- Jejak Tragedi Segitiga Masalembo 1. Tragedi KMP Tampomas-II (1981) 2. Tenggelamnya KM Senopati Nusantara (2006) 3. Hilangnya Pesawat Adam Air Penerbangan 574 (2007) 4. Rentetan Tenggelamnya Tiga Kapal (Juli-Agustus 2007) 5. Karamnya Kapal Kargo (2008) 6. Musibah KM Teratai Prima (2009) 7. Terbakarnya KMP Mutiara Sentosa-I (2017)
- Segitiga Masalembo
- Pertemuan Laut Jawa dan Selat Makassar
Perairan di sekitar Pulau Masalembo telah lama tercatat sebagai salah satu wilayah paling rawan dalam sejarah transportasi nasional. Jauh sebelum istilah "Segitiga Masalembo" dikenal luas, kawasan di Laut Jawa bagian timur ini sudah berulang kali menjadi lokasi kecelakaan kapal dan pesawat yang merenggut ratusan nyawa.
Sejarah mencatat serangkaian tragedi besar, mulai dari terbakarnya KMP Tampomas II pada 1981, hingga hilangnya pesawat Adam Air penerbangan 574 pada awal 2007. Rentetan peristiwa tersebut membuat perairan Masalembo kerap disematkan julukan "Segitiga Bermuda Indonesia".
Jejak Tragedi Segitiga Masalembo
Rentetan kecelakaan di Perairan Masalembo telah berlangsung selama puluhan tahun. Arus laut yang kuat serta kondisi cuaca ekstrem kerap disebut sebagai faktor utama yang membuat jalur ini berbahaya untuk dilintasi. Dikutip dari jurnal, berikut jejak tragedi yang pernah terjadi di Segitiga Masalembo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Tragedi KMP Tampomas-II (1981)
Musibah ini terjadi 27 Januari 1981. KMP Tampomas-II yang dinakhodai Kapten Abdul Rivai tengah berlayar dari Jakarta menuju Sulawesi ketika mengalami kebakaran di tengah laut sebelum akhirnya karam. Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi maritim terbesar di Indonesia karena menyebabkan ratusan penumpang tewas.
2. Tenggelamnya KM Senopati Nusantara (2006)
Setelah beberapa dekade, kecelakaan besar kembali terjadi pada 29 Desember 2006 yang menimpa KM Senopati Nusantara. Kapal ini dinyatakan hilang sekitar pukul 03.00 pada 30 Desember 2006, di mana Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga penyebabnya adalah cuaca buruk.
KM Senopati Nusantara membawa muatan yang cukup padat, yakni mengangkut total 628 orang (termasuk penumpang dan awak kapal), serta berbagai kendaraan seperti truk besar, kendaraan kecil, dan alat berat.
3. Hilangnya Pesawat Adam Air Penerbangan 574 (2007)
Hanya berselang beberapa hari, tepatnya 1 Januari 2007, pesawat Adam Air rute Jakarta-Surabaya-Manado hilang kontak di atas perairan Masalembo. Seluruh 102 orang di dalamnya dinyatakan meninggal dunia. Kotak hitam pesawat baru ditemukan pada Agustus 2007 di kedalaman sekitar 2.000 meter.
4. Rentetan Tenggelamnya Tiga Kapal (Juli-Agustus 2007)
Pada pertengahan tahun 2007, tepatnya, Juli hingga Agustus, terjadi tiga kecelakaan kapal secara beruntun dalam waktu singkat di lokasi yang sama. Pertama, KM Mutiara Indah tenggelam pada 19 Juli 2007.
Seminggu kemudian, pada 27 Juli 2007, disusul tenggelamnya KM Fajar Mas. Belum genap sebulan setelah peristiwa tersebut, KM Sumber Awal juga dilaporkan tenggelam di perairan yang sama pada tanggal 16 Agustus 2007.
5. Karamnya Kapal Kargo (2008)
Setahun kemudian, kecelakaan laut kembali tercatat pada tanggal 8 Juli 2008. Dalam peristiwa ini, sebuah kapal kargo dilaporkan karam di kawasan perairan Masalembo.
6. Musibah KM Teratai Prima (2009)
Pada dini hari Minggu 11 Januari 2009, KM Teratai Prima yang melayani rute Samarinda-Parepare tenggelam setelah dihantam angin puting beliung yang memicu gelombang setinggi 2 meter.
Kapal ini membawa beban melebihi manifes resmi, tercatat ada 267 penumpang resmi, namun diperkirakan ada tambahan 103 penumpang gelap. Dari kejadian ini, hanya 36 orang yang berhasil diselamatkan nelayan, sementara sisanya dinyatakan hilang.
7. Terbakarnya KMP Mutiara Sentosa-I (2017)
Setelah relatif lama tanpa kecelakaan besar, perairan Masalembo kembali mencatat tragedi pada 19 Mei 2017. KMP Mutiara Sentosa I mengalami kebakaran di perairan Masalembo.
Kebakaran bermula dari cardeck (dek kendaraan) yang tidak bisa dipadamkan dan membesar. Meskipun mayoritas penumpang berhasil dievakuasi tim SAR, nelayan setempat menemukan lima jenazah di laut yang diduga merupakan sopir truk yang melompat untuk menyelamatkan diri.
Rentetan kejadian inilah yang kemudian menguatkan reputasi kawasan tersebut sebagai "Segitiga Bermuda Indonesia", istilah yang berkembang di tengah masyarakat untuk menggambarkan tingginya risiko pelayaran di wilayah ini.
Segitiga Masalembo
Dikutip dari jurnal "Misteri Segitiga Masalembo Merupakan Segitiga Bermuda di Wilayah Indonesia" karya Mochammad Chaeran, kawasan yang dikenal sebagai "Segitiga Masalembo" atau The Masalembo Triangle terbentuk dari tiga titik utama di perairan Indonesia, yakni Pulau Bawean, Kota Majene, dan Kepulauan Tengah.
Perairan Majene sendiri tercatat dalam sejarah sebagai lokasi tenggelamnya KM Teratai Prima pada 11 Januari 2009 akibat hantaman angin puting beliung. Jika ditinjau dari peta kedalaman laut atau bathymetri, ketiga wilayah tersebut membentuk pola segitiga yang nyaris sempurna.
Pertemuan Laut Jawa dan Selat Makassar
Ilustrasi Laut Jawa Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra |
Penelitian menjelaskan wilayah Masalembo merupakan "pertigaan" laut yang mempertemukan dua jalur arus besar dengan karakter berbeda. Arus Laut Jawa mengalir dari barat ke timur dan bersifat musiman, sangat dipengaruhi angin monsun serta pemanasan matahari. Sementara itu, arus dari Selat Makassar bergerak dari utara ke selatan membawa massa air besar dari Samudra Pasifik akibat perbedaan suhu lapisan laut.
Pertemuan kedua arus ini dikenal sebagai Arlindo (Arus Lintas Indonesia). Ketika arus tersebut bertabrakan, ditambah pengaruh Laut Flores, muncul turbulensi, pusaran, serta gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran.
Pada Januari saat angin Muson Barat bertiup, arus dari utara bergerak ke selatan dan memicu cuaca buruk. Sebaliknya, pada Juli ketika Muson Timur dominan, arus bergerak dari selatan ke utara dan kembali menciptakan kondisi ekstrem di titik pertemuan tersebut.
Proses evakuasi korban tenggelamnya KM Ladang Pertiwi terus dilakukan di Selat Makassar. Foto: Antara Foto |
Kondisi geografis dan meteorologis inilah yang dinilai menjadi penyebab utama seringnya kecelakaan di perairan Masalembo, bukan faktor mistis sebagaimana kerap dipercaya sebagian masyarakat.
Tragedi-tragedi masa lalu di kawasan ini menjadi pengingat keras pentingnya peningkatan sistem navigasi, peringatan dini cuaca, serta keselamatan transportasi laut dan udara, agar jalur yang dijuluki "Segitiga Bermuda Indonesia" tersebut tidak terus memakan korban jiwa di masa depan.
Jatim Flashback adalah rubrik spesial detikJatim yang mengulas peristiwa-peristiwa di Jawa Timur serta menjadi perhatian besar pada masa lalu. Jatim Flashback diharapkan bisa memutar kembali memori pembaca setia detikJatim. Jatim Flashback tayang setiap hari Sabtu. Ingin mencari artikel-artikel lain di rubrik Jatim Flashback? Klik di sini.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/irb)













































