Menjelang peringatan hari jadi Trenggalek, tradisi penjamasan pusaka selalu menjadi agenda utama yang sarat makna. Prosesi ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, sekaligus upaya merawat warisan budaya daerah.
Setiap tahunnya, jamasan pusaka dilaksanakan beberapa hari sebelum puncak perayaan hari jadi Trenggalek. Ritual ini tidak hanya menjaga keaslian dan kelestarian pusaka, tetapi juga menegaskan identitas budaya masyarakat Trenggalek.
Dengan pembersihan benda-benda pusaka, doa bersama, hingga kirab menuju pendapa kabupaten, tradisi jamasan menjadi momen sakral yang menghubungkan generasi kini dengan sejarah panjang berdirinya Trenggalek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rangkaian Prosesi Jamasan Pusaka
Dirangkum dari pemberitaan detikJatim dan website Pemkab Trenggalek, tradisi jamasan umumnya diawali dengan selamatan di tempat penyimpanan pusaka di pendapa kabupaten.
Pusaka-pusaka penting, termasuk Prasasti Kamulan, keris, tombak, payung pusaka, panji kabupaten, dan pusaka pemberian Keraton Yogyakarta, dikeluarkan dari tempat penyimpanan khusus.
Selanjutnya, dilakukan pembersihan pusaka menggunakan air kembang, minyak khusus, atau bahan alami lain yang dipercaya mampu menyucikan dan mencegah karat. Prosesi ini dipimpin langsung Bupati Trenggalek bersama tokoh adat dan Forkopimda.
Dalam jamasan tahun 2023, misalnya, dilakukan pembersihan Prasasti Kamulan dan tujuh pusaka utama, termasuk Tombak Korowelang, Songsong Tunggul Nogo, dan dua pusaka baru pemberian Sri Sultan Hamengkubuwono X, yaitu Tombak Wignyo Murti dan Songsong Ayomsih.
Usai prosesi pembersihan, seluruh pusaka dibawa ke Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, untuk diinapkan semalam. Desa ini dipilih karena di sinilah Prasasti Kamulan ditemukan, yang menjadi dasar penetapan hari jadi Trenggalek.
Pada malam harinya, biasanya digelar doa bersama dan tahlil. Keesokan harinya, pusaka akan dikirab menuju Pendapa Manggala Praja Nugraha sebagai bagian dari prosesi puncak peringatan hari jadi Trenggalek. Arak-arakan pusaka diiringi bergodo atau pasukan pembawa panji, sekaligus menjadi ajang syiar budaya.
Rangkaian prosesi jamasan pusaka itu berdasarkan tradisi pada tahun-tahun sebelumnya. Rangkaian kegiatan pada tahun ini bisa saja mengalami variasi atau berubah menyesuaikan kebijakan pemerintah daerah atau panitia penyelenggara.
Makna Tradisi Jamasan Pusaka
Makna dari penjamasan pusaka jauh lebih dalam daripada sekadar membersihkan benda bersejarah. Proses ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur Trenggalek, sekaligus pengingat akan nilai-nilai dan perjuangan mereka dalam membangun serta memajukan daerah.
Setiap pusaka yang dijamas diyakini menyimpan energi positif dan sejarah yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi sekarang untuk menjaga tradisi dan budaya lokal. Selain itu, harapan dari tradisi ini adalah agar semangat dan keteladanan para pendahulu terus hidup di hati masyarakat.
Penjamasan pusaka juga dianggap sebagai doa agar Trenggalek tetap aman, makmur, dan warganya senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, tradisi ini bukan hanya ritual simbolis, tetapi juga media untuk menanamkan kesadaran budaya dan spiritual di tengah perkembangan zaman.
Rangkaian Hari Jadi ke-831 Trenggalek
Rangkaian Hari Jadi ke-831 Trenggalek akan digelar pada 29-31 Agustus 2025 dengan berbagai acara tradisi, mulai dari jamasan pusaka, ziarah makam leluhur, doa bersama, hingga kirab pusaka dan prosesi peringatan. Berikut rangkaian lengkap acaranya, dirangkum dari Instagram Pemkab Trenggalek.
Jumat 29 Agustus 2025
- Jamasan Pusaka
- Bedhol pusaka bupati
- Bedhol pusaka kabupaten
Sabtu 30 Agustus 2025
- Ziarah makam tokoh pendahulu Trenggalek
- Istigosah
- Doa bersama
- Tahlilan
- Macapatan
Minggu 31 Agustus 2025
- Pemberangkatan kirab pusaka
- Bedhol pusaka Yogyakarta dan Empat Tombak Korowelang
- Kirab pusaka
- Prosesi peringatan hari jadi Trenggalek
- Wayangan
(hil/irb)