Di sisi timur Kali Pegirian, Kota Surabaya, tersembunyi sebuah kompleks pemakaman kuno yang menjadi saksi bisu penyebaran Islam, dan dinamika sejarah kerajaan di Jawa Timur (Jatim).
Kompleks Makam Boto Putih, atau yang dikenal sebagai makam Sunan Botoputih, hingga kini masih menjadi magnet bagi para peziarah. Namun, bagi pengunjung awam, tata letak makam di kompleks ini sering kali menimbulkan kebingungan.
Banyak peziarah yang mengira makam yang terletak di dalam area musala adalah makam utama sang sunan. Berdasarkan penelusuran di lokasi, terdapat perbedaan area yang jelas antara tokoh-tokoh yang dimakamkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada dua makam (di area musala), satunya makam Habib Syekh bin Abu Bakar dan Habib Muhammad bin Abu Bakar. Kalau Sunan Botoputih atau Mbah Brondong, itu makamnya yang masuk ke dalam cungkup (bangunan pelindung makam)," jelas juru kunci makam kepada detikJatim, Selasa (13/1/2026).
Ia menambahkan, jika peziarah ingin mengetahui sejarah mendalam Habib Syekh, disarankan untuk bertanya langsung kepada Habib yang kerap menjaga area dalam. Sementara untuk sejarah Mbah Brondong (Sunan Botoputih), kisahnya sudah banyak didokumentasikan secara digital maupun melalui cerita tutur paguyuban.
Mengenal Sosok Sunan Botoputih
Sosok Sunan Botoputih sendiri sejatinya seorang bangsawan bernama Pangeran Lanang Dangiran. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar), ia memiliki garis keturunan langsung dari Kerajaan Blambangan dan Majapahit.
Makam Sunan Botoputih di Dalam Kompleks Makam Kuno Pegirian Foto: Muhammad Faishal Haq/ detikjatim |
Pangeran Lanang Dangiran adalah putra dari Pangeran Tawangalun I (Pangeran Kedawung). Jika dirunut ke atas, silsilahnya bermuara pada Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabhumi), Raja Majapahit, melalui jalur selir bernama Endang Sasmitapura yang melahirkan Adipati Blambangan.
Salahh satu kisah paling masyhur yang melekat pada Pangeran Lanang Dangiran adalah julukan "Brondong". Konon, saat usia 18 tahun, ia melakukan tapa dengan menghanyutkan diri di laut menggunakan papan kayu dan bronjong tanpa makan dan minum.
Makam Sunan Botoputih di Dalam Kompleks Makam Kuno Pegirian Foto: Muhammad Faishal Haq/ detikjatim |
Tubuhnya terombang-ambing ombak Laut Jawa hingga terdampar di pantai dekat Sedayu, Lamongan, dalam kondisi tak sadarkan diri. Saat ditemukan Kyai Kendil Wesi, sekujur tubuh Pangeran Lanang Dangiran dipenuhi karang dan keong laut.
Tampilan fisik ini menyerupai jagung bakar yang meletup, atau dalam bahasa Jawa disebut brondong. Sejak saat itu, setelah diangkat anak dan dididik ilmu agama oleh Kyai Kendil Wesi, ia dikenal sebagai Kyai Ageng Brondong.
Persebaran Islam Kyai Ageng Brondong
Perjalanan dakwah Pangeran Lanang Dangiran berlanjut ke Surabaya atas perintah ayah angkatnya untuk berguru ke Ampel Denta. Pada 1595, ia beserta istri (putri Kyai Bimotjili dari Cirebon) dan anak-anaknya menetap di Dukuh Boto Putih, di seberang timur Kali Pegirian.
Di kawasan yang kala itu masih berada di bawah kekuasaan Pangeran Pekik (Kadipaten Surabaya yang merdeka dari Mataram), Kyai Ageng Brondong mendirikan pondok pesantren. Karena keluhuran budi dan kedalaman ilmunya, masyarakat setempat memberinya gelar Sunan Botoputih.
Makam Sunan Botoputih di Dalam Kompleks Makam Kuno Pegirian Foto: Muhammad Faishal Haq/ detikjatim |
Menariknya, lokasi Dukuh Boto Putih sendiri memiliki nilai historis yang berlapis. Wilayah ini dulunya merupakan bagian dari Hujung Galuh. Menurut kitab Pararaton, di lokasi inilah Raja Kediri, Jayakatwang, pernah ditawan di benteng pertahanan Mongol dan wafat setelah menyelesaikan karya sastra kidung Wukir Polaman.
Kini, Kompleks Makam Boto Putih tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang ulama besar, tetapi juga simpul sejarah yang mempertemukan narasi Majapahit, Blambangan, dan syiar Islam di Surabaya.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



