Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan lampion, barongsai, hingga kuliner khas yang memadati kawasan pecinan. Suasana itu terasa di Kota Pahlawan melalui festival dan pagelaran dengan tajuk Kya-Kya Chunji Fest Vol.3 yang menjadi bagian dari semarak Imlek 2026.
Festival yang digelar di kawasan Kembang Jepun ini berlangsung selama tiga hari, tepatnya 14-16 Februari 2026. Sejak hari pertama, pengunjung tampak memadati area festival untuk menikmati pertunjukan seni, wisata kuliner, hingga aktivitas komunitas yang dihadirkan panitia.
Panitia Pelaksana dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Annisa Zaraswati (39), mengatakan Kya-Kya Chunji Fest merupakan agenda tahunan untuk menyemarakkan hari besar keagamaan Imlek di Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun kemarin sempat hujan ya, itu tidak mengurangi antusias pengunjung," ujar Annnisa.
Menurut Annisa, beragam momentum keagamaan pada 2026, termasuk Imlek yang berdekatan dengan awal Ramadan, tidak menjadi hambatan bagi pemerintah kota untuk tetap menghadirkan ruang seni dan budaya bagi masyarakat.
"Kya-Kya Chunji Fest ini agenda tahunan. Kami ingin tetap memberi ruang bagi warga menikmati seni budaya meskipun kalender perayaan cukup berdekatan," ujarnya.
Annisa berharap Kya-Kya Chunji Fest tidak sekadar menjadi perayaan musiman, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian budaya Pecinan Surabaya yang masih memiliki rumah abu, kelenteng, dan tradisi asli.
"Di sini kita masih bisa belajar budaya Pecinan Surabaya yang autentik. Apalagi pengunjung bisa menilik satu-persatu apa saja yang ada di kawasan Pecinan ini. Harapannya kawasan ini terus hidup, tidak hanya saat Imlek," pungkasnya.
Festival tahun ini ditutup dengan pertunjukan kembang api di hari terakhir tepat pada malam Imlek. Selain itu, setiap harinya dihadirkan pertunjukan berbeda, misalnya kemarin terdapat pertunjukan Wayang Potehi dari Wayang Potehi Lima Merparti, tari Tionghoa oleh Cariens Dancer, pertunjukan musik band dari Lewong Akustik.
Semarak Kya-Kya Chunji Fest Vol.3 sambut Imlek 2026 Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Di hari kedua, Kya-Kya Chunji Fest Vol.3 menghadirkan pertunjukan Barongsai oleh Boen Bio Lion Dance, penampilan Kecapi oleh Rumah Kecapi, tari Tionghoa oleh Cariens Dancer, Perkusi oleh Gaman Perkusi, live music band oleh Don Joean Band.
"Tentu saja pertunjukan Barongsai kita hadirkan setiap hari di awal dan akhir acara. Kan itu yang paling ditunggu-tunggu apalagi anak-anak," kata Annisa.
Annisa menjelaskan penyelenggaraan festival melibatkan kolaborasi lintas dinas. Disbudporapar menjadi penanggung jawab utama, sementara kebersihan didukung Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pengamanan oleh Satpol PP, serta dukungan evakuasi dari DPKP dan BPBD.
"Ini kolaborasi lintas sektor. Jadi tidak hanya satu dinas, tapi bersama-sama mendukung kelancaran acara," jelasnya.
Dari sisi ekonomi, festival ini menghadirkan 54 tenant UMKM yang mayoritas berasal dari kawasan Pecinan Kembang Jepun. Selain itu, terdapat delapan tenant undangan dari hotel dan pelaku usaha kuliner, baik makanan halal maupun non-halal sehingga pilihan bagi pengunjung lebih beragam.
Annisa menyebut jumlah pengunjung pada momen spesial seperti Imlek bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 orang per hari. Sementara pada hari biasa, kawasan Kya-Kya yang buka tiap hari Jumat hingga Minggu rata-rata dikunjungi sekitar 500 orang.
"Tahun ini kami juga mengundang influencer kuliner agar masyarakat tahu Kya-Kya tidak hanya buka saat Imlek, tapi rutin setiap minggu," katanya.
Festival ini juga terintegrasi dengan paket wisata walking tour kawasan Pecinan. Pengunjung yang mengikuti tur mendapatkan voucher Rp 25.000 untuk berbelanja di Kya-Kya, sehingga mendorong perputaran ekonomi tenant.
Keunikan Kya-Kya Chunji Fest Vol.3 tidak hanya pada kuliner dan pertunjukan seni, tetapi juga keterlibatan komunitas. Salah satunya komunitas reptil independen Surabaya yang menghadirkan edukasi dan sesi foto bersama hewan seperti iguana, kadal, hingga ular piton.
Perwakilan komunitas Reptil Independen Surabaya, Joko Gondrong (41), mengatakan keikutsertaan mereka bertujuan menghibur sekaligus memberi edukasi kepada pengunjung, terutama anak-anak.
"Kami diundang dengan membawa beberapa reptil seperti iguana, gecko, dan piton. Senang bisa ikut meramaikan dan mengenalkan reptil ke masyarakat. Apalagi kalau ular itu sekalinya jinak bisa jinak ke semua orang, jadi aman untuk pengunjung," ujar Joko.
Antusiasme pengunjung terlihat dari kehadiran keluarga yang datang bersama anak-anak. Salah satunya Arkananta Bayu Satyo (8) yang datang bersama orang tuanya. Ia mengaku baru pertama kali datang dan tertarik dengan musik Tionghoa serta pertunjukan barongsai.
"Seru, aku suka musiknya. Pengen sering ada acara kayak gini," kata Arkananta.
Tidak hanya dihadiri pengunjung lokal, festival yang diagendakan setahun sekali ini juga menarik wisatawan mancanegara seperti Christ (46) asal Amsterdam yang ditemui oleh detikJatim di lokasi.
"I have been in Indonesia 3 times, but this is my very first time come to Surabaya. It's really beautiful here and the people are so friendly. So, there should always be hope," tutur Christ.
(ihc/abq)












































