Mengenal Sayuti Melik yang Mengetik Teks Proklamasi

Dina Rahmawati - detikJatim
Senin, 15 Agu 2022 15:20 WIB
Naskah asli teks proklamasi yang ditulis Sukarno tiba di Istana Merdeka. Naskah akan dihadirkan dalam upacara detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Naskah asli Teks Proklamasi/Foto: Dok. Kris-Biro Pers Sekretariat Presiden
Surabaya -

Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan hasil kerja keras para pejuang. Selain Ir Soekarno dan Mohammad Hatta, ada sejumlah tokoh lain yang ikut berperan. Salah satunya adalah Sayuti Melik yang bertugas mengetik teks proklamasi.

Sayuti Melik atau Mohamad Ibnu Sayuti lahir pada 22 November 1908 di Sleman, Yogyakarta. Sayuti Melik merupakan anak dari pasangan Abdul Muin alias Partoprawito dan Sumilah. Sejak kecil, Sayuti Melik sudah diajarkan sikap nasionalisme oleh ayahnya.

Mengutip dari situs resmi DKI Jakarta, Sayuti Melik memulai pendidikannya di Sekolah Ongko Loro atau setara dengan Sekolah Dasar (SD) di Desa Srowolan. Pada 1920, Sayuti Melik melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru di Solo. Namun, pendidikannya harus terputus karena ditangkap Belanda usai dicurigai tergabung dalam kegiatan politik.

Pada 1926, Sayuti Melik dituduh Belanda membantu PKI hingga akhirnya dibuang ke Boven Digul sampai tahun 1933. Sayuti Melik juga ditangkap Inggris pada 1933 dan dipenjara di Singapura selama setahun. Usai diusir dari wilayah Inggris, Sayuti Melik kembali ditangkap oleh Belanda dan ditahan di sel Gang Tengah pada 1937-1938.

Setelah bebas dari tahanan, Sayuti Melik bertemu dengan Soerastri Karma Trimurti dalam kegiatan pergerakan bersama. Pada 19 Juli 1938, keduanya memutuskan untuk menikah.

Sayuti Melik bersama istrinya kemudian mendirikan Koran Pesat di Semarang. Pasangan itu mengurus berbagai pekerjaan bersama. Mulai dari urusan redaksi, percetakan, distribusi, hingga langganan koran.

Akibat tulisan yang mengkritik pemerintah Hindia Belanda, Sayuti Melik dan SK Trimurti bergantian keluar masuk penjara. Tahun 1939-1941, Sayuti Melik dipenjara di Sukamiskin, Bandung, atas tindakan delik pers.

Pada masa kependudukan Jepang tahun 1942, Koran Pesat dibubarkan oleh pemerintah Jepang. Sayuti Melik juga kembali dipenjara karena dituduh menyebarkan selebaran PKI.

Menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sayuti Melik dibebaskan. Sayuti Melik turut berperan dalam penyusunan teks proklamasi kemerdekaan di rumah Laksamana Maeda.

Mengutip dari buku Sejarah Museum Perumusan Naskah Proklamasi (1990) yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, teks proklamasi diserahkan ke Sayuti Melik untuk diketik pada tanggal 17 Agustus 1945 dini hari.



Simak Video "Naskah Asli Teks Proklamasi Dikembalikan Setpres ke Arsip Nasional RI"
[Gambas:Video 20detik]