Kelenteng Hok An Kiong Tertua di Surabaya

Kelenteng Hok An Kiong Tertua di Surabaya

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Sabtu, 31 Jan 2026 01:00 WIB
Kelenteng Hok An Kiong Tertua di Surabaya
Kelenteng Hok An Kiong. Foto: Instagram @tourism.surabaya
Surabaya -

Hok An Kiong dikenal sebagai kelenteng tertua di Surabaya. Tempat ibadah ini menjadi saksi perjalanan komunitas Tionghoa di Kota Pahlawan. Berdiri sejak ratusan tahun lalu, kelenteng ini tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya antarwarga Tionghoa.

Menariknya, meski di tengah pesatnya modernisasi kota, kelenteng ini terus bertahan dengan arsitektur khas. Di sisi lain, ornamen tradisional, altar utama, dan ritual keagamaan masih rutin dijalankan. Kelenteng Hok An Kiong tak hanya menjadi simbol keimanan, tetapi penanda sejarah Surabaya yang terus lestari hingga kini.

Sejarah Kelenteng Hok An Kiong

Kelenteng Hok An Kiong dibangun insinyur asal Tiongkok bernama Hok Kian Kong Tik, pada tahun 1830-an. Kelenteng yang dikenal dengan nama Kelenteng Suka Loka ini menjadi kelenteng tertua di Surabaya, yang berlokasi di Jalan Coklat Nomor 2, Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantian, Kota Surabaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Klenteng yang awalnya berfungsi sebagai tempat menginap sementara bagi orang yang baru datang dari Tiongkok secara perlahan tempat tersebut berubah fungsi menjadi tempat ibadahKelenteng Hok An Kiong Foto: Instagram @tourism.surabaya

Sebelum didirikan kelenteng, bangunan ini digunakan sebagai tempat penampungan warga Tionghoa yang baru datang di Surabaya. Dalam proses pembangunannya, tukang-tukang didatangkan langsung dari Tiongkok lengkap membawa peralatan yang dibutuhkan.

Konon, pendirian kelenteng ini tidak lepas dari peran dewa Ma Co Poh (Ma Zu). De Ma Co Poh dikenal sebagai Dewa Pelindung Lautan dan Perantauan Bangsa Tiongkok. Atas perlindungannya, para perantau Tiongkok berhasil mengarungi lautan dan mendarat selamat di Surabaya.

ADVERTISEMENT
Klenteng yang awalnya berfungsi sebagai tempat menginap sementara bagi orang yang baru datang dari Tiongkok secara perlahan tempat tersebut berubah fungsi menjadi tempat ibadahKlenteng Hok An Kiong Foto: Instagram @tourism.surabaya

Oleh sebab itulah, Dewa Ma Zu menjadi dewa utama dan paling dihormati di kelenteng ini. Bahkan, banyak masyarakat yang berkunjung ke Kelenteng Hok An Kiong untuk meminta berkah, kesembuhan penyakit, hingga petunjuk kesuksesan.

Daya Tarik Kelenteng Hok An Kiong

Kelenteng Hok An Kiong menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menarik perhatian wisatawan maupun peziarah karena memadukan nilai religius, budaya, dan arsitektur khas Tionghoa yang masih terjaga hingga kini. Dilansir dari berbagai sumber, berikut daya tarik Kelenteng Hok An Kiong.

1. Memiliki 22 Patung Dewa

Salah satu daya tarik utama Kelenteng Hok An Kiong adalah banyaknya patung dewa di dalamnya. Kelenteng ini memiliki 22 patung dewa. Dewa dalam kelenteng utama ini merupakan Ma Co Poh atau Ma Zu, sedangkan 21 lainnya, yakni We Toh Po Sat, Kurang Im, Tee Cong Ong Poh Sat, Budha Gautama, Mie Lek Hud, Hua Kong, Hua Mu, dan Cap Pek Lo Han.

22 patung ini membuat Kelenteng Hok An Kiong menjadi kelenteng dengan altar terbanyak di Surabaya. Letaknya tersebar di dua ruang utama dan ruang samping. Biasanya, masyarakat Tionghoa akan datang dan berdoa sekaligus menyebut keinginan.

2. Kelenteng Tertua di Surabaya

Klenteng yang awalnya berfungsi sebagai tempat menginap sementara bagi orang yang baru datang dari Tiongkok secara perlahan tempat tersebut berubah fungsi menjadi tempat ibadahKlenteng Hok An Kiong Foto: Instagram @tourism.surabaya

Kelenteng Hok An Kiong menjadi kelenteng tertua yang ada di Surabaya. Pendirian kelenteng ini berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan maritim dan keberadaan komunitas Tionghoa. Nilai historis Kelenteng Hok An Kiong ini tidak hanya sekedar tempat ibadah, melainkan menjadi situs penting bagi sejarah kota Surabaya.

3. Arsitektur yang Khas

Selain menjadi kelenteng tertua di Surabaya. Kelenteng Hok An Kiong memiliki arsitektur yang tak kalah menarik. Beragam ornamen membuat kelenteng ini tampak artistik yang sarat makna.

Keunikan arsitekturnya terlihat dari konstruksi tradisional yang minim paku logam, tetapi mengandalkan sambungan kayu. Hal inilah yang membuat bangunan Tionghoa ini adaptif dan tahan lama.

4. Atmosfer Pecinan yang Otentik

Klenteng yang awalnya berfungsi sebagai tempat menginap sementara bagi orang yang baru datang dari Tiongkok secara perlahan tempat tersebut berubah fungsi menjadi tempat ibadahKlenteng Hok An Kiong Foto: Instagram @tourism.surabaya

Lokasi kelenteng ini berada di pemukiman Pecinan Surabaya. Nuansa atmosfer budaya otentik dan khas, langsung terasa begitu masuk di dalamnya. Lingkungan sekitar pun dipenuhi dengan aktivitas perdagangan tradisional.

Ada juga pemukiman lama hingga interaksi sosial masyarakat Tionghoa. Di sisi lain, adanya perpaduan ritual keagaman, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat Tionghoa menjadi cermin kebudayaan yang terus berkelanjutan.

5. Mempunyai Patung Oe Tie Keong dan Cin Siok Poo

Kelenteng ini memiliki Patung oe Tie Keong. Patung ini begitu dihormati karena menjadi figur pelindung dan penjaga keselamatan umat. Kehadiran patung ini menunjukkan penghormatan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Klenteng yang awalnya berfungsi sebagai tempat menginap sementara bagi orang yang baru datang dari Tiongkok secara perlahan tempat tersebut berubah fungsi menjadi tempat ibadahKlenteng Hok An Kiong Foto: Instagram @tourism.surabaya

Sementara Patung oe Tie Keong dikenal dengan lambang kebajikan, kasih sayang, hingga keseimbangan hidup. Patung ini menjadi pusat doa umat yang memohon ketenangan batin dan keharmonisan.

Fasilitas Kelenteng Hok An Kiong

Selain menyimpan nilai sejarah dan spiritual yang kuat, Kelenteng Hok An Kiong juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang membuat pengunjung merasa lebih nyaman saat beribadah maupun berwisata. Berikut fasilitas yang dimiliki kelenteng ini.

  • 22 altar dewa
  • Altar utama dewa Thian Siang Sing boo
  • Dapur
  • Toilet yang bersih
  • Area parkir
  • Tempat dupa

Jam buka, Lokasi dan Tata Tertib Berkunjung

Kelenteng Hok An Kiong buka mulai Senin hingga Minggu, mulai dari pukul 07.00-20.00 WIB. Kelenteng ini bisa dikunjungi masyarakat umum dan tidak dipungut biaya masuk. Ada beberapa tata tertib yang harus dipatuhi pengunjung sebagai berikut.

  • Gunakan pakaian kerah lengan panjang atau pendek, asal sopan, bebas, dan rapi
  • Tidak menggunakan baju pendek dan ketat
  • Boleh menggunakan celana atau rok panjang
  • Tidak diperkenankan menyentuh patung dewa di klenteng

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads