Bayangkan Sungai Kalimas tidak seperti sekarang, tapi penuh perahu angkut gula, beras, dan hasil bumi. Di era Hindia Belanda, sungai ini adalah urat nadi perdagangan Surabaya sebelum jalan raya mendominasi.
Dalam buku yang ditulis GH Von Faber bejudul Nieuw Soerabaia terbitan tahun 1937, mengatakan "Untuk memahami masa kini, perlu mengenal masa lampau. Mengenal berarti mengasihi. Mengenal juga berarti mengasihi dan menghargai sesama."
Jejak sejarah perdagangan di Kalimas menjadi salah satu sejarah yang perlu kita ingat karena sungai memiliki peran besar di Surabaya. Lalu, bagaimana jejak sejarah lengkapnya? Mari mengulik dan mengulas lebih jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna Kata Kalimas
Secara etimologi, Kalimas berasal dari perpaduan dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu "Kali" yang berarti sungai, dan "Mas" yang merujuk logam mulia emas. Nama ini melambangkan sungai yang sangat berharga dan menjadi sumber kemakmuran bagi masyarakat di sekitarnya. Dalam konteks spiritual Jawa, "emas" juga melambangkan cahaya atau kejayaan.
Kali Mas Surabaya pada masa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Foto: Tropenmuseum |
Dalam buku Soerabaia Tempo Doeloe, nama Kalimas berkaitan dengan peristiwa sejarah di masa lalu, di mana sungai ini merupakan jalur utama membawa upeti atau barang-barang berharga (emas) menuju pusat kerajaan.
Sungai Kalimas merupakan salah satu dari dua anak sungai utama dari Sungai Brantas (anak sungai lainnya adalah Kali Jagir). Sungai ini membelah Kota Surabaya dari arah Selatan ke Utara.
Alirannya bermula dari kawasan Ngagel, mengalir melewati jantung pusat kota (seperti area Gubeng, Balai Kota, dan Jembatan Merah), hingga akhirnya bermuara di Selat Madura melalui Pelabuhan Tanjung Perak.
Era Kejayaan Perdagangan Surabaya
Jejak sejarah Sungai Kalimas sebenarnya telah bermula jauh sebelum kolonialisme menyentuh tanah Jawa, tepatnya sejak era Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Keberadaannya sebagai jalur transportasi air yang vital membuat VOC tertarik untuk menancapkan kukunya di Surabaya pada tahun 1617.
VOC mendirikan loji dagang di bantaran Kalimas. Dalam ambisi tersebut ternyata misi dagang Belanda ini tidak berjalan mulus karena perlawanan sengit dari penguasa lokal dan pengaruh kuat Kesultanan Mataram.
Puncaknya pada tahun 1628, VOC terpaksa angkat kaki dari Surabaya karena pusat administrasi mereka di Batavia sedang digempur habis-habisan oleh pasukan Sultan Agung. Rivalitas antara Mataram dan Belanda ini terus memanas hingga tahun 1645.
Aktivitas perdagangan di tepi Kali Mas Foto: Tropenmuseum |
Angin segar bagi VOC baru berembus kembali ketika Amangkurat I mengizinkan mereka membuka kembali kantor dagang di Surabaya. Posisi Belanda semakin di atas angin saat putra mahkota Mataram kalah dalam perjanjian diplomatik.
Kondisi ini memaksa Mataram menyerahkan hak dagang serta wilayah strategis, termasuk Surabaya, kepada VOC. Dinamika ekonomi Surabaya saat itu tidak hanya digerakkan Eropa, tetapi komunitas Arab dan Tionghoa yang sangat berpengaruh.
Di sana, berkembang pusat niaga di sisi timur Kalimas, yang kini kita kenal sebagai kawasan Religi Ampel dan Pecinan. Selanjutnya, Pemerintah kolonial Belanda membangun pemukiman Eropa di sisi barat sungai.
Tujuannya menghubungkan pusat-pusat ekonomi lintas etnis ini. Dibangunlah jembatan-jembatan ikonik seperti Jembatan Petekan, Merah, hingga Peneleh.
Sungai ini juga menjadi jalur utama kapal-kapal kecil dan perahu penarik (sloepen) untuk mengangkut komoditas perkebunan seperti gula, kopi, dan tembakau dari pedalaman Jawa Timur ke kapal-kapal besar di pelabuhan.
Pada kawasan jembatan merah, area ini menjadi pusat bisnis (Central Business District) di masa Hindia Belanda. Sepanjang pinggiran Kalimas dibangun gudang-gudang besar dan kantor pemerintahan yang hingga kini masih bisa kita lihat bangunan tua bersejarahnya.
Kali Mas Surabaya pada masa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda Foto: Tropenmuseum |
Lokasi Surabaya yang sangat strategis menjadikannya titik temu para pelayar dunia dari Timur ke Barat. Hal inilah yang membuat sungai ini dijuluki "Kalimas" atau sungai emas, karena perannya dalam mengangkut komoditas berharga seperti rempah-rempah dari pedalaman menuju pasar global.
Perubahan Terbesar Kalimas
Seiring berjalannya waktu dan masuknya abad ke-20, peran Kalimas mengalami pergeseran drastis. Pembangunan jalan raya dan jalur kereta api yang masif membuat transportasi sungai perlahan ditinggalkan karena dianggap kurang efisien.
Pada era pasca-kemerdekaan hingga awal tahun 2000-an, sungai ini sempat mengalami pendangkalan berat dan pencemaran akibat limbah industri serta pemukiman padat penduduk di bantaran sungai. Kalimas yang dulunya "emas" sempat berubah citra menjadi sungai yang kusam.
Revitalisasi dan Objek Wisata
Meski terdapat perubahan besar karena perkembangan zaman, jejak keemasan Kalimas masih bisa disaksikan melalui deretan bangunan bersejarah yang berdiri tegak di sepanjang alirannya.
Mulai Jembatan Gubeng, eks-Rumah Sakit Simpang, Gedung DPRD Surabaya, kemegahan Gedung Grahadi, hingga pusat kesenian di Taman Budaya Cak Durasim. Segala yang tercipta di sekitar Kalimas menjadi saksi bisu bagaimana sungai ini membentuk Surabaya menjadi kota metropolitan yang besar seperti sekarang.
Wisata Susur Perahu Kalimas Foto: Mira Rachmalia/ detikjatim |
Di bawah pengelolaan Pemerintah Kota Surabaya dalam dua dekade terakhir, Kalimas mengalami "Reborn" atau kelahiran kembali melalui program revitalisasi besar-besaran. Pinggiran sungai dibersihkan, diperdalam, dan dibangun taman-taman cantik (seperti Taman Ekspresi dan Taman Prestasi) yang dilengkapi dengan jalur pejalan kaki (jogging track).
Kini, warga bisa menikmati paket wisata menyusuri sungai menggunakan perahu di malam hari. Di sepanjang jalur wisata, sungai dihiasi dengan lampu-lampu lampion warna-warni dan video mapping di dinding bangunan tua.
Kalimas bertransformasi dari sekadar saluran air menjadi ruang publik dan destinasi wisata sejarah-budaya yang ikonik, menghubungkan masa lalu Surabaya sebagai kota pelabuhan dengan wajah masa depannya sebagai kota modern yang hijau.
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/dpe)




