8 April 2017 menjadi hari di mana Mbah Arifin yang dikenal setia menanti kekasihnya mengembuskan napas terakhir. Pria yang kerap dipanggil Mbah Gombloh itu menutup hidupnya tanpa pernah bertemu kembali dengan perempuan yang telah ia tunggu selama puluhan tahun.
Semasa hidup, hampir setiap hari Mbah Arifin terlihat duduk sendiri di depan emperan sebuah toko tua di kawasan Kayutangan, Kota Malang. Ia jarang berbincang, lebih sering diam dan memandangi lalu lalang orang di depannya.
Janji yang Tak Pernah Terpenuhi
Penantian Mbah Arifin bermula dari perpisahannya dengan sang kekasih pada era 1970-an. Kala itu, situasi politik disebut menjadi penyebab keduanya harus berpisah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum berpisah, mereka membuat janji sederhana untuk bertemu kembali di tempat yang sama (Kayutangan) ketika keadaan sudah memungkinkan. Sejak saat itulah Mbah Arifin setia datang ke lokasi tersebut, menunggu hari yang ia yakini akan tiba.
Pemerhati Sejarah dan Budaya Kota Malang Agung Buana menyebut lokasi yang selalu didatangi Mbah Arifin merupakan titik janji pertemuannya dengan sang kekasih.
"Informasinya dia sedang menunggu entah pacar atau istrinya yang pada peristiwa 1965 berjanji akan bertemu dengan Mbah Gombloh di lokasi yang sama," kata Agung kepada detikJatim, Minggu (8/1/2023).
Namun, hingga puluhan tahun berlalu, perempuan yang ditunggu tak kunjung datang. Identitasnya pun tak pernah diketahui secara pasti. Beragam cerita berkembang di masyarakat.
Mulai dari kabar bahwa perempuan tersebut ditahan, pergi ke luar negeri, hingga disebut telah meninggal dunia. Mbah Arifin sendiri dikenal tertutup dan tak pernah menjelaskan secara rinci kisah di balik penantiannya.
Kisah Lain Mbah Arifin
Selain kisah penantian cintanya, beredar pula cerita lain tentang Mbah Arifin. Ia disebut pernah hidup berkecukupan sebagai pengusaha, sebelum akhirnya kehilangan harta akibat kebiasaan berjudi.
"Untuk menghabiskan waktunya, dia mengasingkan diri ke Malang. Karena tidak punya aktivitas apa-apa, dia sempat menjadi tukang parkir di toko Surabaya," kata Agung.
Mbah Arifin juga kerap terlihat dijemput mobil. Beberapa kali, kendaraan mewah disebut datang menghampirinya untuk memberikan makanan. Informasi yang beredar menyebut orang-orang di dalam mobil itu diduga anaknya.
"Informasinya, Mbah Gombloh merasa malu karena kalah judi dan tidak mau merepotkan anaknya. Sehingga dia menjadi tukang parkir dan jualan kupon undian. Tapi dia kalah lagi dan sengsara karena kalah judi," ujarnya.
Meski begitu, yang paling diingat dari sosok Mbah Arifin adalah keteguhannya menjaga janji. Ia tetap duduk di tempat yang sama, seolah yakin bahwa suatu hari nanti kekasihnya akan muncul kembali.
"Cerita yang paling kuat ya romantika kesetiaannya menanti kekasih hingga akhir hayat. Dia tidak bertemu sampai dia meninggal. Titik perpisahannya ya di depan toko Surabaya itu," tutur Agung.
Kini, Mbah Arifin memang telah tiada. Namun, kisah cintanya tetap hidup di tengah Kota Malang. Mural bergambar dirinya yang terlukis di kawasan Kayutangan menjadi penanda bahwa di sudut kota ini pernah ada seseorang yang setia menunggu, meski akhirnya tak pernah bertemu.
Jatim Flashback adalah rubrik spesial detikJatim yang mengulas peristiwa-peristiwa di Jawa Timur serta menjadi perhatian besar pada masa lalu. Jatim Flashback diharapkan bisa memutar kembali memori pembaca setia detikJatim. Jatim Flashback tayang setiap hari Sabtu. Ingin mencari artikel-artikel lain di rubrik Jatim Flashback? Klik di sini.
(auh/irb)











































