Asal Mula Berdirinya Kampung Tengah Jalan Ahmad Yani Surabaya

Asal Mula Berdirinya Kampung Tengah Jalan Ahmad Yani Surabaya

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Rabu, 21 Jan 2026 17:15 WIB
Asal Mula Berdirinya Kampung Tengah Jalan Ahmad Yani Surabaya
Kampung Tengah Jalan Ahmad Yani Surabaya yang kini sudah rata dengan tanah. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Bagi warga Kota Pahlawan maupun para pelaju (commuter) yang setiap hari melintas dari arah Sidoarjo, Jalan Ahmad Yani bukan sekadar nama jalan. Kawasan ini adalah "gerbang utama" sekaligus denyut nadi tersibuk di Surabaya Selatan yang seolah tak pernah tidur.

Setiap pagi dan sore, ribuan kendaraan mulai dari roda dua hingga truk besar berebut ruang di aspal panas ini. Namun, di tengah hiruk-pikuk deru mesin dan percepatan pembangunan infrastruktur modern yang kian masif tersimpan sebuah cerita kehidupan yang unik.

Sebuah cerita tentang pemukiman yang "terjepit" di tengah jalan, yang mungkin selama ini luput dari pandangan mata pengendara yang terburu-buru mengejar waktu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga sekitar mengenalnya sebagai Kampung Tengah, atau secara administratif tercatat sebagai bagian dari wilayah Jemur Gayungan. Kampung ini memiliki riwayat panjang, berdiri kokoh di tengah himpitan modernisasi sebelum akhirnya rata dengan tanah.

Pembangunan proyek flyover (jalan layang) baru yang digagas pemerintah untuk mengurai simpul kemacetan abadi di kawasan tersebut, kini menjadi babak akhir bagi eksistensi kampung ini.

ADVERTISEMENT

Meski fisiknya telah tiada, menelusuri kembali asal-usul Kampung Tengah memberikan perspektif menarik tentang bagaimana wajah Kota Surabaya bertransformasi, dan bagaimana warganya beradaptasi dari masa ke masa.

Kampung Terjepit

Lokasinya sebenarnya sangat strategis, namun tersembunyi. Sebelum pembongkaran, posisi kampung ini berada persis di tengah-tengah dua jalur besar Jalan Ahmad Yani. Ia terhimpit di antara jalur yang mengarah ke Wonokromo (masuk kota) dan jalur yang mengarah ke Bundaran Waru (keluar kota).

Keberadaannya makin samar karena tertutup rimbunnya pepohonan dan ikon kawasan tersebut, yakni Taman Pelangi. Bagi pengendara yang melintas cepat, deretan rumah di sana mungkin hanya terlihat sebagai bayangan hijau yang menyatu dengan taman.

Padahal, di balik pepohonan itu, pernah ada denyut kehidupan warga yang berjalan normal layaknya perkampungan lain di Surabaya. Namun, isolasi geografis akibat jalan raya membuat kampung ini seolah menjadi "pulau" tersendiri yang terpisah dari daratan utamanya.

Terpisah Sejak Tahun 1974

Sejarah terbentuknya 'pulau' pemukiman ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami, melainkan dampak dari evolusi tata kota Surabaya puluhan tahun silam. Menurut Suliono, Ketua RT 01, RW 03, Jemur Gayungan yang menjabat pada 2022, kampung ini sejatinya sudah eksis jauh sebelum 1974.

Pada era sebelum 1974, lanskap Jalan Ahmad Yani sangat berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Kala itu, Kampung Tengah ini masih menyatu secara fisik dengan pemukiman warga yang berada di sisi barat jalan.

Akses lalu lintas pun belum sekompleks saat ini. Jalur dari arah Wonokromo ke Waru hanya dilayani satu akses Jalan Ahmad Yani di sisi timur. Lalu, perubahan drastis terjadi pasca tahun 1974.

Demi mengakomodasi volume kendaraan yang terus meningkat dari luar kota, pemerintah saat itu memutuskan membangun jalan baru di sisi barat. Jalan ini dikhususkan untuk menampung arus lalu lintas dari arah Sidoarjo yang hendak masuk ke jantung Kota Surabaya.

Pembangunan jalan baru inilah yang menjadi "gunting" raksasa bagi wilayah Jemur Gayungan. Kampung Jemur Gayungan I, yang dulunya membentang panjang dan menyambung hingga ke gang seberang, terpaksa terbelah.

Sebagian wilayahnya terpotong oleh aspal jalan raya, menyisakan segelintir rumah yang kemudian terisolasi di bagian tengah. Inilah cikal bakal mengapa kawasan itu kemudian dikenal sebagai Kampung Tengah, sebuah sisa pemukiman yang bertahan di tengah kepungan aspal.

Hidup di Tengah Kebisingan dan Getaran

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya tinggal di sebuah "pulau" yang dikelilingi lautan kendaraan bermotor. Berdasarkan penuturan Suliono, setidaknya ada sekitar 200 jiwa yang pernah menggantungkan hidup dan tinggal di Kampung Jemur Gayungan I tersebut.

Kehidupan warga di sana berjalan beriringan dengan polusi suara yang tak henti-hentinya. Mereka hidup "dijepit" dari segala penjuru. Di sisi kanan dan kiri, ada dua jalan utama Kota Surabaya yang selalu padat merayap, terutama di jam-jam sibuk.

Belum cukup dengan deru mesin kendaraan pribadi dan bus kota, warga juga harus akrab dengan getaran dari moda transportasi lain. Letak pemukiman yang sangat dekat dengan lintasan rel kereta api menambah daftar kebisingan yang harus mereka toleransi.

Suara klakson lokomotif dan gemuruh roda kereta yang melintas hampir setiap 30 menit sekali sudah menjadi makanan sehari-hari. Bagi orang awam yang baru pertama kali berkunjung mungkin akan sulit sekadar memejamkan mata.

Salah satu warga bahkan sempat mengeluhkan sulitnya beristirahat akibat kombinasi suara bising jalan raya dan kereta api. Namun, manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Karena sudah menjadi rutinitas puluhan tahun, sebagian besar warga akhirnya terbiasa. Mereka belajar untuk 'berdamai' dengan kebisingan, bahkan bisa tidur nyenyak di tengah hiruk-pikuk kendaraan.

Kondisi Kampung Tengah saat Ini

Kini, riwayat ketahanan warga Kampung Tengah menghadapi bisingnya kota telah mencapai titik akhir. Kepadatan kehidupan yang sempat terjepit di antara dua jalan protokol itu harus mengalah demi kepentingan umum yang lebih besar.

Kemacetan di Jalan Ahmad Yani, khususnya di titik temu dekat Taman Pelangi, sudah menjadi masalah kronis yang mendesak. Pemkot Surabaya mengambil langkah strategis dengan merencanakan pembangunan infrastruktur baru berupa jalan layang (flyover) yang akan melintang di atas kawasan itu.

Proyek ini mengharuskan sterilisasi lahan, yang berdampak langsung pada keberadaan Kampung Tengah. Rumah-rumah yang menjadi saksi bisu perkembangan Surabaya Selatan itu kini telah rata dengan tanah. Warga direlokasi, dan lahan bekas pemukiman mereka kini beralih fungsi menjadi area konstruksi.

Pembangunan flyover ini bukan tanpa target. Pemerintah menetapkan tenggat waktu pengerjaan yang cukup ketat, dengan harapan proyek ini dapat rampung sepenuhnya pada tahun 2027.

Jika nanti flyover ini berdiri kokoh dan arus lalu lintas di Ahmad Yani menjadi lancar, itu adalah buah dari transformasi tata kota yang "menelan" sejarah kecil bernama Kampung Tengah.

Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads