Jejak Sekolah Ongko Loro, Warisan Pendidikan Kolonial di Kampung Maspati

Jejak Sekolah Ongko Loro, Warisan Pendidikan Kolonial di Kampung Maspati

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Minggu, 25 Jan 2026 22:00 WIB
Sekolah Ongko Loro di Kampung Maspati Surabaya
Sekolah Ongko Loro di Kampung Maspati Surabaya/Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim
Surabaya -

Jejak bangunan Sekolah Ongko Loro masih bisa disaksikan hingga hari ini. Bangunan yang berada di Kampung Lawas Maspati, kini menjadi destinasi wisata sejarah yang bisa dikunjungi.

Dahulu, Sekolah Ongko Loro digunakan sebagai tempat belajar pada masa kolonial Hindia Belanda. Istilah Ongko Loro berasal dari bahasa Belanda Tweede Klasse Inlandsche School atau sekolah kelas dua.

Pakar Sejarah Kuncarsono Prasetyo menyebut, sekolah ini mulai didirikan pada tahun 1901. Tujuannya untuk memperluas akses pendidikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekolah Kelas Dua atau Tweede Klasse Inlandsche School adalah salah satu tipe sekolah rakyat pada masa Hindia Belanda yang ditujukan untuk anak-anak pribumi. Namun dengan jenjang dan kualitas di bawah sekolah elit seperti HIS (Hollandsch-Inlandsche School)," kata Kuncar saat dihubungi detikJatim, Minggu (25/1/2026).

ADVERTISEMENT

Sekolah Ongko Loro diperuntukkan bagi kalangan Bumiputera, terutama dari kalangan ekonomi bawah. Tujuan utamanya untuk menekan angka buta huruf. Namun, kurikulum yang diajarkan tidak hanya sebatas baca tulis.

"(Sekolah) ini untuk menjawab kebutuhan pendidikan yang tidak bisa dijangkau rakyat miskin," ujarnya.

Walaupun diperuntukkan untuk masyarakat pribumi, sekolah ini tidak sepenuhnya gratis. Hanya saja, pemerintah memberikan subsidi untuk gaji guru. Sementara, ruang kelasnya berada di rumah-rumah warga.

"Tidak sepenuhnya gratis. Tapi ada subsidi pemerintah yang buat gaji guru. Sedang kebanyakan ruang sekolah berada di bangunan rumah warga yang paling besar. Atau yang punya pendopo," jelas Kuncar.

Pada awal abad ke-20, masa pendidikan Sekolah Ongko Loro ditempuh selama tiga tahun. Namun, memasuki dekade 1930-an, pemerintah kolonial menetapkan standar pendidikan menjadi lima tahun.

"Memang di awal-awal abad 20, standar waktunya beda-beda. Namun sekitar tahun 1930-an. Dibuat standar waktu baku 5 tahun," terangnya.

Meski berkontribusi menurunkan angka buta huruf, keberadaan Sekolah Ongko Loro tidak lepas dari kepentingan kolonial. Kala itu, Belanda sedang mencari tenaga kerja murah untuk mendukung industris yang sedang berkembang.

"Kebutuhan pegawai paling rendah untuk kebutuhan industri yang sedang berkembang saat itu. Juga guru bantu, juru tulis," tuturnya.

Sekolah ini berhenti beroperasi sejak kependudukan Jepang pada tahun 1942. Seluruh sekolah peninggalan Belanda dibubarkan dan diganti dengan sistem pendidikan Jepang.

"Zaman Jepang tutup semua. Jadi tahun 42 udah gak ada. Dibubarkan. Diganti sekolah dasar formal oleh Jepang, namanya Kokumin Gakko. Sudah menempati gedung sekolah khusus," imbuhnya.

Pasca-kemerdekaan, sistem pendidikan berganti menjadi Sekolah Rakyat, dengan masa belajar enam tahun. Pada 1960, istilahnya kembali berubah menjadi Sekolah Dasar. Namun ironisnya, pada tahun 1970-an, angka buta huruf kembali mengalami peningkatan.

"Tahun 1960 di kurikulum pertama jadi nama Sekolah Dasar. Nah, pasca merdeka ini sampai tahun 1970-an jumlah buta huruf meningkat lagi. Sebab, Sekolah model Ongko Loro yang praktis dan waktunya cepat itu tidak ada. Apalagi setelah itu membayar full. Jadi banyak yang tidak mengenyam pendidikan," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads