Meriahnya Kirab Gunungan Ketupat di Kepuhbener Nganjuk

Meriahnya Kirab Gunungan Ketupat di Kepuhbener Nganjuk

Bakrie - detikJatim
Sabtu, 28 Mar 2026 10:31 WIB
Kemeriahan Kirab Gunungan Ketupat di Kepuhbener, Nganjuk
Kemeriahan Kirab Gunungan Ketupat di Kepuhbener, Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Ratusan warga Dusun Kepuhbener, Desa Kadungrejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk menggelar kirab gunungan ketupat, Sabtu (28/3/2026) pagi.

Tradisi yang dikenal dengan sebutan "kupatan" ini rutin digelar setiap hari ketujuh setelah Idul Fitri atau dikenal dengan lebaran ketupat.

Pantauan detikJatim di lokasi, kirab yang dimulai pukul 06.00 WIB itu berlangsung meriah. Sesepuh dusun, bapak-bapak, ibu-ibu hingga anak-anak turut ambil bagian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka kompak mengenakan busana khas Jawa. Para pria mengenakan lurik dipadu blangkon atau peci hitam. Sementara yang wanita tampil anggun dengan kebaya Jawa dipadukan jilbab.

Prosesi kirab diawali dari depan salah satu rumah warga. Empat gunungan ketupat yang tersusun dari ratusan ketupat matang ditandu bersama-sama.

ADVERTISEMENT

Di belakangnya, ibu-ibu menggendong sayur pelengkap ketupat dalam keranjang bambu yang diikat dengan selendang jarik. Sebagian bapak-bapak juga ikut memikul keranjang berisi sayur ketupat.

Arak-arakan menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 350 meter, sampai di Masjid Al Huda. Masjid ini menjadi pusat kegiatan ibadah umat Muslim dusun setempat.

Kemeriahan Kirab Gunungan Ketupat di Kepuhbener, NganjukKemeriahan Kirab Gunungan Ketupat di Kepuhbener, Nganjuk (Foto: Bakrie/detikJatim)

Setibanya di lokasi, warga langsung berkumpul untuk mengikuti doa bersama. Mereka meyakini, gunungan ketupat yang telah didoakan akan mendatangkan berkah.

Usai doa bersama, suasana berubah menjadi riuh saat warga berebut gunungan ketupat. Mereka ramai-ramai mencabut ketupat dan rangkaian janur dari gunungan lalu dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga di rumah.

Salah satunya adalah Romdiyah, (40), yang jauh-jauh datang dari desa lain, tepatnya Desa Demangan, Kecamatan Tanjunganom, untuk ikut tradisi berebut ketupat.

"Saya bawa pulang ketupatnya. Semoga membawa berkah untuk keluarga saya di rumah," ujar Romdiyah yang datang bersama anaknya.

Ini sudah kedua kalinya Romdiyah mengikuti kirab ketupat di Dusun Kepuhbener.

Tokoh masyarakat Dusun Kepuhbener sekaligus penggagas kirab ketupat, Zuhal Ahmadi, menyebut tradisi ini bukan sekadar seremoni. Tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menjaga kerukunan warga.

"Ini sudah tahun ketujuh acara ini digelar rutin. Tepatnya 7 hari setelah Idul Fitri atau biasa disebut lebaran ketupat. Lebarannya umat Muslim setelah melaksanakan puasa Syawal," terang Zuhal.

Penggunaan busana adat Jawa disebut Zuhal memiliki makna historis. Menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk napak tilas syiar Islam oleh Wali Songo yang memadukan budaya Jawa dengan ajaran agama agar mudah diterima masyarakat.

"Kita mengadopsi tradisi-tradisi Islam di Jawa, yang sudah dimulai oleh Wali Songo. Contohnya ketupat ini yang adanya hanya di Indonesia, khususnya di Jawa," ungkap Zuhal.

Masjid Al Huda yang menjadi titik akhir kirab juga memiliki nilai historis bagi warga dusun setempat. Masjid tersebut menurut Ahmadi dipercaya sebagai lokasi awal penyebaran Islam di Dusun Kepuhbener.

"Warga menganggap masjid ini sebagai pepunden atau tempat yang dihormati," pungkasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads