjer yang dikejar warga karena dianggap merebut istri orang.
Saat terdesak, keduanya melompat ke sebuah sumber air yang kemudian meluap (mubal-mubal), sehingga dinamakan Ubalan. Dalam mitologi lokal, keduanya diyakini tidak pernah muncul kembali, sehingga sumber mata air tersebut juga dikenal sebagai Sendang Pengantin.
3. Manusuk Sima
Manusuk Sima merupakan upacara sakral yang digelar setiap tahun untuk memperingati hari jadi Kota Kediri pada 27 Juli. Tradisi ini memiliki akar sejarah yang kuat, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kwak yang menyebutkan berdirinya Kediri pada hari Senin Legi, 27 Juli 879.
Pada masa itu, Dusun Kwak ditetapkan sebagai tanah sima atau daerah perdikan yang memiliki keistimewaan. Wilayah ini dikenal subur karena dialiri Petirtaan Tirtoyoso, yang diyakini menjadi salah satu penopang utama kehidupan masyarakat Kediri sejak dahulu.
Manusuk Sima menjadi wujud syukur atas berkah tersebut, sekaligus doa agar masyarakat terhindar dari bencana dan kekeringan. Mengacu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, ritual ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dan keselamatan yang diberikan.
4. Mbeleh Golekan
Mbeleh Golekan menjadi salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini di Desa Kandangan, Kediri, Jawa Timur. Tradisi ini merupakan ritual membersihkan lingkungan desa.
Masyarakat setempat percaya apabila tradisi ini tidak dilakukan maka masyarakat akan mendapat sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan demikian, tradisi penyembelihan golekan menjadi tradisi tolak bala di Desa Kandangan.
Mbeleh Golekan berasal dari bahasa Jawa yaitu mbeleh dan golekan. Mbeleh artinya menyembelih, sementara golekan berarti boneka.
Dalam praktiknya, menyembelih boneka bukan dilakukan secara harfiah seperti menyembelih makhluk hidup, melainkan sebagai simbol pengorbanan dalam ritual adat. Tradisi ini diyakini telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit.
Tradisi Mbeleh Golekan biasanya digelar pada Jumat Pahing pada bulan Suro. Pelaksanaannya diiringi dengan pemberian sesaji sebagai bagian dari ritual yang sarat dengan nilai kepercayaan dan tradisi masyarakat setempat.
5. Larung Sesaji
Larung Sesaji merupakan tradisi budaya masyarakat Kediri, khususnya yang tinggal di sekitar aliran sungai atau sumber air. Tradisi ini umumnya digelar di Sungai Brantas, tepatnya di kawasan Pasar Bandar Kediri.
Prosesi ini dilakukan dengan menghanyutkan berbagai sesaji, seperti hasil bumi, makanan tradisional, sayuran, hingga kepala sapi dan unggas ke sungai sebagai bentuk persembahan kepada alam. Setelah proses larung, gunungan sesaji biasanya diperebutkan warga untuk dibawa pulang atau disantap bersama.
Berdasarkan laman resmi Pemerintah Kota Kediri, Larung Sesaji dilaksanakan sebagai simbol harapan agar segala kesulitan, penyakit, dan musibah dapat terbawa arus sungai, sehingga tercipta kehidupan yang lebih damai dan sejahtera bagi masyarakat.
Itulah sederet budaya khas yang masih dilestarikan dan menjadi ciri khas masyarakat Kediri. Semoga bermanfaat!
(irb/hil)











































