Di tengah geliat wisata, banyak masyarakat mulai menoleh kembali pada situs-situs kuno yang menyimpan cerita panjang lintas zaman. Di Jawa Timur, sejumlah lokasi tak hanya merekam satu peradaban, tetapi pertemuan dua tradisi besar dalam sejarah Nusantara. Salah satunya adalah Situs Setono Gedong di Kediri
Tempat wisata ini menyimpan jejak peradaban Hindu dan Islam dalam satu kawasan. Kompleks makam kuno ini menjadi bukti bagaimana arsitektur dan tradisi Hindu berpadu unsur Islam dalam satu ruang sejarah yang sama, menggambarkan transisi keyakinan masyarakat di wilayah bekas Kerajaan Kadiri pada masa lampau.
Situs ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi sumber penting bagi kajian sejarah dan kebudayaan Jawa. Artikel ini mengulas latar belakang situs tersebut, temuan arkeologisnya, serta makna pentingnya bagi sejarah dan identitas budaya daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jejak Sejarah Situs Setono Gedong
Jantung dari situs bersejarah ini adalah makam Syekh Al-Wasil Syamsudin atau yang akrab disebut Mbah Wasil. Dikutip dari jurnal berjudul "Perkembangan Wisata Religi Syaikh Syamsudin Al-Wasil di Kelurahan Setono Gedong, Kecamatan Kota Kediri, Kota Kediri Tahun 2003-2023" yang ditulis Rizky Anisa Johara, berdasarkan tutur sejarah lisan yang dijaga juru kunci makam, Mbah Wasil bukanlah pendakwah biasa.
Ia diyakini menyebarkan Islam di Kediri jauh sebelum era Wali Songo mempopulerkan dakwah lewat simbol budaya. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan Mbah Wasil hidup sezaman dengan Raja Sri Aji Jayabaya, penguasa termasyur Kerajaan Kadiri pada abad ke-12.
Keberadaannya menandakan bahwa interaksi antara ulama Islam dan penguasa Hindu di Jawa Timur sudah terjalin sangat lama, melampaui dugaan banyak sejarawan umum. Mbah Wasil dikenal menggunakan pendekatan tasawuf dan personal, merangkul masyarakat Kediri yang kala itu masih memegang teguh kepercayaan lama.
Hubungan harmonis antara ulama dan umara (penguasa) di masa lalu terekam jelas dalam latar belakang berdirinya situs ini. Menurut riwayat yang tersebar di masyarakat, kompleks Setono Gedong konon merupakan tanah perdikan (hadiah) yang diberikan langsung oleh Prabu Sri Aji Jayabaya kepada Mbah Wasil.
Pemberian ini diyakini sebagai bentuk penghormatan raja atas jasa dan kebijaksanaan Mbah Wasil dalam membantu kerajaan dan masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa toleransi beragama di Kediri memiliki akar sejarah yang sangat kuat dan panjang.
Arsitektur Masjid Setono Gedong
Situs Setono Gedong terletak di kawasan Masjid Auliya' Setono Gedong. Kesan multikultural langsung terasa pada bangunan utama masjid. Dilansir Disperpusip Jatim, pengaruh arsitektur Tionghoa dominan pada atap yang bersusun layaknya pagoda, serta gaya pintu masuk yang mengingatkan pada kuil-kuil di Asia Timur.
Namun, unsur Jawa tetap dipertahankan dengan kuat. Di bagian belakang masjid, terdapat bangunan pendopo dengan atap tumpang tingkat tiga. Di puncaknya, terpasang mustaka (mahkota atap) yang menjadi ciri khas bangunan tradisional Jawa.
Kombinasi ini menciptakan harmoni visual yang indah dan tidak kaku. Meski berfungsi sebagai masjid, tata ruang kompleks Setono Gedong ternyata mengadopsi konsep tata ruang candi Hindu. Area ini terbagi menjadi tiga halaman yang berurutan ke belakang.
Filosofi ini mirip dengan konsep kaki, lereng, dan puncak gunung dalam kepercayaan Hindu, di mana semakin ke belakang atau ke atas, areanya dianggap semakin suci.
- Bagian Depan: Masjid Induk sebagai area publik.
- Bagian Tengah: Pendopo yang dibangun di atas reruntuhan struktur candi lama.
- Bagian Belakang (Utama): Makam Syekh Wasil Syamsudin sebagai area yang paling disakralkan.
Ornamen hiasan di dinding masjid dan makam pun memiliki fungsi ganda. Selain mempercantik bangunan (dekoratif) dengan motif teratai dan dedaunan, ukiran ini juga dipercaya memiliki nilai filosofis dan spiritual.
Salah satu ikon menarik di sini adalah pintu gerbang atau gapura yang dibangun pada tahun 2002. Gapura ini memadukan seni tradisional dan modern dengan detail yang penuh simbol berikut.
- Arca Garudeya (Garuda): Terletak di bagian atas gapura, digambarkan membawa kendi. Garuda melambangkan pengorbanan, sementara kendi berisi air amertha melambangkan kesucian. Ini menyimbolkan semangat pengorbanan Mbah Wasil dalam menyebarkan Islam.
- Bunga Matahari: Terletak di sisi depan, melambangkan penerangan. Ini selaras dengan nama "Syamsudin" (Syam) yang dalam bahasa Arab berarti matahari.
- Makna "Gapura": Kata ini dimaknai dari bahasa Arab "Ghafur" yang berarti pengampunan. Melewati gapura masjid dimaknai sebagai langkah pertobatan manusia untuk memohon ampunan kepada Allah SWT (Al-Ghaffar).
- Masuk ke bagian serambi masjid, suasana terasa lapang dan sejuk. Tiang-tiang penyangga dihiasi ornamen lafal "Allah", sementara dinding di atas pintu masuk dipenuhi ukiran kaligrafi ayat suci Al-Qur'an yang membentang dari selatan ke utara. Konon, selain sebagai hiasan, kaligrafi ini dipercaya masyarakat setempat sebagai penolak bala atau gangguan roh jahat.
Tak ketinggalan, di pojok timur laut serambi, tersimpan benda bersejarah berupa dua kentongan kayu. Salah satu kentongan tersebut memiliki ukiran tanggal pembuatan, yakni 17 April 1986, yang kini bersanding dengan bedug masjid sebagai penanda waktu salat.
Arsitektur Makam Setono Gedong
Jejak fisik akulturasi tersebut masih bisa kita saksikan hingga hari ini lewat arsitektur bangunan di kompleks Setono Gedong. Saat memasuki area ini, pengunjung seolah diajak kembali ke masa peralihan Majapahit atau Kadiri.
Gapura masuk menuju makam berbentuk Paduraksa, gaya arsitektur klasik yang lazim ditemui pada bangunan candi Hindu-Buddha. Begitu pula dengan dinding-dinding pagar yang mengelilingi makam para kerabat dan pengikut setia, yang menyiratkan nuansa kerajaan masa lampau.
Di area masjid, terdapat tumpukan batu-batu andesit tua yang tertata rapi. Para ahli menduga kuat bebatuan ini adalah fondasi candi yang belum selesai dibangun atau dialihfungsikan. Nama "Setono Gedong" sendiri dapat dimaknai sebagai "Makam Gede" atau tempat peristirahatan agung yang menyerupai istana (gedong).
Keberadaan ornamen candi di tengah situs Islam ini menjadi pesan bisu dari masa lalu, bahwa perubahan keyakinan di Kediri tidak terjadi melalui penghancuran, melainkan melalui adaptasi dan berdampingan secara damai.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/irb)











































