Aksera Surabaya Hidupkan Ruang Mati Lewat Pameran Jam Kosong Vol.2

Aksera Surabaya Hidupkan Ruang Mati Lewat Pameran Jam Kosong Vol.2

Chilyah Auliya - detikJatim
Sabtu, 31 Jan 2026 23:30 WIB
Aksera Surabaya Hidupkan Ruang Mati Lewat Pameran Jam Kosong
Koleksi di museum Surabaya Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim
Surabaya -

Kolektif seni Aksera kembali menghidupkan gairah seni di tengah kota industri Surabaya melalui pameran bertajuk "Jam Kosong #2". Pameran ini berlangsung di Gedung Khrisna Mustajab, Jalan Dukuh Kupang XXVII No. 20, sejak 22 Januari hingga 11 Maret 2026 dan dibuka setiap hari pukul 12.00-22.00 WIB.

Pameran ini tidak sekadar menampilkan karya visual, tetapi juga menjadi upaya "aktivasi ruang". Pengunjung diajak berinteraksi langsung dengan karya yang mengeksplorasi lantai, dinding, hingga langit-langit galeri, sehingga ruang tidak lagi terasa "kosong" dan "mati".

Saat memasuki galeri, pengunjung disambut filosofi pameran yang terpampang di dinding hijau toska. Tipografi timbul tersebut menegaskan bahwa karya seni tidak hanya dipandang sebagai benda statis di dinding, melainkan subjek hidup yang berdialog dengan ruang untuk memunculkan potensinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui penataan yang merespons skala karya, pencahayaan dramatis, serta jarak pandang yang memberi ruang bagi tiap karya untuk "bernapas", dimensi baru tercipta. Karya tidak hanya menempel di dinding, tetapi juga diletakkan maju atau disusun melengkung sehingga ruang terasa lebih dinamis.

ADVERTISEMENT
Aksera Surabaya Hidupkan Ruang Mati Lewat Pameran Jam KosongDialog jam kosong menjadi salah satu koleksi di Pameran jam kosong Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim

Arifin Londo, salah satu motor di balik pameran ini, menekankan pentingnya peran aktif pengunjung dalam menikmati seni rupa.

"Kalau pertunjukan, karyanya yang aktif, kita penontonnya pasif. Tapi di karya seni rupa, karyanya itu pasif. Kita sebagai penonton yang harus aktif. Kalau kita tidak aktif mencari tahu atau merasakan, ya kita tidak akan dapat apa-apa," tegas Londo kepada detikJatim, Sabtu (31/1/2026).

Ia menambahkan, pemahaman unsur dasar seperti titik, garis, bidang, hingga tekstur membantu pengunjung menikmati karya abstrak maupun ekspresionis. Untuk menjembatani publik awam, Aksera menggunakan seni terapan seperti keramik atau tanah liat sebagai "pintu masuk" agar pengunjung terlibat langsung.

Salah satu karya menonjol berupa lukisan yang dipadukan dengan kain batik yang menjuntai keluar dari bingkai, seolah berusaha keluar dari dua dimensi untuk menyentuh realitas penonton.

Shinta, kolaborator karya sekaligus kru pameran, mencatat antusiasme tinggi dari pengunjung.

"Dari jam 12 siang malam, pengunjung terus mengalir. Apalagi kalau Minggu, satu keluarga bisa datang semua untuk mencoba meja putar keramik," ungkapnya.

Meski tanpa pembatasan kuota, pengunjung harus mengantre untuk mencoba aktivitas. Sebagai alternatif, tim Aksera menawarkan teknik kuncing (manual) agar pengunjung tetap bisa berkreasi tanpa menunggu lama. Tangan-tangan berlumur tanah liat basah tampak menunjukkan konsentrasi penuh.

Aksera Surabaya Hidupkan Ruang Mati Lewat Pameran Jam KosongPengunjung mencoba kelas keramik Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim

Di balik estetika galeri, Aksera juga mengungkap realitas ekonomi seniman di Surabaya yang cukup menantang.

"Hidup dari karya seni itu agak sulit di sini. Makanya kami tidak hanya berfokus di sana. Kami mengajar, membuat souvenir, dan mengelola dana secara mandiri tanpa hibah," ungkap perwakilan Aksera.

Karena itu, pameran dibuka gratis (free entry) sebagai bentuk perlawanan terhadap tren pameran instalasi privat dan mahal di Surabaya.

Salah satu ikon pameran adalah instalasi motor tua bergaya 1920-an yang dirakit dari pipa bekas dan dikaratkan secara alami. Karya ini merepresentasikan perpaduan imajinasi masa kecil dan prinsip seni rupa dewasa.

Selain itu, "Jam Kosong #2" menampilkan karya dari Agung Tato, Agus "Kucing", Kimin, Shinta Bellinda, dan Nurida. Meski memiliki karakter berbeda, mulai lukisan hingga media campuran, seluruh karya bersinergi untuk menjaga denyut nadi kesenian di Surabaya tetap hidup, dengan ruang sebagai rekan dialog yang menghidupkan setiap karya.



(ihc/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads