Galeri Majapahit Wali Lima, Kenalkan Sejarah Lebih Interaktif

Galeri Majapahit Wali Lima, Kenalkan Sejarah Lebih Interaktif

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Sabtu, 17 Jan 2026 23:30 WIB
Galeri Majapahit Wali Lima, Kenalkan Sejarah Lebih Interaktif
Galeri Majapahit Wali Lima (Foto: Eka Fitria Lusiana/detikJatim)
Surabaya -

Mempelajari sejarah Majapahit hingga Wali Lima tak lagi membosankan. Pasalnya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, menghadirkan Galeri Majapahit Wali Limo yang dikemas interaktif dan modern. Hal ini disampaikan langsung oleh Tiat Suwardi, Kepala Disperpusip Jatim.

Berangkat dari keinginan melestarikan manuskrip. Disperpusip berupaya untuk tidak hanya mengumpulkan arsip, tetapi juga bisa menyampaikan informasinya kepada masyarakat. Melalui Galeri Majapahit Wali Limo, pengunjung diajak untuk mengenal sejarah dengan berbagai animasi.

"Jadi awalnya itu kan kita melihat tupoksi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang pertama, antara lain ya, kita memiliki kewajiban melestarikan manuskrip atau naskah kuno termasuk juga kita terkait dengan arsip, ada perpustakaan dan kearsipan. Dari perpustakaan, antara lain kita harus melestarikan manuskrip itu sesuai dengan undang-undang mengenai perpustakaan," kata Tiat kepada detikJatim, Sabtu (11/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiat menjelaskan alasan memilih kedua tema sejarah tersebut sebagai konten galeri, karena melimpahnya peninggalan sejarah di Jawa Timur. Salah satunya Kitab Negarakertagama yang mendapat penghargaan dari Memory of the World dari UNESCO. Di sisi lain, Jawa Timur juga memiliki keterkaitan kuat dengan penyebaran Islam dari Wali Lima.

"Pertama temanya adalah Majapahit (dari kitab Negarakertagama). Kemudian yang kedua, Wali Lima itu ada di Jawa Timur. Selain itu juga di sisi lain kita melihat Jawa Timur itu dibandingkan provinsi lain ada kekunoan, jadi hal-hal terdahulu banyak. Misalnya pahlawan banyak dari Jawa Timur, alim ulama banyak dari Jawa Timur. Kemudian Majapahit, pahlawan juga sudah seperti itu. Kita kekunoan dan kekinian, jadi kita menggabungkan kekunoan dan kekinian kekunoannya itu nilai-nilai kebaikan dari yang sebelumnya," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Pengenalan sejarah dilakukan melalui permainan virtual, miniatur, maket candi peninggalan Majapahit, hingga gerabah khas periode zaman tersebut. Sedangkan, pada periode keislaman, para Wali Lima digambarkan melalui narasi dan maket jejak peninggalannya, lengkap dengan periode penyebaran Islam.

Inisiasi galeri sejarah modern ini berasal dari Gubernur Jawa Timur. Disperpusip kemudian melakukan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi. Proses persiapannya memakan waktu hampir tiga tahun. Galeri ini berhasil diresmikan pada 21 Mei 2025.

"Bu Gubernur itu memberikan ruang kepada kita untuk berinovasi. Tagline beliau itu adalah IKI: Inisiasi, Kolaborasi, Inovasi, jadi kita diberikan peluang untuk berinovasi, termasuk juga pada tahap perencanaannya. Di sana kita juga minta bantuan dari perguruan tinggi, termasuk untuk substansinya kita berkolaborasi. Jadi ada yang dari UNER, UNESA, UNESA UINSA Kemudian beberapa perguruan tinggi lain," Terang Tiat.

Pembelajaran edukatif berkonsep modern ini diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi pengunjung, baik dari dalam maupun dari luar daerah. Sehingga, pihaknya berharap nilai-nilai kebaikan dari sejarah masa lalu dapat tersampaikan kepada semua generasi.

"Masih banyak nilai-nilai secara Nasional yang timbul di masa Majapahit, seperti misalnya Bhinneka Tunggal Ika, Burung Garuda, Bendera Merah Putih, seperti itu, waktu itu di awal Bu Gubernur yang menyampaikan. Kemudian juga ini bagi penyebaran Islam secara damai. Itu yang ingin kita sampaikan," tutur Tiat.

Melalui animasi modern ini, Tiat berharap Galeri Majapahit Wali Lima mampu mendorong masyarakat untuk berkunjung. Ia juga ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa perpustakaan tidak hanya berisi buku saja.

"Jadi perpustakaan kita, TPBIS (Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial). Jadi masyarakat datang tidak hanya melihat, membaca buku saja, tapi bisa melengkapkan pengetahuan, keterampilan, jadi pelatihan dan sebagainya. Seperti itu, jadi kita buat berbagai pra-sarananya yang menarik.

Padahal berat isinya kan berat (seperti sejarah Majapahit dan Wali) nanti disebutkan apa petuah-petuah dari para wali, kemudian kerajaan dan sebagainya. Jadi disampaikan dengan menyenangkan santai misalnya seperti itu," sambung Tiat.

Pihaknya berharap, Galeri Majapahit Wali Lima ini mampu menjadi pembelajaran sekaligus mengenalkan nilai-nilai baik peninggalan masa lalu. Selain itu juga diharapkan dapat menggugah minat dan kesadaran kepada generasi selanjutnya.

"Harapannya tentu ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Jawa Timur, untuk pembelajaran untuk berliterasi seperti itu mengenali nilai-nilai yang baik peninggalan masa lampau. Terutama di tengah kondisi saat ini boleh dong kita mengambil di sisi yang tidak banyak tapi itu bisa sebagai alternatif hiburan atau baca sekaligus menggugah ya terutama itu menggugah generasi muda," pungkasnya.

Selain pengenalan sejarah dari Galeri Majapahit Wali Lima. Disperpusip juga menghadirkan batik asli dari Trowulan. Melalui karya batik ini, Disperpusip mendorong UMKM Trowulan mampu menghadirkan motif-motif baru dari peninggalan sejarah.

Disperpusip ini turut dilengkapi dengan gazebo literasi, layanan anak, perpustakaan yang luas, ruang baca bagi inklusi, ruang dongeng, pojok tematik, dan masih banyak lagi.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads