Bagi masyarakat umum, sosok Ratu Leak atau Rangda mungkin identik dengan mitologi dan kengerian dari Pulau Dewata, Bali. Namun, penelusuran sejarah mengungkap akar dari kisah mistis tersebut ternyata tertanam kuat di tanah Jawa Timur.
Jejak legenda Calon Arang (janda sakti mandraguna yang menjadi cikal bakal mitos Leak) kini dapat ditelusuri di sebuah situs tersembunyi di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Di sinilah, di tengah hamparan sawah dan rimbunnya pohon preh, kisah kelam tentang wabah dan dendam di era Raja Airlangga bermula.
Legenda Calon Arang
Dikutip dari buku berjudul "Calon Arang dari Jirah" yang disusun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1995, Kerajaan Daha di bawah pimpinan Raja Airlangga adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi, di mana rakyat hidup damai dan makmur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raja Airlangga memiliki dua putra mahkota yang gagah, yaitu Jayabaya dan Jayasaba. Sebaliknya, di Desa Jirah yang terpencil, tinggallah seorang janda bernama Ki Rangda, yang dikenal sebagai Calon Arang, bersama putrinya yang cantik jelita bernama Ratna Manggali.
Mereka hidup terasing karena penduduk takut pada Ki Rangda yang memuja Dewi Durga dan menguasai ilmu hitam. Akibat reputasi ibunya yang menakutkan, tidak ada pemuda yang berani melamar Ratna Manggali, membuat gadis itu hidup dalam kesepian.
Suatu ketika, seorang pemuda berandalan bernama Widiasta mendekati Ratna Manggali, namun ia diusir dan dipukuli oleh pemuda desa karena dianggap tidak pantas. Mendengar perlakuan kasar terhadap calon menantunya, amarah Ki Rangda meledak.
Ia melampiaskan dendamnya dengan menggelar ritual ilmu hitam kepada Dewi Durga. Seketika, wabah penyakit yang mengerikan menyerang Daha, tanaman mati, sumur kering, dan banyak rakyat tewas kelaparan. Raja Airlangga mengirim pasukan terbaiknya untuk menghukum Calon Arang, namun mereka semua dikalahkan oleh kesaktian janda tersebut.
Demi menyelamatkan rakyatnya, Raja Airlangga mengutus putranya menemui pendeta sakti di Lemah Tulis bernama Mpu Baradah. Mpu Baradah menyadari bahwa Calon Arang tidak bisa dikalahkan dengan kekerasan biasa.
Ia menyusun siasat dengan mengutus muridnya yang bernama Bawula untuk menikahi Ratna Manggali. Tujuannya adalah untuk meluluhkan hati Ki Rangda dan mencari kelemahan ilmu sihirnya.
Bawula berhasil melamar Ratna Manggali. Ki Rangda sangat bahagia karena putrinya akhirnya mendapatkan jodoh seorang pemuda yang sopan dan tampan, sehingga ia sempat menghentikan kutukannya.
Setelah menikah, Ratna Manggali yang polos menunjukkan "kamar suci" ibunya kepada Bawula. Di sana, Bawula menemukan sebuah kitab/jimat yang menjadi sumber kejahatan Calon Arang dan menyadari bahwa benda itulah yang harus dimusnahkan. Bawula kemudian melaporkan hal ini kepada Mpu Baradah.
Mpu Baradah datang ke Jirah untuk menghadapi Calon Arang. Awalnya, Ki Rangda yang merasa bersalah meminta untuk disucikan (ruwat) dari dosa-dosanya.
Namun, saat proses penyucian di kuburan, sisi jahat Calon Arang memberontak. Ia berubah wujud menjadi raksasa menyeramkan yang mengeluarkan api dan menyerang Mpu Baradah. Pertarungan dahsyat terjadi antara ilmu putih dan ilmu hitam.
Akhirnya, Mpu Baradah berhasil mengalahkan Calon Arang hingga tubuhnya hangus menjadi abu. Mpu Baradah kemudian menghidupkan kembali rohnya untuk disucikan agar ia bisa meninggal dengan tenang dan masuk surga.
Dengan kematian Calon Arang yang telah disucikan, kutukan di Daha pun sirna. Tanah kembali subur dan wabah penyakit hilang.
Murid-murid Calon Arang yang lain bertobat dan disucikan oleh Mpu Baradah. Raja Airlangga, bersama rakyat dan keluarga Mpu Baradah, mengadakan upacara besar "Puja Wali" sebagai wujud syukur atas kembalinya kedamaian di negeri Daha.
Baca juga: 286 Cagar Budaya Tercatat di Surabaya |
Situs Calon Arang
Situs Calon Arang, yang juga dikenal sebagai Situs Sukorejo, merupakan sebuah situs cagar budaya yang terletak di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Situs ini berada di tengah area persawahan dan diyakini masyarakat setempat sebagai bekas tempat tinggal atau petilasan dari tokoh legendaris Nyi Calon Arang (Janda Girah) yang hidup pada masa pemerintahan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan/Kediri.
Situs Calon Arang di Kediri Dirusak. Foto: Andhika Dwi |
Jika berangkat dari Kota Kediri, arahkan kendaraan menuju jalur Gurah-Pare. Tetaplah waspada setelah melewati Pasar Gurah sekitar satu kilometer. Di sisi kanan jalan, Anda akan menemukan SD Kerkep yang bersebelahan dengan Balai Desa.
Masuklah ke jalan desa di seberang sekolah tersebut. Ikuti jalan hingga menemukan masjid di kanan jalan, kemudian belok kanan. Teruslah melaju hingga ujung jalan yang ditandai dengan sebuah Pos Kamling, lalu belok kiri.
Sebelum jalan berubah menjadi akses persawahan, ambil belokan ke kanan sejauh 100 meter. Titik kuncinya ada pada sebuah dam kecil bertuliskan "GESTAPU" di kiri jalan.
Beloklah ke kiri menyusuri jalan tanah tersebut sejauh 200 meter. Perjalanan akan berakhir di area persawahan, dan situs bersejarah ini tersembunyi di balik rimbunan pohon di sebelah kanan.
Dilansir dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, di situs ini ditemukan berbagai artefak kuno yang dikumpulkan dalam sebuah pendopo pelindung. Benda-benda purbakala yang dapat ditemui antara lain berupa umpak batu, doorpel (ambang pintu), lumpang, balok batu berukir, serta fragmen terakota dan bata kuno yang diperkirakan berasal dari era Majapahit atau masa klasik sebelumnya.
Di area situs ini juga terdapat sebuah pohon Preh besar yang dikeramatkan dan sering menjadi pusat ritual para peziarah. Situs Calon Arang memiliki nilai spiritual yang kuat, terutama bagi masyarakat Hindu Bali.
Tempat ini dipercaya sebagai asal-usul mitologi Ratu Leak atau Rangda di Bali, sehingga banyak peziarah dari Bali yang datang berkunjung untuk melakukan doa atau napak tilas, khususnya pada momen-momen sakral seperti bulan Suro.
Pemerintah Kabupaten Kediri telah menetapkan situs ini sebagai cagar budaya dan warisan budaya tak benda untuk menjaga kelestarian sejarah serta mencegah aksi vandalisme yang pernah terjadi sebelumnya.
Pada akhirnya, Situs Calon Arang di Kediri bukan sekadar tumpukan batu atau dongeng seram pengantar tidur. Ia adalah monumen pengingat akan kekayaan sejarah Nusantara yang saling terhubung antara Jawa dan Bali.
Mengunjungi situs ini memberikan perspektif baru, bahwa di balik sosoknya yang menakutkan, legenda Calon Arang adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya era Kahuripan yang wajib kita lestarikan. Biarlah mistisnya tetap hidup dalam dongeng, namun sejarahnya harus tetap tegak dijaga.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/irb)












































