Gedung Singa Surabaya Ternyata Dijaga Jaguar Bersayap yang Sarat Simbol

Urband Legend

Gedung Singa Surabaya Ternyata Dijaga Jaguar Bersayap yang Sarat Simbol

Jihan Navira - detikJatim
Kamis, 18 Des 2025 19:35 WIB
Gedung Singa Surabaya
Patung singa di Gedung Singa Surabaya yang sebenarnya ternyata jaguar. Simak penjelasannya. (Foto: Jihan Navira/detikJatim)
Surabaya -

Di balik fasad kokoh Gedung Singa Surabaya, dua patung di bagian depan kerap mencuri perhatian warga. Banyak yang mengira itu singa. Namun anggapan tersebut ternyata keliru hingga menjadi nama bangunan sejak proses nasionalisasi oleh Presiden Soekarno kala itu.

Bentuknya menyerupai singa, namun bersayap, dengan mimik wajah yang berbeda, satu tampak muram, satu lagi seperti menahan amarah.

Peneliti heritage atau sejarah arsitektur asal, Belanda Petra Timmer mengaku keheranan mengapa patung ini disebut singa oleh warga Surabaya, padahal sepemahaman dia ini adalah patung jaguar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu bukan singa. Hewan itu adalah jaguar. Kadang juga disebut macan tutul, leopard, atau panther. Ini terinspirasi dari tradisi Assyrian dari Assyria, tapi banyak juga yang menganggap ini dari Mesir, meskipun mereka hampir mirip," ujar Petra yang tanpa direncanakan bertemu detikJatim saat menikmati arsitektur gedung itu, Rabu (17/12/2025).

Patung itu merupakan karya seniman Belanda Joseph Mendes da Costa, yang mendapat komisi khusus saat gedung ini dibangun pada 1902. Tak banyak yang tahu, patung itulah kunci untuk membaca pesan simbolik yang ditanamkan sejak bangunan ini didirikan lebih dari seabad lalu.

ADVERTISEMENT

Jaguar-jaguar itu digambarkan bersayap, sebuah elemen yang tidak hadir tanpa alasan. Petra menyebut sayap yang diberikan kepada dua patung tersebut menjadikannya sakral. Dalam tradisi kuno Asyur yang menjadi rujukan simbolik dari karya ini adalah makhluk bersayap kerap ditempatkan sebagai penjaga ruang penting.

Makna simbol itu semakin kuat jika dikaitkan dengan fungsi awal gedung serta sosok arsiteknya, Hendrik Petrus Berlage yang dikenal sebagai Bapak Arsitektur Modern Belanda.

Menurut Petra, Berlage memiliki gagasan sosial yang progtresif. Ia mengkritik kapitalisme yang menindas dan mencoba menyalurkan pemikirannya melalui karya arsitektur dan kolaborasi seni.

Gedung Singa SurabayaGedung Singa Surabaya Foto: Jihan Navira

"Karena ini bangunan asuransi, maknanya adalah bahaya telah dijinakkan. Jadi, makna perlindungan finansial di gedung ini yaitu perlindungan agar orang tetap bisa hidup layak ketika kehilangan sosok pencari nafkah. Namun di balik itu, juga tersimpan pula makna yang lebih filosofis dan kritis terhadap kolonialisme," kata Petra.

Petra juga menunjukkan bagaimana di antara sayapnya, jaguar-jaguar tersebut digambarkan terikat pada bangunan. Tidak lagi liar, namun kedua jaguar tersebut tetap memiliki aura sakral.

Senada namun sedikit berbeda, peneliti sejarah dari KOmunitas Begandring Kuncarsono Prasetyo menyebut bahwa kedua patung hewan tersebut merupakan makhluk mitologi Yunani.

"Patung yang selama ini populer disebut 'singa' sejatinya bukan singa dalam pengertian harfiah. Dalam tradisi arsitektur klasik, figur singa kerap ditempatkan di bangunan penting sebagai lambang proteksi dan keamanan," tutur Kuncarsono atau yang akrab disapa Kuncar.

Penempatan simbol tersebut berkaitan langsung dengan fungsi awal gedung sebagai kantor asuransi. Pada masa itu, bangunan ini digunakan oleh perusahaan asuransi kolonial yang kini bertransformasi menjadi bagian dari BUMN, dari Jiwasraya hingga sekarang dikelola IFG Life.

"Asuransi itu maknanya menjaga, menjaga kehidupan para nasabahnya. Maka simbol penjaga ditempatkan di depan," jelas Kuncar.

Kuncar juga memperhatikan bagaimana kedua ekspresi patung yang tidak ditampilkan dalam ekspresi ramah atau tersenyum. Salah satu singa digambarkan cemberut, sementara yang lain tampak marah. Kuncar menyebut ekspresi tersebut bukan kebetulan.

Terkait penyebutan 'Gedung Singa' oleh masyarakat lokal, Kuncar mengatakan alasan di balik penamaan gedung ini sebagai Gedung Singa adalah masyarakat pada saat itu tidak bisa membedakan antara singa, macan, harimau, dan jaguar. Hanya karena berbentuk kucing besar, akhirnya disebutlah Gedung Singa.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads