Mengenal Gombloh di Hari Musik Nasional

Mengenal Gombloh di Hari Musik Nasional

Tim DetikJatim - detikJatim
Rabu, 09 Mar 2022 19:12 WIB
Monumen Gombloh di surabaya
Monumen Gombloh di Surabaya/Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya -

Nama aslinya Sujarwoto Sumarsono, namun orang lebih mengenalnya sebagai Gombloh. Pria yang lahir pada 12 Juli 1948 ini adalah salah satu seniman dan musisi kondang yang pernah dimiliki Indonesia.

Gobloh dilahirkan di Dusun Tawangsari, Jombang. Namun sebagian besar masa remajanya dihabiskan di Surabaya. Gombloh merupakan anak ke-4 dari 6 bersaudara.

Kedua orang tua Gombloh adalah Slamet dan Patoekah. Kedua orang tuanya sehari-hari adalah penjual ayam di pasar Genteng, tepatnya di Jalan Genteng Sambongan Surabaya.

M Yunus Priambodo dalam jurnalnya berjudul "Perjalanan Gombloh dalam Panggung Musik Indonesia Tahun 1969-1988" yang diterbitkan Avatara Unesa, karir musik Gombloh tidaklah semulus yang dibayangkan.

Yunus mencatat keinginan untuk menjadi seniman dan musisi ini sempat tak direstui oleh orang tuanya. Sebab ayahnya lebih menginginkan Gombloh menjadi seorang arsitek.

Demi keinginannya itu, orang tuanya bahkan sempat memasukkan Gombloh kuliah di Institue Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS). Namun tak sampai satu semester, Gombloh harus Drop Out (DO) karena tak pernah masuk kuliah.

"Gombloh sebenarnya lebih berminat untuk masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ), namun karena Slamet sangat menginginkan salah satu anaknya untuk dapat menjadi seorang arsitek, Gombloh akhirnya menuruti apa kata ayahnya dan mendaftar di Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya," tulis Yunus, Rabu (9/3/2022).

Usai DO dari kuliahnya, lanjut Yunus, Gombloh sempat kabur ke Bali. Di sana, Gombloh bermain musik di bar dan restoran serta mengamen dari hotel ke hotel. Yunus menyebut Gombloh memulai karir musik profesional dengan membentuk kelompok musik The Lemon Tree's Anno '69.

"Tahun 1969 bersama Leo Imam Sukarno, Gombloh membentuk Grup musik profesional pertama dalam sejarah kariernya di panggung seni musik Indonesia. Lemon Tree's Anno 69 merupakan sebuah kelompok folk paling populer di Surabaya," tulis Yunus, Rabu (9/3/2022).

Lepas dari kelompok musiknya, Gombloh kemudian merintis solo karir pada tahun 1983. Saat itu, Gombloh merilis album bertajuk "Gila". Dalam karir solonya ini, Gombloh mulai mengrang lagu-lagu pop ringan remaja tentang kisah cinta remaja.

Menurut Yunus, musik yang dihasilkan Gombloh selama solo karirnya memang sangat berbeda dengan saat masih bersama kelompoknya di Lemon Tree's Anno 69. Saat bersolo karir ini, nama Gombloh semakin populer.

"Lagu-lagu pop ringan ini malah semakin membuat nama Gombloh lebih tenar dalam kancah musik nasional daripada sebelumnya," jelas Yunus.

"Sejak mengeluarkan album bertajuk Gila pada tahun 1983 di bawah bendera Nirwana Records, nama Gombloh lebih populer dibanding sebelumnya dan berkat album itu pula, remaja penggemar musik pun mengenal nama Gombloh," imbuh Yunus.

Kepopuleran Gombloh ternyata tak membuat dirinya lupa daratan. Ia masih sma dengan dirinya yang seperti dahulu dengan tampil bersahaja dan tetap tinggal di Surabaya.

"Ketika ditawari untuk hijrah ke Jakarta agar bisa lebih terkenal lagi Gombloh menyatakan sikap untuk tetap di Surabaya. Gombloh beralasan bahwa ia tidak ingin didikte oleh cukong-cukong industri musik di Glodok, Jakarta," jelas Yunus.

Gombloh meninggal pada 9 Januari 1988 di Surabaya karena sakit paru-parunya yang diidapnya. Ia kemudian dimakamkan di pemakaman Tembok Dukuh.

Meski telah meninggal, namun karya-karya Gombloh masih berkibar serta dikenang hingga saat ini seperti Berita Cuaca, Kugadaikan Cintaku dan Kebyar-kebyar.



Simak Video "Taruna Poltekpel Surabaya Tewas Diduga Dianiaya Senior, Ekshumasi Digelar"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/sun)