Melihat Siyami, Perajin Tenun Suku Osing Satu-satunya di Banyuwangi

Melihat Siyami, Perajin Tenun Suku Osing Satu-satunya di Banyuwangi

Ardian Fanani - detikJatim
Rabu, 14 Sep 2022 12:39 WIB
pengrajin tenun osing
Siyami, perajin tenun Suku Osing Banyuwangi/ Foto: Ardian Fanani/detikJatim
Banyuwangi -

Jawa Timur dikenal sebagai provinsi yang memiliki beragam budaya. Salah satunya batik khas tiap daerah. Selain batik, sebagian kota/kabupaten di Jawa Timur juga memiliki kain tenun.

Seperti Banyuwangi yang punya kain tenun khas Suku Osing. Mereka menyebutnya kain jarit. Kain ini menjadi simbol bagi kehidupan warga Suku Osing.

Kain jarit itu sangat diburu orang. Terlebih, penenun yang bertahan diketahui tinggal satu orang, yakni Siyami (70), warga Dusun Delik 1, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi.

"Kalau sepengetahuan saya, tidak ada lagi yang mau belajar tenun. Sebenarnya ingin ada yang meneruskan. Takut punah saya," kata Siyami kepada detikJatim, Minggu (11/9/2022).

pengrajin tenun osingSiyami membuat tenun Suku Osing/Foto: Ardian Fanani

Kain tenun itu dia bikin masih dengan menggunakan alat tradisional. Lantas, alat itu diletakkan di sebuah dipan yang sudah dimodifikasi.

Siyami tampak teliti memilah satu per satu benang yang melintang di hadapannya. Sambil menarik dan mendorong tuas kayu, Siyami menceritakan jika menenun kain jarit sudah dilakukanya selama puluhan tahun.

"Dulu ada 7 orang. Mulai dari ibu, Mbah sama beberapa tetangga. Sekarang kok tinggal saya saja ya. Anak sekarang tidak mau belajar ini. Katanya rumit," jelasnya.

Menenun jarit sendiri sudah menjadi warisan untuknya dari ibu dan neneknya. Keduanya juga seorang penenun kain jarit.

"Kalau dulu Mbah sama emak bisa membuat banyak jenis jarit. Seperti jarit solok, jarit boto lumut, tapi sekarang saya cuma membuat jarit keluwung. Karena mata saya sudah tidak kuat," keluhnya.

Menurut Siyami, menenun memang rumit. Perlu ketelatenan dalam memintal benang dan memadukan warna. Jika salah satu benang saja, itu bakal merusak corak dari tenun yang dibuat.

"Habis ditenun lalu dicuci, kemudian dijemur. Baru setelah itu dijual. Biasanya pembelinya dari daerah Kemiren, tapi mulai ada orang luar kota seperti Surabaya," tuturnya.

Kini, Siyami harus berjuang untuk mempertahankan kekayaan budaya dari Banyuwangi itu. Dia pun tampak masih sabar dan bersemangat untuk melanjutkan menenun.



Simak Video "Diduga Hina Batik, Pendukung Sayap Kanan Inggris Tuai Kecaman"
[Gambas:Video 20detik]
(hse/sun)