Sejumlah gereja sudah bersiap-siap menyambut Natal 2025. Tak terkecuali Gereja Immanuel atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja Merah di Kota Probolinggo.
Gereja peninggalan era kolonial Belanda ini merupakan salah satu gereja cagar sejarah. Bangunan yang didirikan pada tahun 1862 itu hingga kini masih difungsikan sebagai rumah ibadah.
Gereja yang berada di Jalan Suroyo Nomor 32, Kota Probolinggo ini punya warna yang khas serba merah. Tak heran, orang-orang kerap menyebut sebagai gereja merah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gereja Merah dibangun dengan sistem knock down atau bongkar pasang, sesuatu yang tergolong langka pada masanya. Sekitar 80 persen lebih material bangunan gereja ini terbuat dari besi baja dan seng. Sementara sisanya menggunakan kayu jati.
Bangunan berukuran 12 x 30 meter tersebut memiliki dinding dari seng tebal, tiang penyangga dari besi baja, serta rangka atap dari besi yang disambung menggunakan baut.
Meski telah berusia lebih dari satu abad, kondisi Gereja Merah masih terawat dengan baik. Tidak tampak kerusakan serius maupun karat pada bagian bangunan.
Seluruh kaca jendela dengan ukiran simbol-simbol kekristenan seperti salib, trinitas, dan Roh Kudus masih asli sejak pertama kali dibangun.
Gereja Immanuel atau Gereja Merah Kota Probolinggo Foto: M Rofiq/detikJatim |
Tak hanya bangunannya, sejumlah perlengkapan ibadah di dalam gereja juga masih asli peninggalan Belanda. Mimbar pendeta dan bejana pembaptisan belum pernah dipugar. Bahkan, peralatan sakramen berupa cawan, teko, dan sloki dari bahan kuningan buatan tahun 1868 masih digunakan hingga kini.
Gereja Merah juga menyimpan Alkitab berbahasa Belanda kuno dengan sampul berbahan kulit yang dibuat pada tahun 1618 hingga 1619. Meski beberapa bagian tampak usang dan robek, kitab tersebut masih terawat dan menjadi bagian penting dari sejarah gereja.
Pengurus Gereja Merah, Lis Karsten, menjelaskan bahwa pembangunan gereja ini berawal dari kebutuhan tempat ibadah bagi staf perkebunan dan pabrik gula pada masa kolonial Belanda.
"Karena waktu itu mereka harus beribadah ke Pasuruan, sementara di Probolinggo belum ada tempat ibadah. Akhirnya mereka meminta kepada residen setempat untuk mendirikan gereja," kata Lis. Rabu (23/12/2025).
Saat pembangunan, material gereja dipesan dari pabrik lokomotif di Jerman dan diangkut menggunakan kapal laut selama sekitar enam bulan hingga tiba di Probolinggo.
Untuk mencegah korosi, bangunan dicat dengan warna merah terakota, yang kemudian menjadi ciri khas Gereja Merah. Gereja ini diresmikan pada 20 Juli 1863 dengan nama resmi Immanuel.
Gereja Immanuel atau Gereja Merah Kota Probolinggo Foto: M Rofiq/detikJatim |
Menjelang perayaan Natal 2025, berbagai persiapan mulai dilakukan, seperti menghias pohon Natal dan latihan paduan suara. Salah satu jemaat, Leonar, mengaku bangga bisa beribadah sekaligus terlibat dalam pelestarian gereja bersejarah tersebut.
"Saya bangga bisa beribadah di sini dan ikut melestarikan Gereja Merah. Keunikannya dari warna, sistem bangunan, hingga sejarahnya membuat gereja ini layak dikenal lebih luas," katanya.
Gereja Merah mampu menampung sekitar 200 jemaat. Pada perayaan Natal tahun ini, gereja yang telah berusia 163 tahun tersebut tetap digunakan sebagai tempat ibadah, sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kota Probolinggo.
(auh/abq)













































