Melihat Tradisi Ziarah Kubur Massal ala Warga Wonoanti Pacitan

Melihat Tradisi Ziarah Kubur Massal ala Warga Wonoanti Pacitan

Purwoto Sumodiharjo - detikJatim
Senin, 16 Feb 2026 11:15 WIB
Ziarah makam massal warga Pacitan jelang Ramadan
Ziarah makam massal warga Pacitan jelang Ramadan/Foto: Purwoto Sumodiharjo/detikJatim
Pacitan -

Ziarah makam telah menjadi tradisi rutin di banyak tempat jelang Ramadan. Sebagian masyarakat juga mengulangnya sebelum Idul Fitri tiba. Namun, yang dilakukan warga Desa Wonoanti, Pacitan ini tergolong unik. Ziarah tak dilakukan secara pribadi melainkan bersama seluruh warga desa.

Sejak pagi, warga tampak lalu lalang di komplek Pemakaman Umum Kacangan di Dusun Pojok. Mereka tampak mengamati satu per satu batu nisan. Tujuannya untuk mengenali identitas keluarga yang dikuburkan di tempat itu.

Warga yang sudah menemukan lokasi makam lantas membersihkannya dari daun kering dan rumput liar. Sebagian juga terlihat menabur bunga di atas nisan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pekuburan yang biasanya sepi berubah ramai. Tak hanya pria, sejumlah wanita yang memiliki leluhur di makam tersebut ikut berziarah. Ada pula yang membawa serta anak berusia remaja. Bagi mereka momen jelang Bulan Puasa menjadi pengingat untuk mengenang sesepuh yang telah pergi mendahului.

ADVERTISEMENT

"Tugas kita di dunia adalah meneruskan kebaikan almarhum almarhumah kemudian mendoakan semoga mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT," kata Noto, warga setempat kepada detikJatim, Senin (16/2/2026).

Noto bersama ratusan warga lain sudah berada di lokasi makam keluarga masing-masing ketika seorang pria sepuh tiba di komplek pekuburan. Mengenakan baju gamis dengan paduan celana berwarna biru dan berkopiah, ia terdengar menyapa peziarah dengan salam.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucapnya dengan suara lantang. Kalimat itu pun disahut dengan jawaban salam serentak.

Pria tersebut bernama Nasruddin. Ia dikenal sebagai tokoh agama di lingkungan setempat. Kini, Nasruddin duduk di atas tikar yang telah digelar sebelumnya. Di sampingnya duduk Yudi Sutarta, Pj Kepala Desa Wonoanti. Prosesi berikutnya adalah doa bersama.

"Sumonggo kulo dherekaken sesarengan maos kalimah thayyibah tahlil sak jangkepipun kagem poro ahli kubur (Mari saya antarkan membaca kalimah thayyibah tahlil selengkapnya untuk para ahli kubur)," tuturnya.

Selama hampir 20 menit suasana khidmat terasa di pemakaman yang terletak tak jauh dari permukiman tersebut. Semua wajah peziarah tertunduk, sementara mulut komat-kamit mengikuti rapal yang dibaca sang Imam. Mereka lantas serentak menengadahkan tangan seraya berucap 'Aamiin' kala Nasruddin memimpin bacaan doa untuk ahli kubur.

Berakhirnya bacaan doa menuntaskan prosesi ziarah. Meski begitu warga tak langsung pulang. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk saling berjabat tangan.

Obrolan hangat juga terdengar di antara mereka. Topiknya beragam. Mulai kehidupan sehari-hari hingga persiapan menyambut Bulan Suci. Tradisi ziarah massal pun menjadi sarana menguatkan tautan kekerabatan antarwarga desa di belahan timur 'Kota 1.001 Gua'.

"Kalau bicara tradisi ziarah makam sebenarnya sudah ada secara turun temurun. Tapi khususnya di Desa Wonoanti ini warga sepakat melaksanakannya secara bersama-sama," kata Yudi Sutarta, ASN Kecamatan Tulakan yang hampir setahun ditugaskan memimpin Desa Wonoanti.

"Tentu saja semangat yang ingin ditumbuhkan adalah kebersamaan, gotong royong, serta kekompakan sebagai sesama warga desa," imbuh Yudi seraya berharap nilai luhur yang ada tetap dilestarikan.




(dpe/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads