Festival Kadhisah, Tumpeng Kue Cucur Sambut Ramadan di Bondowoso

Festival Kadhisah, Tumpeng Kue Cucur Sambut Ramadan di Bondowoso

Chuk Shatu Widharsa - detikJatim
Minggu, 15 Feb 2026 16:42 WIB
Arak-arakan tumpeng kue cucur menyambut datangnya Ramadan di Festival Kadhisah Bondowoso.
Arak-arakan tumpeng kue cucur menyambut datangnya Ramadan di Festival Kadhisah Bondowoso. (Foto: Chuk Shatu Widharsa/detikJatim)
Bondowoso -

Sebuah acara selamatan desa yang dikemas dalam bentuk festival digelar warga desa di Bondowoso. Di acara itu hanya ada satu makanan yang disajikan, yakni kue cucur.

Selamatan desa bertajuk Festival Kadhisah itu diadakan warga Desa Jurangsapi, Kecamatan Tapen, Bondowoso. Kadhisah dalam bahasa setempat (Madura) artinya meruwat desa.

Festival Khadisah itu merupakan tradisi yang digelar setiap tahun. Biasanya diadakan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Acara itu didahului ratusan warga mengarak gunungan atau tumpeng kue cucur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cucur (dalam bahasa Madura disebut Kocor) merupakan penganan terbuat dari tepung beras, terigu, gula merah, serta bahan lainnya. Adonan itu digoreng dengan teknik khusus hingga ada tonjolan kecil menyerupai bukit di bagian tengahnya.

Dalam Festival Kadhisah itu, warga membuat replika bermacam bentuk. Seperti gunung, hewan, maupun bentuk lainnya. Replika itu lantas ditempeli dan dihias dengan kue cucur beraneka warna.

ADVERTISEMENT

Gunungan kue cucur itu kemudian diarak kelilingi desa diikuti ribuan warga berbagai usia dan berakhir di lapangan desa. Setelah pembacaan doa bersama, ribuan warga yang sudah berdesakan berebut kue cucur dari gunungan.

Menurut warga desa setempat, penggunaan kurue cucur sebagai tumpeng atau gunungan itu karena memiliki filosofi. Yakni di balik bentuknya yang sederhana, kue kucur yang di bagian tengah ada tonjolan melambangkan pusat pemerintahan desa.

Sementara lingkaran melambangkan sepuluh dusun de Desa Jurangsapi yang mengitari dan menguatkan satu sama lain.

"Itu (gunungan kue kucur) memang sudah ada awal. Simbol bahwa di satu pemerintahan desa dikelilingi dusun," tutur Kepala Desa Jurang Sapi, Rapen, Hasbi Hasidi, kepada detikJatim, Minggu (15/2/2026).

Diimbuhkannya, tradisi Kadhisah bukan sekadar seremoni tahunan. Kadhisah adalah doa bersama yang dirawat turun-temurun. Sejak malam sebelumnya, warga telah berkumpul di balai desa untuk rokat dan pembacaan doa.

"Festival Khadisah merupakan upaya menyelamatkan warisan budaya, juga kuliner. Karena kuliner ini mulai jarang ditemui," pungkas Hasbi Hasidi.

Festival bernama Kadhisah duga untuk menyongsong bulan suci Ramadan yang akan datang beberapa hari lagi.



(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads